
Kevin memperhatikan berkas yang disodorkan oleh Bram. Lagi-lagi penyelidikannya gagal. Setelah soal kecelakaan Selin kini Kevin meminta Bram untuk menyelidiki kekerasan seksual seperti apa yang telah dialami oleh Roby, Sahabatnya.
" Sepertinya pak Dirga sedari awal telah mengantisipasi soal ini. Vin ! Tak ada jejak apapun . Pihak sekolah mengatakan jika Roby hanya berkelahi. Bukan kasus yang terlalu besar. Namun memang setelah kejadian itu Pak Dirga memutuskan memindahkan Roby ke sekolah lain"
Kevin sangat kesal. Bagaimana bisa dua kasus yang coba Dia selidiki kini malah menemukan jalan buntu. Kevin kini menatap ke arah jam ditangannya , Dia lupa jika sekarang harus menjemput Meyra. Setelah mengecek HP dia tahu jika Meyra telah menunggunya sedari tadi.
" Lo bisa pulang . Sekali lagi terima kasih atas bantuan Lo , Bram.." Kevin menjabat tangan Bram, dibalas anggukan oleh teman merangkap detektif langganan yang biasa Kevin sewa.
" Kalau Lo perlu bantuan Gue . Jangan sungkan. Gue pasti bantu ! "
Bram beranjak kearah pintu. Meninggalkan Kevin yang nampak membereskan beberapa berkas penting soal penyelidikan Roby. Kevin berpikir mungkin Dia memang harus bertanya langsung pada Sosok Dirga , Ayah dari sahabatnya itu.
***
Kini Kevin telah sampai diparkiran Mall tempat Meyra bekerja. Sesuai arahan yang diberikan oleh Meyra melalui pesannya tadi, Kevin segera meluncur. Menemui sang pujaan hati.
Tak butuh waktu lama bagi Kevin , kini ia telah menemukan Sosok Meyra yang berdiri sambil sesekali menatap ke layar Hpnya. Perempuan yang mengenakan rok selutut itu rupanya telah Mengganti baju khas karyawannya dengan baju kaos polos berwarna putih, dilengkapi jaket jeans sebagai luarannya.
Meyra yang telah hapal dengan mobil Kevin bergegas menghampiri. Jujur saja berdiri sendirian setelah mendapat ancaman dari Stella membuat nyalinya sedikit ciut. Apalagi fakta yang baru saja didengarnya tadi. Membuat dia merasa jika yang dihadapinya ini adalah iblis berwujud manusia.
" Kenapa lama ? " Meyra langsung bertanya ketika pintu mobil tertutup sempurna.
" Untung Gue orangnya setia. Kalau nggak ! Sedari tadi gue udah pergi dari sini naik Alphard om-om"
Kevin tersenyum mendengar candaan Meyra " Oh jadi sekarang selera Lo ganti ke om-om ? Bukannya Lo itu penyuka brondong ya ?"
Kevin malah balik menggoda Meyra membuat wanita itu cemberut karena kesal .
__ADS_1
" Maaf ya. Tadi ada urusan sedikit. Jadi telat jemput nya." Kevin menggenggam tangan Meyra sambil menyetir dengan tangan kanannya.
" Eh nanti nabrak. Kayak sudah nggak ketemu sebulan aja. lepas..."
Kevin menurut. Dan kini fokus ke jalan. Keheningan yang tercipta membuat Meyra agak risau. Entah kenapa bayangan Yuli yang akan menanggung akibat jika dia tetap egois disisi Kevin kini menghantuinya. Membuatnya merasa takut , sesuatu yang buruk yang bisa saja terjadi kepada Yuli.
Kevin yang sedari tadi memperhatikan Meyra.
Merasa ada yang janggal. Meski Meyra tersenyum dan bahkan menggodanya tapi entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang tampak menganggu pikiran wanitanya itu .
" Lo kenapa Mey ?"
Meyra tersentak, Kevin tahu jika dugaannya memang benar. Jika tidak kenapa seolah pikiran Meyra berkelana entah kemana. Walaupun raganya ada didekat Kevin.
" Nggak kenapa-napa kok Vin.."
Flashback
" Jadi ! kecelakaan Selin karena ulah Lo.?"
" Menurut Lo. Selin itu terlalu baik. Terlalu lembek, dan jujur buat gue greget. Udah dibilangin agar tegas , Eh malah ngeyel. Pake ngasih uang ke Elo lagi. Gimana nggak bodoh tuh anak. Dari pada dia buat gue darah tinggi mending gue singkirkan duluan. Ye kan hahah"
Tawa yang menurut Meyra menyeramkan itu berhenti ketika Stella nampak melihat kearah Hpnya yang berkedip. Kemudian dengan Anggun dia kembali mendekat kearah Meyra " Gue suka saat objek yang gue tuju tahu kalau dia adalah sasaran Gue. Jadi siap-siap ya Tante..!!!"
Flashback off
" Lo yakin . " Kevin menepikan mobilnya, kembali menggenggam erat tangan Meyra, " meskipun Kita dulunya hanya teman ranjang. Tapi gue tahu gimana Elo jika ada sesuatu yang Lo pikirkan. Mending Lo cerita Mey. Siapa tahu kita bisa menemukan solusinya bersama."
__ADS_1
Meyra menggigit bibirnya, pandangannya kini tertuju pada lampu-lampu yang menghiasi trotoar. Udara dingin kini mulai terasa pertanda malam sudah mulai larut. " Tadi Stella nemuin Gue. Dia mengakui jika yang menyebabkan kecelakaan Selin itu adalah Dia. Dia juga bilang kalau hal yang sama juga akan terjadi sama Yuli kalau kita tetap melanjutkan hubungan kita.. "
" Serius ? Terus apa jawaban Lo atas permintaan Dia ?" Kevin bertanya was-was, Dia takut jika Meyra memilih mengakhiri hubungan mereka yang bahkan baru saja dimulai.
" Gue terlalu syok. Jadi gue hanya ngelihat dia pergi tanpa mengucapkan apapun."
" Syukurlah kalau gitu. Kamu jangan khawatir soal Yuli. Kita bakalan hadapin ini sama-sama.."
" Maksudnya? Kita kasih tahu Yuli juga soal calon anak tirinya itu ? Gimana kalau dia nggak percaya. Gimana kalau dia malah nuduh kita yang enggak-enggak .." Meyra mencerca Kevin dengan banyak pertanyaan dengan nada ragu
" Kamu tenang dong . Sayang !"
Kevin gemas Ia mengacak rambut Meyra . " aku kan sudah bilang kita akan hadapi ini sama-sama. Bagaimanapun reaksi Yuli nanti. Kita harus terus meyakinkan Dia. Dan aku minta satu hal sama kamu . "
Kevin menggenggam kedua tangan Meyra mengecupnya singkat " Apapun yang terjadi. Jangan pernah berpikir untuk pisah sama aku.."
Meyra menarik tangannya " Kok jadi aku kamu sih ? kedengarannya aneh tahu nggak ? lebay Lo.."
" Kok lebay sih. Kitakan pacaran sekarang Mey. Romantis dikit kenapa ? jangan kayak orang musuhan pake Lo Gue.."
" Serah deh Gue nurut ."
" Kok Gue lagi ? "
" Iyah Sayang ! Aku padamu pokoknya. Mending kita jalan yuk. Pasti Yuli udah nungguin.."
Kevin lagi-lagi mengacak rambut Meyra dengan sayang. Kemudian dengan pelan Melajukan mobilnya lagi. Membelah malam di jalanan kota yang masih nampak ramai.
__ADS_1
Pikiran mereka sama-sama diisi dengan bagaimana caranya agar mereka dapat memberi tahu Yuli tanpa menyinggung Apalagi menyakiti gadis itu.