
Dua hari sudah Kevin tak bisa dihubungi. Lelaki itu seolah lenyap dan meninggalkan tanya dibenak Meyra. Apakah ada yang salah dengan dirinya ?
Apakah sesuatu yang buruk terjadi pada Kevin. Terlalu banyak pertanyaan di otak Meyra , Hingga membuatnya merasa pusing.
Diingatnya lagi semua tingkah Kevin dua hari yang lalu. Tak ada yang aneh. Dan mereka juga tidak sedang berdebat akan sesuatu. Sungguh dia tidak tahan dengan situasi seperti ini.
Kini Meyra mengalihkan pandangannya kearah lain. Dan dilihatnya sahabatnya tengah duduk sendirian, Meyra mendekat kearah Yuli yang duduk manis dengan secangkir kopi didepannya. Mata gadis itu fokus kearah hp. Melihat raut bahagia yang kentara di wajah Yuli , Meyra jadi merasa sungkan untuk menegur. Jadinya dia hanya duduk diam , sesekali mengintip kearah benda pipih miliknya. Siapa tahu ada kabar dari Kevin.
" Masih nggak ada kabar Mey?"
Pertanyaan Yuli membuat Meyra menatap kearah gadis itu. Rupanya ditengah aktivitasnya , Yuli masih juga memperhatikan gerak geriknya sedari tadi.
" Nggak ada Yul ? apa telah terjadi sesuatu pada Kevin? Gue ngerasa takut Yul!", Meyra menggeser tubuhnya mendekat kearah Yuli, sambil berbisik " Lo ada berhubungan dengan Stella nggak, dua hari ini ? "
Yuli yang merasa geli akan bisikan Meyra, mendorong tubuh sahabatnya. Bulu kuduknya nampak meremang mendengar suara wanita itu. " Apaan sih Mey. Lo bikin gue merinding. Emangnya kenapa dengan Stella. Kok bawa-bawa dia segala..." Ditatapnya Meyra yang nampak salah tingkah. Apalagi kini Meyra menampilkan senyum konyol
D3 " Kok gue ngerasa diantara Lo dan Stella ada sesuatu !"
Meyra memasang senyum terpaksa. Kenapa malah dia terjebak dengan ucapannya sendiri. Dia semakin bingung ketika Yuli semakin mendekatkan wajah kearahnya. Mencari kejujuran di mata miliknya.
" Cuman perasaan Lo aja kali Yul. Lagian kan gue nggak pernah ngobrol sama Stella . Gimana bisa Lo mikir kita ada sesuatu," elak Meyra mencoba meyakinkan Yuli.
" Ya Elo si Mey. Nanyain soal gue dan Stella dengan nada bicara begitu. Apalagi kan kita tadi sedang bahas masalah Kevin kenapa jadi ke sosok Stella !"
" Maaf . Gue nggak maksud kok hehe," Suasana kini menjadi hening. Yuli kini kembali sibuk dengan Hpnya sementara Meyra malah terus dihantui ketakutan akan keadaan Kevin. Apa ini ada hubungannya dengan Stella ?
__ADS_1
Meyra mencoba sekali lagi memikirkan Jawaban logis akan semua ini . Namun yang terlintas malah sosok Stella dan Stella lagi.
" Gimana caranya ya Yul. Agar gue bisa menghubungi Kevin. Seenggaknya Gue tahu kalau dia baik-baik saja. Biar gue bisa tenang," Meyra mencoba mengalihkan pembicaraan. Supaya tak keceplosan soal Stella.
" Gue beneran nggak tahu Mey. Satu-satunya yang deket dan tahu dengan Kevin, Itu Roby Tapi Roby juga beberapa minggu ini kayak ditelan bumi. Kenapa mereka jadi aneh ya. Tiba-tiba menghilang gitu?"
Yuli memandang Meyra, yang kini juga memandang nya. Mereka sama-sama terdiam ketika tak menemukan jawaban akan ucapan Yuli.
***
Dirga menyambut kedatangan Kevin dengan ramah. Bagaimanapun juga dia senang jika ada seseorang yang peduli kepada Roby. Apalagi sampai rela datang kesini. Terlepas dengan kerja sama mereka untuk sama-sama mencoba Menaklukkan Stella.
Ya, Dirga memang memutuskan membawa Roby untuk penyembuhan diluar negeri. Dan Singapura menjadi kota pilihannya. Sesuai dengan rekomendasi dari dokter yang telah menangani beberapa kasus seperti yang dialami Roby, sang anak .
" Roby sekarang jadi pendiam Vin. Semenjak pertemuan kalian waktu itu, Dia sering kambuh dan tak bisa mengontrol dirinya," Dirga membuka percakapan.
Sedang Kevin kini memfokuskan pandangannya pada sosok Roby yang nampak santai duduk di sofa sudut ruang keluarga. Roby juga terlihat tengah menghisap rokok. Puntung rokok yang nampak memenuhi asbak ada disampingnya, inilah Kebiasaan ketika pikiran lelaki itu sedang kacau. sebagai pelampiasan maka Roby tak akan berhenti merokok. Dan ini cukup membuat nyeri di hati Kevin. Bagaimana mungkin Roby yang dia kenal malah jadi seperti ini.
" Bagaimana soal Stella Vin. Semakin lama kamu menunggu maka akan semakin banyak kesempatan untuk gadis iblis itu," Cecar Dirga. Karena sedari tadi Kevin hanya terdiam.
Kevin masih bergeming untuk beberapa saat. Lalu mengalihkan pandangannya kearah lain . Tak tahan akan penglihatannya soal Roby
" Aku malah kepikiran untuk mendekatinya secara pribadi Om. Bukankah kita harus memberi mangsa kita umpan terlebih dahulu . agar kita bisa meringkusnya dengan sukses. Setelah membaca semua berkas tentang gadis itu. Aku rasa hanya cara seperti ini, ang efektif. "
David memandang Kevin dalam, ini pasti akan mempengaruhi hubungan asmara pemuda itu." Tapi ! Bagaimana hubunganmu dengan Meyra nantinya?"
__ADS_1
" Meyra bukan anak kecil lagi. Dia pasti akan mengerti jika semua ini nanti menemui titik terang, kami sudah pernah bahas ini meski tak secara spesifik tapi aku yakin jika Meyra akan mengerti !" Kevin kini mengalihkan pandangan kearah layar Hpnya. Ada foto Meyra di sana, Wanitanya itu nampak tersenyum lebar. Kini tekadnya sudah bulat. Biarlah jika sekarang mereka harus menjaga jarak terlebih dahulu.
" Aku akan fokus ke Stella. Kami juga janjian akan bertemu dua hari lagi. Dan aku harap Stella tak curiga dengan rencana ku ini. Makanya aku sengaja menjaga jarak dengan Meyra."
" Om akan pastikan rencanamu ini berjalan lancar. Semua yang kamu butuhkan akan om siapkan Vin. Jangan kecewakan Om. Setidaknya tak akan ada Roby-Roby yang lain jika Stella telah dihukum seberat-beratnya." Dirga menangis lagi. Sungguh jika Stella bukan perempuan, maka dengan tangannya sendiri dia akan bertindak.
" Lalu bagaimana dengan David . Apakah kamu mau Om membantumu soal yang satu ini ? "
" Om hanya harus menyelidiki kapan biasanya Pria itu melakukan transaksi ilegalnya. Meski ini akan menyakiti Yuli. Setidaknya Yuli tak terjebak diantara Ayah dan anak yang psiko itu." Kevin berucap tenang. Bukankah harus selalu ada yang dikorbankan jika ingin mencapai sesuatu. Semoga saja persahabatan Yuli dan Meyra tak ikut menjadi korban.
" Om sudah menyelidiki kalau soal itu Vin. Kamu tinggal kabari Om jika kamu memerlukan semua berkasnya."
" Baik Om. Semoga kerjasama kita bisa menghasilkan sesuatu yang memuaskan" Kevin tersenyum.
"Aamiin."
" Apa tidak apa-apa om jika aku mendekat kearah Roby ?, " ujar Kevin tiba-tiba. Setelah lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
" Sebaiknya jangan Vin. Dokter bilang jika Roby kini berusaha melawan dirinya sendiri. Melawan pribadi yang selama ini menguasainya. Om takut jika melihatmu Dia malah down," Larang Dirga.
Kevin mengerti kemudian berbalik kearah Dirga. Karena memang posisinya sedari tadi ada didepan pria paruh baya itu.
" Kalau begitu aku pamit Om. Aku harus mempersiapkan segalanya untuk mencapai tujuan kita.."
Kevin menunduk sopan . Setelah mengucap salam Dia segera meninggalkan apartemen Dirga, menuju bandara secepatnya.
__ADS_1