Teman Ranjang

Teman Ranjang
Bab 54


__ADS_3

Hari telah menjelang sore Dan Meyra telah diperbolehkan untuk pulang. Semua biaya rumah sakit dan biaya tebus obat ternyata telah dilunasi oleh Kevin. Meski hingga saat mereka naik taksi untuk pulang ke apartemen Yuli. Sosok Kevin tak pernah terlihat lagi, setelah Meyra mengusirnya dari kamar rawatnya siang tadi.


" Gue penasaran Mey, gimana sih rasanya hamil ? maksud gue ,memikirkan ada kehidupan lain ditubuh lo, apalagi jika dia sudah bergerak aktif diperut Lo. pasti rasanya luar biasa.."


Yuli Memandang jalanan yang padat merayap. Sementara Meyra menyimak ucapan sahabatnya itu dengan pandangan prihatin.


" Gue yakin kok Yul. Lo bakalan bisa sampai ke tahap itu. Dan saat semua itu telah terjadi gue bakalan jadi orang pertama yang akan merasakan kebahagian itu. Dan gue janji akan jagain elo dengan segenap cinta dan kasih gue .."


" Ucapan lo udah kayak, elo adalah nyokap gue Mey. Tapi makasih ya, Lo.bener-bener bisa bikin gue ngerasa jika hidup gue ini tergolong beruntung karena ada sahabat sebaik dan sepengertian elo.."


Meyra memeluk Yuli erat,


" Ngomong-ngomong Kevin kemana ? apa dia beneran pulang saat gue usir tadi ?"


" Nggak kok. kita sempat ke kantin tadi. Dia tadi bilang ke gue kalau dia ada keperluan mendadak dan titip salam sekaligus permintaan maaf sama Lo karena seminggu kedepan dia bakalan berada diluar kota. ."


"Ohw . Apa sepenting itu ?"


" Apanya ?"


" Ya. Urusannya Itu. Sampai dia nggak sempat buat pamitan langsung ke gue.. Ya kan !!"


Yuli tersenyum, sangat jelas jika Meyra sudah berusaha menerima kehadiran Kevin kembali.


" Jangan Rindu ya Mey. Gue nggak akan kuat. Denger ucapan putus asa dan tangisan kerinduan lo akan berondong lo itu ..hhehheh "


Meyra mencubit pinggang Yuli dengan wajah yang memerah karena malu..


***


Seminggu kini telah berlalu, meski hamil tapi nyatanya Meyra tak merasakan apapun yang biasanya dikeluhkan oleh ibu hamil pada umumnya.


Sudah seminggu juga tak ada kabar dari Kevin, entah kenapa Meyra merasa jika Kevin menghindarinya karena tak sekalipun lelaki itu menghubunginya. Meyra sempat berpikir jika Yuli berbohong tentang ucapan Kevin yang pamit pada sahabatnya itu.


Tiba - tiba bel apartemen berbunyi, Meyra memang sedang sendirian, karena Yuli bekerja. Dan Meyra tengah mengambil cuti ..

__ADS_1


Ketika pintu terbuka, ada sosok Kevin dihadapannya ,lelaki yang merupakan ayah dari janin yang dikandungnya itu menampilkan senyum manis nan ramah .


Tapi yang membuat Meyra seakan tak menginjak bumi lagi adalah, tiga orang yang Berada di samping dan dibelakang Kevin.


Sang Ibu dan kedua putranya itu kini menatap penuh haru kerinduan pada sosok Meyra. Meyra beringsek maju dan mendekap ketiganya dalam pelukan. Air matanya kini mengalir tanpa bisa dicegah.


"Kami kangen bu.."


***


Kini Meyra, ibunya serta ke dua putranya tengah istirahat di kamar Meyra. mereka sudah lebih segar, karena langsung mandi saat mereka diajak masuk oleh Meyra tadi.


" Ibu sama anak-anak kok bisa kesini ? sama Kevin lagi !!"


Meyra menyuarakan rasa penasarannya. Sosok Kevin, memang langsung pulang ketika memastikan ibu dan anak-anak Meyra telah masuk kedalam, Dia beralasan jika sedang ada kepentingan yang harus segera diurus.


"Loh, bukannya kamu yang menyuruh Kevin , jemput kami ? Jangan buat ibu bingung Mey, dan si Kevin itu sebenarnya siapa kamu. Kok nekad jauh-jauh jemput kami, demi menuruti keinginan kamu.."


Meyra menggaruk pelipisnya, bingung juga harus menjawab apa akan pertanyaan ibunya ini.


Keheningan mendadak tercipta, sementara Rifki dan Bagus kini malah asyik memainkan hape Meyra yang tadinya hanya tergeletak tak tersentuh..


Meyra mengangguk, membenarkan. " Iya ,Bu. ahhhh rasanya seperti mimpi melihat kalian berada disini..." Meyra mencium pipi kedua putranya. dan memeluk mereka erat.


" Kami juga kangen kok sama Ibu. !!" Rifki dan bagus berucap kompak, meski mata mereka tetap pada layar handphone.


" oh iya Mey, kok kamu nggak bilang kalau kamu mau pindahin anak-anak kesini. Nomor kamu juga nggak aktif-aktif , ibu jadi susah ngehubungin kamu jadinya.."


Meyra menatap ibunya cepat. Nomornya nggak aktif bagaimana, bukannya selama ini dia tak pernah menonaktifkan hapenya,


" Aktif terus kok,Bu. maksud ibu apa ? siapa yang pindah sekolah ?!" Meyra menunjuk hape yang ada ditangan kedua putranya. Tapi jujur saja , dia sedikit heran, karena memang tak ada siapapun yang menghubunginya selama seminggu ini. Termasuk Hendra. Dan pertanyaan ibunya semakin membuatnya kebingungan karena memang tak ada niatan dihatinya memindahkan anak-anak kesini.


" Apaan sih Mey, ibu nanya kok malah balik nanya kamu ?"


Meyra jadi kebingungan " Ehmm... Nak ibu pinjam hapenya sebentar Ya, soalnya mau telpon om yang tadi nganterin kalian kesini.."

__ADS_1


" Oh om Kevin, ini bu pakai aja. Suruh om nya kesini ya Bu. Biar kita bisa main hape bareng lagi.."


Meyra mengangguk . Dan langsung menjauhi Ibu dan anaknya ketika hape telah ditangannya.


Dia memang tidak berniat menggunakan panggilan suara dan lebih memilih melakukan komunikasi dengan Kevin melalui WA.


[ Apa maksudnya ini Vin ?Aku ngerasa kayak orang bodoh didepan ibu dan anak-anakku , sekarang .]


[Mereka bakalan pindah kesini Mey, dan semua berkas kepindahan mereka sudah aku urus, maaf ya. Aku hanya ingin membuktikan ke kamu kalau aku benar-benar serius kali ini sama kamu. Aku bakalan main ke sana malam ini , supaya kita bisa membicarakan tentang pernikahan kita, see you ]


Meyra bengong. Matanya berkaca-kaca. Apa Kevin akan melamar dirinya malam ini ?


Apakah hubungan ini akhirnya bermuara pada pernikahan ?


Meyra menangis tanpa sadar, sambil mendekap erat hape di dadanya.


"Kamu kenapa Mey ?"


sang Ibu mendekat, dan mengelus bahu Meyra. Bukannya berhenti. Putri semata wayangnya itu malah semakin kencang menangis, membuat Rifki dan Bagus malah ikut mendekat karena khawatir.


" Mey, kenapa kamu nak, Ada kabar duka atau apa sayang ?"


" A....ku ..,cu-ma terharu Bu. bisa melihat kalian disini bersamaku, nanti kita jalan-jalan sepuasnya ajak om Kevin ya nak..hehhe"


" Kamu ini Mey, buat ibu jantungan aja. Iyah tapi jelasin dulu , siapa sebenarnya Kevin bagimu..Katanya Dia adalah calon Ayah dari anakmu. Ibu nggak akan percaya jika kamu belum mengatakan hal yang sama "


" Emangnya apa alasan yang ngebuat ibu nggak percaya ?"


" Jadi yang diucapkan Kevin adalah kebenaran. Kok bisa, pemuda seganteng itu malah kepincut perempuan kayak kamu Mey, sudah janda lagi.."


" Memangnya salah ya Bu, kalau jadi janda dan menerima pemuda kayak Kevin ? "


Meyra menunduk merasa malu dan sedih.


" Kalau aku bilang aku cinta sama dia. Apakah ibu akan merestui ?"

__ADS_1


" Loh. Kok kamu jadi salah paham, Mey. Ibu sih ikut kamu aja soal jodoh. Tapi Ibu nggak yakin aja jika pemuda seperti Kevin bisa serius dan mau menikahi mu. Nanti malah dia cuma main-main dan bikin kamu patah hati lagi, seperti saat ditinggal oleh Dendi, Ayah dari anak-anakmu.."


Meyra memandang ibunya dengan senyuman, dia menganguk-angguk menerima penjelasan sang ibu." Insya Allah Bu, dalam waktu dekat kami akan menikah.."


__ADS_2