Teman Ranjang

Teman Ranjang
Bab 52


__ADS_3

Meyra dan Yuli kini telah tiba di rumah sakit, tak terlalu sulit bagi mereka untuk menemukan kamar perawatan Kevin.


Sebenarnya Meyra kini tengah gugup, rasa kesalnya pada Kevin masih ada tapi rasa khawatir akan kondisi Kevin malah lebih menguasainya.


Saat pintu dibuka, Kamar Kevin malah tampak kosong, membuat Yuli dan Meyra keheranan. Tak lama Kevin keluar dari kamar mandi,,


Meyra didorong Yuli untuk mendekat kearah Kevin. Meski agak canggung tapi akhirnya Meyra maju juga disambut senyuman manis dari Kevin yang memang telah begitu mengharapkan kehadiran pujaan hatinya itu..


" Udah mendingan?" Meyra membuka percakapan lebih dulu, meminimalisir rasa risih yang kini ia rasakan karena Kevin semakin lekat menatap kearahnya, seolah siap menerkamnya hidup-hidup.


Yuli berdehem, mengejutkan Kevin yang rupanya tak menyadari jika ada orang lain selain dirinya dan Meyra. Dia pikir Meyra datang kesini seorang diri.


" Ee..eh .Gue baik kok "


Kevin menggaruk pelipisnya yang tak gatal, " Maaf, mungkin efek obat, jadi suka ngelamun" Kilah Kevin menatap Yuli dengan canggung . Sungguh dia tadi sudah berpikir jauh akan melakukan apa ke Meyra di ruangan ini , jika mereka hanya berdua . Tapi ternyata, otak mesumnya salah bertindak dan membuatnya kini tampak bodoh didepan Yuli .


" Maaf ya, Yul. Tentang Stella.."


" Santai saja kali Vin . Lagian lo nggak salah kok. Ini akibat dari tingkah nekat yang dilakukannya .."


Yuli membalas dengan senyum maklum, Meyra mendekap Yuli yang kini sedih lagi karena ucapan Kevin.


" Turut berduka cita ya Yul.."


" Lo salah alamat, Vin. Seharusnya lo ucapin itu ke ayahnya, David. Karena gue dan ayahnya Stella sudah putus. ."


Meyra berinisiatif semakin mendekat kearah Kevin. Dan memberi kode pada Kevin untuk berhenti membahas masalah Stella..


merasa ada kesempatan Kevin malah mendekap tangan Meyra di dadanya, seolah meminta Meyra merasakan detak jantungnya yang berpacu cepat karena kehadiran dirinya.


" Maaf !!! Please, mungkin tuhan memberiku kesempatan hidup buat ngebuktiin ke kamu jika kita ditakdirkan bersatu.."


Meyra kini melirik ke arah Yuli. ingin melihat reaksi Yuli, apakah gadis itu masih sedih. Tapi Yuli kini malah tersenyum canggung. Mungkinkah tingkah konyol dan bucin Kevin mampu menghibur hati Yuli yang tengah lara.


" Apa Mey ? Udah baikan gih, kan gak ada lagi penghalang diantara kalian..yang lalu biarlah berlalu..."


Yuli menunjukkan jempolnya ke arah Kevin ,seolah kini memberi dukungan penuh pada Lelaki yang masih berbaring di pembaringan rumah sakit itu.


" Gue jenguk bukan berarti gue lupain apa yang udah lo lakuin dibelakang gue. kalau soal maaf memaafkan. Lo tenang aja gue udah maafin elo. Tapi kalau untuk lupa kesalahan Lo. Gue kayaknya nggak akan bisa."


Meyra berucap tenang. Membuat Kevin merasa sesak .


Mungkin masih butuh waktu bagi Meyra untuk menerimanya kembali.

__ADS_1


" kamu mau aku jantungan dan mati disini, Mey. Kok kejam sih. Aku kan sudah minta maaf, aku terbaring disini juga karena ingin memperjuangkan hubungan kita.."


" Aku males bahas apapun itu . jika tentang hubungan kita.."


Meyra berucap acuh dan menjauh dari Kevin.


" Meskipun kamu hamil anakku sekarang ?"


Meyra menyentuh perutnya yang rata. Kenapa bisa Kevin bicara seperti itu !!


Dia tidak mungkin hamil kan ?


" Aaa...pa..? Apa maksudmu !! jangan asal ngomong deh .."


Meyra kini menatap Yuli, apa iya dia sedang hamil sekarang ?


" Jikapun belum, Kita bisa terus melakukan olah raga, supaya janin itu segera hadir..."


Meyra nyaris menimpuk Kevin dengan hape yang ada ditangannya. Dia sudah panik, tapi rupanya lelaki itu hanya bercanda.


" Jangan mimpi.."


***


Sejak itu Dia inisiatif menghubungi Hendra lebih dulu. Dan sudah beberapa hari ini Meyra semakin akrab dengan sosok Hendra. Mereka sering bertemu dan aktif bertukar kabar melalui aplikasi Wa.


Meyra perlahan lupa akan sosok Kevin. Dan merasa nyaman dengan Sosok Hendra yang sopan dan juga ramah.


Apalagi usia pria itu juga diatasnya. Jadi bisa mengayomi Meyra dengan baik.


Rencananya, Meyra dan Hendra akan bertemu hari ini. Namun sejak bangun tadi, Meyra merasakan semua anggota tubuhnya terasa sakit, perutnya juga mendadak mual, saat mencium aroma masakan Yuli..


" Lo kenapa Mey ?"


"Keseringan begadang nih gue , makanya masuk angin deh kayaknya.."


Yuli mendekati Meyra menyentuh kening sohibnya, semua nampak normal. Tapi melihat Meyra dari tadi bolak-balik kamar mandi karena mual. Yuli malah berpikir jika Meyra , pasti beneran hamil kali ini.


" Lo terakhir halangan kapan?"


" Loh nuduh gue hamil, lagi !!"


Yuli mengedikkan bahu " Siapa tahu kan? Apa salahnya kita ke dokter sekarang untuk memastikan.."

__ADS_1


" Enggak ah, nggak mungkin kalau gue hamil.. Lo jangan nakut- nakutin gue deh Yul. Nggak lucu tahu nggak !!"


" Semua kemungkinan bisa saja terjadi kan ?"


Meyra terdiam, dan kini memilih duduk di sofa tamu. Memandang kosong pada entah apa yang ada didepannya.


[ maaf Hen, rencana batal.Aku nggak enak badan nih 😞]


Meyra mengetik pesan ke Hendra, dan sepertinya pria itu juga sedang memegang hapenya. terbukti kini Meyra telah mendapat balasan dari pesan yang baru saja dikirimnya.


[ Kamu kenapa ? Aku kesana ya, jenguk kamu ]


Meyra merebahkan dirinya dengan santai, menunggu kedatangan Hendra. Jujur saja kini dia tengah khawatir jika apa yang Yuli katakan tadi adalah benar adanya. Dia meraba perutnya, Dia pernah hamil seharusnya dia tahu kan jika memang, dia sedang hamil sekarang ?


Bel apartemen berbunyi, membuat Meyra dengan sungkan, beranjak. Tapi ,mendadak tubuhnya limbung , penglihatannya gelap dan dia tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, samar dia hanya mendengar Yuli berteriak memanggil namanya kemudian semuanya menjadi hening. Meyra telah kehilangan kesadarannya.


Yuli yang mendengar bel berbunyi memang bergegas ke depan, untuk membukakan pintu. Belum juga sampai, kini dia malah melihat Meyra jatuh pingsan didekat sofa ruang tamunya,.


Yuli panik, tapi masih berinisiatif untuk membukakan pintu untuk sosok entah siapa yang kini bertamu. Siapa tahu bisa memberikan pertolongan pada Meyra secepatnya.


Hendra menatap aneh dengan kekakuan Yuli. Diapun melongok kedalam dan menemukan tubuh Meyra tergeletak dilantai .


Dia segera masuk, disusul oleh Yuli yang tampak linglung karena panik.


" Bawa ke rumah sakit langsung aja Hen..!!!" Yuli berteriak dengan tak sadar.


Hendra dengan sigap membopong tubuh Meyra dan membawanya keluar diikuti Yuli, mereka segera menuju rumah sakit terdekat.


***


Meyra kini merasa jika ada seseorang yang tengah memanggil-mangil namanya. Meski terdengar sangat pelan dan Samar. Perlahan dia berjalan mengikuti cahaya yang menyilaukan mata, tapi nampak menarik perhatiannya. Tanpa sadar, Dia malah melihat jika anak dan ibunya kini melambai penuh air mata. Meyra kalut, bagaimana mungkin mereka menangis seperti itu. Seolah kini dia telah berada jauh dari mereka..


Meyra membuka mata dengan ngos-ngosan , rupanya dia tengah bermimpi. Namun dia dikejutkan dengan infus yang kini terpasang ditangannya, Meyra mengedarkan pandangannya dan melihat dengan jelas, jika dia kini berada di ruangan serba putih. Tak salah lagi, dia di rumah sakit sekarang..


Ada Yuli dan juga Hendra yang kini menatap kearahnya dengan penuh senyum yang bagi Meyra menyimpan luka dan keanehan..


" Gue kenapa Yul ? "


" Lo nggak kenapa-napa Mey, cuma infus vitamin. Biar dedek bayinya sehat.."


Deg....


" Gue Hamil ?"

__ADS_1


__ADS_2