
Kevin bertindak cepat dan segera mengumpulkan semua bukti kejahatan Stella dan juga ke ikutsertaan Ayahnya, dalam menyembunyikan segala bukti kejahatan mereka.
Tak lupa Kevin menghubungi Om Dirga , ayah Roby. Untuk melengkapi berkas pelaporan Stella sebagai tersangka, Naluri Dirga sebagai seorang ayah kini tak lagi memikirkan ego dan rasa malu.walaupun kasus ini akan diangkat ke publik sekalipun . Yang terpenting baginya sekarang, Roby mendapatkan keadilan untuk rasa trauma dan beban mental yang selama ini dirasakan anaknya itu.
'Om tunggu kabar darimu ,Vin. Sebenarnya Om ingin sekali hadir di sana dan menjadi saksi secara langsung. Tapi disini Roby masih butuh pendampingan. Kondisinya memang stabil. Tapi om takut jika dia tiba-tiba drop lagi '
Suara yang tampak bersemangat diawal itu terdengar sedikit putus asa diakhir kalimat.
Kevin mengerti, Sangatlah berat menjadi seorang Ayah dari korban pelecehan seperti Roby.
' Om tenang saja, tetaplah fokus pada Roby, insya Allah aku bisa mengatasi masalah yang akan datang nanti. Kita sudah punya banyak bukti yang kuat. Jadi sekarang kita bisa tenang, dan yakin jika kita bakal menang kali ini ..'
terdengar helaan nafas berat diseberang telpon .
'Mudah-mudahan kita nggak kalah langkah lagi kali ini Vin. Karena jujur , Om sudah mengalami kegagalan dalam hal memenjarakan iblis betina itu, bahkan sampai tiga kali...'
'sepertinya kali ini Stella tak akan bisa mengelak, dan pembelaan sang ayah tak akan berdampak apapun . Bukti ini berasal dari Stella sendiri Om, bagaimana bisa seseorang membantah ucapan yang keluar dari bibirnya sendiri '
'Baiklah, Vin..Sekali lagi om percayakan semua ini padamu.'
Telpon terputus, seiring gedoran kuat pada pintu rumah Kevin. Rupanya sosok Stella yang terlihat tengah mengamuk didepan rumah. Gadis itu membanting kursi kayu yang tersusun rapih di teras rumah Kevin.
Sementara Kevin diam saja dan tampak tenang memperhatikan dari dalam rumah melalui kaca jendela transparan dekat pintu.
Kini Kevin membuka pintu, ketika pintu telah terbuka sempurna. Dia kembali hanya menatap datar pada Stella yang kini juga menatapnya penuh amarah dan dendam .
" Balikin jam gue, Lo bisa gue laporkan dengan tuduhan pencurian.."
__ADS_1
Kevin menggeleng merasa lucu akan ancaman Stella, apakah gadis ini sangat tertekan dan takut sekarang, hingga mengatakan hal konyol itu.
" Oh Ya . Silahkan saja, maka gue akan secara suka rela nyerahin jam itu sebagai barang bukti. Dan siap-siap ,Lo bakalan jadi penghuni abadi di sana nantinya.."
Stella mengigit bibirnya, dia merasa sangat bodoh sekarang. " Please Vin. Gue janji nggak bakal ganggu hubungan lo sama Meyra lagi. Dan juga akan mempercepat pernikahan bokap gue dengan Yuli. dengan begitu maka artinya semuanya akan mendapatkan happy endingnya masing-masing, gimana Lo setuju kan ?"
Stella kini terlihat telah kehilangan rasa percaya diri dan sikap angkuhnya. Gadis itu bahkan berlutut didepan Kevin. Dengan air mata yang mengalir deras diwajahnya yang telah memerah karena amarahnya tadi.
" Lalu bagaimana dengan Roby ? Lo pikir gue bisa lupa soal itu !! Semua yang lo lakuin itu sudah tergolong tindakan psikopat, keterlaluan dan sangat tidak manusiawi. Dan sekarang dengan seenak nya Lo, malah melakukan penawaran omong kosong ke gue..Ckckkck. Lo harus dapat hukuman setimpal Stella.."
Dorr Dorr Dorr
Suara tembakan menggema, entah ada berapa puluh peluru yang melayang, adegan ini menjadi horor dan menegangkan. Kevin yang memang tak siap, seolah menjadi sasaran empuk kelakuan bar-bar Stella.
Tubuh Kevin kini ambruk. Diikuti sosok Stella yang juga bersimbah darah.
Rupanya polisi telah menyatroni rumah Kevin, karena laporan pemuda itu melalui telpon , sebelum dia memutuskan untuk membukakan pintu untuk Stella tadi..
Berita tentang kematian Stella kini menghiasi layar kaca maupun surat kabar,
Stella memang meninggal seketika saat polisi menembak langsung ke dada gadis itu, Semua terpaksa dilakukan untuk menghentikan secara langsung tembakan Stella kearah Kevin yang dilakukan gadis itu secara membabi buta.
Hal ini tak urung jadi perhatian publik, semua nampak penasaran kenapa bisa gadis seusia Stella tega melakukan itu, Mau tak mau , noda hitam masa lalu Roby akhirnya jadi konsumsi publik dan membuat semua orang memandang jijik bahkan kasian pada sosok Pak Dirga selaku orang tua dari korban.
Juga tentang kecelakaan Selin yang ternyata adalah sabotase dari Stella. Masyarakat geram dan tak menyangka gadis seperti Stella tega melakukan pembunuhan berencana pada sepupunya sendiri, padahal mereka sangat dekat.
Kevin yang terluka karena terkena tembakan , bahkan harus menjalani operasi, meski memang tak ada bagian vital yang tertembak. Namun tetap saja , Kondisinya mengharuskan dirinya rawat inap. bahkan kamar rawat Kevin kini dijaga ketat oleh polisi. Guna mengamankan dirinya sebagai saksi kunci.
__ADS_1
" Om senang Vin, kamu selamat !!"
Senyum memenuhi wajah Om Dirga, menularkan hal yang sama pada wajah Kevin yang masih nampak pucat.
Ayah dari Roby itu, langsung menjenguk Kevin ketika pemeriksaan yang dilakukan padanya sebagai saksi telah usai. Bagaimanapun dia sangat bersyukur Kevin selamat dan juga berterima kasih karena telah menuntaskan kasus ini.
" Alhamdulillah om. Saya selamat dan kasus ini akhirnya menemui akhir. Semoga dengan apa yang terjadi pada Stella bisa memotivasi Roby untuk segera sembuh."
Dirga mengangguk ,dan malah meneliti setiap jejak tembakan ditubuh Kevin . Bahkan tangan pemuda itu tak luput dari peluru senjata rakitan milik Stella.
" Ada berapa peluru ,Vin. ?"
Kevin mengikuti arah pandang om Dirga " Tujuh peluru om, tapi masih di zona aman hehhe" Kevin memamerkan barisan giginya yang rapih , Dia juga tak menyangka bisa selamat dari hujan peluru yang dilakukan Stella. " Saya nggak bisa bayangin jika gadis itu masih hidup . benar-benar Gila, saya mungkin bisa trauma hanya dengan menatap wajahnya..."
Siapa yang tak takut jika berada diposisi Kevin. Meski singkat, tapi bisa membuat ketakutan yang dalam di diri Kevin.
" Saya kagum dengan keberanian kamu Vin.."
Ucapan Dirga mengingatkan Kevin akan sosok Meyra. Karena perasaan cintanya yang besar, membuat Kevin bisa melakukan hal tegas seperti ini. Dan bahkan berani mengambil resiko. Tapi dia sedikit kecewa, karena sudah tiga hari dia berada disini, tapi Meyra tak sekalipun datang menjenguknya, apakah semarah itu Meyra padanya hingga tak ada simpati sedikitpun akan kondisinya sekarang ini. Atau apakah Meyra tak tahu apa-apa soal tragedi yang telah menimpa dirinya.
padahal Kevin bahkan sudah berpesan pada polisi yang berjaga, jika ada yang berniat menemuinya atas nama Meyra, maka harus diizinkan masuk .
" Kamu kenapa Vin ? kok bengong.."
" Aku kangen pacarku Om. ."
" Oh , Meyra ya..Mungkin dia sedang sibuk .jadi tak bisa menemani kamu disini.."
__ADS_1
" Semoga aja om...!!! " Mata Kevin nampak menerawang jauh, bayangan wajah Meyra kini nampak menari di pelupuk matanya.
Kevin berharap berakhirnya kasus ini, juga merupakan awal yang baik bagi hubungannya dengan Meyra.