Teman Ranjang

Teman Ranjang
Bab 31


__ADS_3

Kevin terlihat fokus dengan map berisi berkas yang diserahkan oleh orang suruhannya untuk menyelidiki tentang kecelakaan Selin. Lelaki itu tak menemukan kejanggalan apapun. Namun yang mengusiknya adalah hingga kini jejak Handphone milik Selin tak jua ditemukan. Semuanya nampak masih penuh misteri, membuat Kevin merasa jika penyelidikan ini sia-sia.


" Saksi Di TKP bilang jika Selin masih menggunakan headset saat diselamatkan warga. Kemungkinan jika Handphone korban jatuh memang sangat besar "


Kevin hanya terdiam tanpa berniat membalas ucapan Bram yang merupakan seorang detective bayaran. Meski begitu, kini otaknya fokus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi perihal hilangnya handphone Selin.


setelah kepergian Bram , Kevin melempar asal Map yang tadi diamatinya dengan teliti, entah kenapa begitu sulit baginya untuk mengurangi perasaan khawatir akan keselamatan Meyra. Jika ingin berpikir Logis, tentu saja Dia seharusnya tidak perlu melakukan semua ini ? lagian. Hubungannya dengan Meyra hingga kini pun masih tampak abu-abu.


Ketika sibuk merutuki diri dan berperang dengan perasaannya sendiri, pikiran Kevin malah teralih ke sosok Roby. Entah kenapa Dia penasaran sekaligus khawatir akan Sahabatnya itu. Mengingat kejadian semalam Kevin berinisiatif untuk menemui Roby, tentu saja sekalian mengembalikan mobil yang semalam dibawanya.


Rumah Roby nampak lengang. Ketika Bel ditekan, Kevin dikagetkan dengan sosok Dirga yang menepuk bahunya. Entah sejak kapan papa dari Roby itu berada dibelakangnya.


" eh Om darimana ? "


Kevin berbalik dan menunduk sopan menyambut sosok Dirga.


Dirga tak menjawab , dan malah menyiapkan kursi untuk Kevin


" Silahkan duduk Vin ! kamu nggak keberatan kan, jika kita disini aja ngobrolnya ?"


Kevin pun mengikuti Dirga yang telah duduk disalah satu kursi teras rumahnya, Kevin sengaja mengatur kursinya agar duduk berhadapan langsung dengan Dirga.


" Sebelum Om cerita. Kamu mau berjanji kan. Jika apa yang kamu ketahui tentang Roby ini. Nantinya akan kamu simpan sebagai suatu rahasia yang tak akan kamu ungkapkan ke orang lain. Walau dengan orang tuamu sekalipun."


Pria yang masih gagah dan penuh wibawa itu terlihat menghirup nafas panjang , sebelum melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


" Roby jadi korban kekerasan seksual.." Dirga sengaja men jeda ucapannya untuk melihat reaksi Kevin. Namun Rupanya pemuda didepannya ini pandai mengendalikan emosi lewat wajahnya.


" Usianya baru 15 tahun waktu itu ! Ketika saya menjemput Roby , setelah Guru disekolah memberi tahu kondisi Roby yang kata mereka berkelahi dengan teman kelas.Tapi Saya paham, Reaksi yang ditunjukan Roby , persis dengan apa yang dialami adik saya. Yang merupakan korban pemerkosaan."


Dirga nampak menerawang jauh, mengingat setiap detik yang berusaha ia lupakan.


" Saya memilih tak mengungkapkan kecurigaan saya, Roby saya bawa pulang kerumah. Dan pada saat itu saya memutuskan jika apa yang terjadi biarlah menjadi rahasia kami orang tuanya. Tanpa melibatkan sekolah maupun polisi, kami melakukan penyelidikan secara pribadi. Dan Dugaan saya ternyata benar. Anak saya satu-satunya . Kini telah hancur masa depannya !"


Kevin melihat mata tua itu nampak berkaca-kaca. Kevin seolah tahu jika dengan ini dia telah membuka luka lama orang tua Roby. Tapi rasa penasaran akan sebab Trauma dan hubungannya dengan pertemuannya dengan Roby semalam harus segera ia ketahui.


" Roby memang dilecehkan. Namun bukan oleh seorang pedofil . Tapi .."


Kevin berusaha menguatkan Dirga dengan mendekatinya. Menyentuh bahu pria itu dengan harapan bisa mentransfer kekuatan.


" Jika Om belum siap. Maka jangan paksakan. " Kevin berucap bijak,


Dirga meletakkan Map yang sedari tadi dibawanya dihadapan Kevin. " Buka dan temukan sendiri inti dari cerita om tadi. Om siap mendampingi kamu dan bersama-sama kita akan memenjarakan para bedebah ini .."


Kevin yang penasaran akan isi dari map merah dari Dirga dengan segera membukanya, Namun Dirga malah kembali menutupnya, Setelah melihat jam ditangannya Dirga membuka suaranya. " Om ada urusan. Sebaiknya kamu bawa dan baca di rumah. Soal mobil, kamu bisa bawa lagi jika kamu mau "


Kevin berdiri ketika Dirga hendak melangkah , dengan cepat dia mengembalikan Kontak mobil ke tangan Dirga " Makasih Om. Aku bisa pesan taksi kok."


Kevin menunduk Hormat, Dirga menyambutnya dengan senyum dan anggukan .


***

__ADS_1


Kevin memilih Duduk di balkon kamar . Secangkir teh yang masih hangat menemani kesendiriannya. Dibukanya perlahan Map yang diberikan oleh Ayahnya Roby tadi. Ketika lembaran pertama dibuka, Kevin tahu jika ini rekam Medis Atas Nama Roby Argantara.


Dia nampak mengernyit heran, dipikirannya tadi Dirga akan memberikannya sebuah dokumen yang lebih mirip diary. tapi nyatanya, Sesuatu yang harus membuat otaknya bekerja keras jika ingin mengerti .Meski Ragu , Kevin Tetap membaca setiap detail kata maupun kalimat yang tertulis, ditengah kebingungannya tangannya tetap saja membalik lembaran yang cukup tebal itu hingga selesai.


Kevin yang masih sangat awam dengan istilah istilah kedokteran akhirnya memutuskan untuk berkonsultasi secara khusus pada psikolog, tentu saja dengan menutup identitas Roby sebagai pasien.


Setelah mendapat rekomendasi dari dokter keluarganya . Kevin segera menuju ke alamat yang telah dijanjikan.


" Pasien ini memiliki Riwayat PTSD( post-traumatic stress disorder) Atau gangguan stress pasca trauma."


Kevin mengamati pejelasan Dokter, yang kini tengah membaca rekam medis milik Roby. "Disini juga dijelaskan jika orang ini merupakan korban kekerasan seksual. Namun tidak ada perincian khusus tentang seperti apa kekerasan yang terjadi.."


" Apakah korban ini akan bisa mengalami kondisi seperti orang yang mengigil dan tak sadar diri Dok ? Jika seperti itu kira -kira penyebabnya apa ya Dok ? "


Pria berseragam itu nampak berpikir " berarti kondisinya sudah Ke RTS (Rape trauma syndrom) turunan dari PTSD. kondisi ini akan terjadi jika berhubungan dengan sesuatu atau seseorang yang berkaitan erat dengan Trauma korban. Bisa jadi korban kembali teringat dan seolah mengalami lagi hal yang seharusnya dia lupakan."


Kevin nampak merenung, seingatnya jika tentang **** Roby bisa jadi adalah pecandu. Lelaki itu bahkan pernah menjajal profesi gigolo. Jadi kekerasan seperti apa yang bisa membuat Roby seperti ini ?


" korban ini seperti tak terpengaruh dengan ****. Bahkan bisa dibilang penjajal Dok ? Apa ada kemungkinan jika Dia bukan korban kekerasan s*ksual?" Kevin akhirnya mengemukakan apa yang ada dipikirannya.


"Kamu yakin Vin ! Berarti kasus temanmu ini sudah sangat memprihatinkan. Bisa saja dia sudah ditahap Disosiasi, yang berdampak korban menjadi berkepribadian ganda. kalau saya tahu hal seperti apa yang terjadi sebenarnya. Mungkin saya bisa membantu.."


Kevin nampak tak bisa berkata-kata. Dokter itu nampak sangat khawatir dan ingin tahu sosok korban sebenarnya. Jika se darurat ini kondisi Roby. Lantas kenapa Dirga yang merupakan Ayahnya seolah tak perduli ? Dan kenapa ini menjadi ada hubungannya dengan dirinya.


" Sayangnya saya benar-benar tidak bisa memberitahu Anda Dok ? Karena jujur saja , saya bahkan belum tahu kasus pelecehan seperti apa yang dialami teman saya ini. ."

__ADS_1


Kevin menjabat tangan sang dokter, kemudian Pamit.


Sepertinya begitu banyak misteri yang harus diselesaikan.


__ADS_2