
Kevin mengikuti Stella yang menggandeng nya ke arah mobil. Gadis itu menampilkan senyum senang sedari tadi, Kevin tahu jika Stella senang karena telah membuat Meyra merasa marah, dan jujur saja dia benci dengan situasi ini. ekspresi Stella malah menambah rasa kesal dan jengkel dihatinya.
" Kenapa seperti ini ? tingkah Lo bener-bener kekanakan Stell."
Tak tahan lagi Kevin akhirnya bersuara. " Gue rasa semuanya sudah gue buktikan sama Lo. Tapi agaknya tujuan Lo sekarang bukan Gue, tapi lebih hanya sekedar ingin Meyra terluka."
Stella menghentikan langkahnya, dia berbalik. ditatapnya mata Kevin dengan senyum mengembang.
" Entahlah. Lo tetap menarik . Tapi melihat wanita itu terluka memberikan kepuasan sendiri bagi gue."
Hubungan yang dijalani Kevin dan Stella memang tampak seperti hubungan kesepakatan.
Kevin memohon agar Stella tak menyakiti Meyra maupun Yuli. Dengan dirinya sebagai imbalan. Tapi rupanya akting Kevin tak membuat Stella terkesan, dan dengan terang-terangan mengaduk-aduk perasaan lelaki itu.
Stella kini meninggalkan Kevin ,dia lebih dulu masuk ke mobil lelaki itu. Melihat tingkah Stella Kevin semakin yakin jika perempuan ini benar-benar sakit. Tapi sejauh ini dia belum bisa mendengar kebenaran dari mulut Stella sendiri. Ucapan gadis itu selalu membuatnya harus berpikir. Karena penuh teka-teki.
" Kok bengong ! Ayo. Antar gue pulang "
Kevin tersadar dan melangkah cepat kearah mobil.
Tanpa kata dia melajukan mobilnya. Meski tak ada ucapan resmi dari Stella tapi perlakuan gadis itu pada Kevin seolah menegaskan jika hubungan mereka lebih dari sekedar teman.
Sejak masuk mobil Stella sedari tadi masih nampak tersenyum, Kevin tidak tahu ada hal lucu apa yang diingat gadis itu. Daripada penasaran dengan sesuatu yang tak penting.
Kini pikiran Kevin malah tertuju pada Meyra. Diingatnya secara jelas air mata yang membasahi pipi wanitanya itu.
Sungguh dia merutuki dirinya yang telah mengucapkan kata-kata menyakitkan untuk Meyra tadi.
__ADS_1
Rencananya dia memang ingin berbicara berdua dengan Meyra. Memberi tahu Meyra jika semua ini hanya rekayasa dirinya, tapi rupanya Stella malah berada tepat dibelakang Meyra. Menatapnya dengan penuh senyum. Mau tak mau Ucapan Keji itu meluncur dari mulut Kevin.
Kevin hanya bisa berharap jika Meyra tak salah paham dan membencinya karena ini. Meski air mata Meyra telah menjelaskan semua perasaan perempuan itu padanya.
***
" Gue nggak nyangka Kevin sebrengsek ini ! Bisa-bisanya dia datang kesini untuk jemput Stella. Elo udah berapa lama tahu hubungan mereka?.."
Yuli mencecar Meyra. Setelah menemukan perempuan itu duduk termenung di atas tempat tidurnya " Kok gue bahkan gak tahu apa-apa! "
" nggak penting Yul. Mereka nggak penting lagi bagi gue sekarang. Sepertinya gue harus membuka hati gue ke pria lain ."
Yuli terkekeh " lagak Lo Mey. sok-sokan mau cari pengganti . Yakin ni udah nggak bucin lagi sama si brondong ?"
Meyra mencebik " Lo harusnya dukung gue Yul bukan menjatuhkan keinginan gue . Hhhhh....
Gue nggak nyangka bisa melewati masa galau kek gini lagi. Kekanakan nggak sih gue ?"
" Mungkin Kevin ada alasan Mey. Biarlah waktu yang menjawab semuanya. Tapi saran gue Elo mesti ketemu sama Kevin. Seenggaknya Lo tahu hubungan kalian akan di bawa kemana, nggak gantung tanpa alasan seperti ini."
Meyra membenarkan saran Yuli. dia memang harus menemui Kevin meminta kejelasan .
dia tampaknya sudah tak mengharap lebih pada hubungannya, Namun apa salahnya jika dia mengetahui apa sebenarnya yang Kevin inginkan darinya. Kenapa tiba-tiba lelaki itu melakukan hal ini pada dirinya.
" Hubungan kamu sama Om David gimana Yul ?" Meyra mengalihkan pembicaraan. Pembahasan tentang Kevin membuatnya semakin berpikir rumit.
Yuli malah kini nampak bengong, melihat itu Meyra menatap curiga kearah Yuli .
__ADS_1
" Kayaknya gue cuma di php Mey. karena saat gue mau ngomong kearah yang serius, ucapan gue malah dialihkan ke pembicaraan lain. Ya sepertinya gue juga harus siap jika kecurigaan dan prasangka gue ini adalah kebenaran."
Yuli memandang kearah Meyra.
" Dulu kehidupan kita nyaman-nyaman aja tanpa sosok lelaki. kini malah gue ngerasa mengenal lelaki malah bikin kita parno. Dan sering menangis sendiri ..Gue bener nggak sih. Rasanya seperti kita lagi salah jalan . Ya nggak sih Mey ! "
Meyra memeluk Yuli. Terdengar jelas keputusasaan di nada bicara Yuli " Gue pengen banget ngerasain jadi seorang ibu. Tapi agaknya keinginan gue berlebihan.." Yuli melanjutkan ucapannya seraya membalas pelukan Meyra.
" Nggak ada yang salah dengan keinginan Lo Yul. Dan kita nggak bisa mendahului takdir, semoga aja kita bisa dipertemukan dengan lelaki yang tepat setelah ini. Bukankah harapan itu akan selalu ada"
Yuli menggeleng " Kalau kali ini gue gagal. maka gue akan memilih untuk nggak menikah Mey. Lo tahu sendiri kan masa lalu gue seperti apa? kemungkinan adanya lelaki yang terima gue apa adanya itu sangat kecil dan bahkan mustahil. Jadi gue harus buang kunci hati gue ke api yang besar biar nggak bisa dibuka lagi dan juga sekalian meminimalisir kemungkinan Gue bakalan patah hati . Sepertinya itu ide yang bagus Kan ? "
Meyra menangis, Yuli benar. Kita memang bisa memperbaiki diri dan melupakan masa lalu kita. Tapi ingatan orang lain tak semudah itu ikut berubah seiring waktu. Noda yang mati-matian ingin kita hilangkan akan terus dibuat terlihat oleh orang -orang yang berada didekat kita dimasa lalu.
" Lo baik Yul. Dan Lo pantas jika mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini. Bagaimanapun masa lalu elo, Lo nggak boleh pesimis.Tuhan itu adil, dan tak mungkin selalu mendekatkan kita pada masalah tanpa memberi solusinya. Mungkin Om David lagi banyak masalah di pekerjaannya. Makanya sedikit cuek .."
Yuli ikut menangis kemudian mengangguk , gadis itu juga mengucapkan terima kasih berkali-kali..
Meyra hanya mampu tersenyum dalam tangisnya, mencoba membesarkan hati Yuli.
Tapi kini Meyra malah teringat sosok Stella. Apakah benar Stella yang telah mengatur kedekatan Yuli dan Om David yang merupakan ayah gadis itu. Jika memang benar, maka kemungkinan Yuli untuk disakiti akan sangat besar.
Tapi Kevin ! Kenapa lelaki itu malah seperti ini sekarang?
Apa ini bagian dari rencana Kevin untuk menjebak Stella. Apakah Kevin hanya sedang bersandiwara ?
pertanyaan -pertanyaan ini sepertinya akan terjawab jika dia menemui Kevin secara langsung.
__ADS_1
Bagaimanapun, Dia bisa saja diam dan menelan sendiri sakit hatinya pada Kevin tapi jika ini juga menyakiti Yuli . Maka ia harus bertindak, sebagai seorang sahabat yang baik.
Dia tidak mau jika Yuli harus semakin terpuruk karena ulah Stella yang telah menggunakan sosok ayahnya untuk menghancurkan Yuli.