
Meyra POV
Hari ini Adalah hari terakhir bagiku, Sesuai janjiku pada Selin jika Aku Akan pindah dari sini . Rasanya Berat memang, ketika kenyamanan lingkungan sudah kita dapatkan . Namun bukankah hidup ini penuh konsekuensi dan pilihan. Aku jelas bisa memilih jalanku Sendiri, karena aku punya Hak untuk itu.
Tapi inilah konsekuensi yang aku dapatkan dari tingkah lakuku yang berada di jalan yang salah.
Orang bilang, sebelum janur kuning melengkung . hak bersama! Kenyataannya adalah apakah aku mempunyai hak itu ? sedangkan , aku hanya pelampiasan sesuatu yang disebut nafsu.
Aku sudah menghubungi uwak kemarin , dan rencananya nanti malam aku akan terbang ke Bengkulu, meninggalkan Kota ini, kota dengan sejuta kenangan. Jangan ditanya bagaimana nelangsanya aku. Bahkan Dari semalam aku tak mampu menutup mataku sekedar melepaskan beban pikiran. Aku terlalu takut, jika harus mengahadapi Ibu. Tapi jika aku bertahan disini, sama saja aku egois.
Aku harap aku tidak merepotkan Ayuk dari ibuku itu.
Karena aku tahu ekonominya tak stabil, pekerjaannya yang hanya tukang sapu jalanan ,sungguh tak memadai. Sementara ia harus menghidupi 4 anak dan juga cucu-cucunya yang masih kecil.
Jangan tanya bagaimana uwak harus menjalani hidupnya dengan beban yang sebenarnya bisa saja ia abaikan. Namun, Ibu mana yang tega, jika harus abai kepada anak yang tak beruntung dalam berumah tangga. Ya , kedua anak uwak sudah menikah, namun masih hidup satu atap dengan uwak. Memikirkan akan menjadi tambahan beban bagi uwak, membuatku dilema, masalah uwak sudah cukup berat. Haruskah aku menambahnya dengan masalahku ?
Yuli akhirnya datang, Tidak biasanya dia banyak bicara. Namun hari ini, semua yang telah dilaluinya dijalan menuju kesini malah jadi Omelan. meski tangannya bergerak gesit membantuku mengemas pakaian milikku yang tak seberapa.
ahh andai saja yang menjadi klienku malam itu bukan Kevin. Pasti hidupku tak akan serumit ini.
" Nih ada titipan Selin !"
Yuli menyodorkan sebuah amplop putih yang masih tersegel . Aku sebenarnya bisa menebak ini apa,
" Tolong balikin ya Yul.."
Amplop itu ku selipkan disaku seragam kerja Yuli, tanpa membukanya.
" Dia bilang kalau Lo balikin ,Dia bakal datang kesini !"
" Lo bakal bilang ke Selin kalau gue balikin ! Kan bisa Lo kasihkan ke dia saat Gue udah pergi !"
Aku sedikit kesal, Yuli disini sebagai sahabatku atau Selin sih ? jikapun Ia ingin berdiri ditengah-tengah setidaknya ,dia tidak menekan ku, dengan harus menerima pemberian Selin itu .
__ADS_1
" maaf, Gue nggak maksud jahat kok Mey, Gue tahu kalau isi amplop ini tuh, Cek. Meski Gue gak tahu nominalnya berapa. Gue juga tahu, kalau Lo merasa jahat kalau harus menerima ini setelah apa yang Lo lakuin ke Selin. Tapi pikirin juga Diri Lo Mey, Lo udah nurutin Selin dengan pergi jauh. Lo udah ngorbanin masa depan Anak Lo. Kemarin saat Lo cerita mau buka usaha, Lo bicara seolah-olah kesuksesan Lo udah didepan mata. Dan Lo tinggalin impian itu demi Selin, Demi jaga perasaan Dia. Anggap aja ini Ganti Rugi, karena Selin udah membuat Lo mengubur dalam-dalam impian Lo. Inget Mey. Ini bukan hanya tentang Lo ,ini juga tentang anak-anak dan Ibu lo .."
Bayangan wajah ibu seketika memenuhi pikiranku.Rifki dan Bagus tak kalah membuat hatiku Resah, memang sekarang aku bahkan belum punya gambaran akan melakukan apa. Otakku teras buntu .
aku menerima amplop itu ketika Yuli kembali menyodorkannya padaku.
"Terima kasih Yul, Gue nggak nyangka akan dianugerahi sahabat sebaik Elo. Kalo Lo ada Waktu nanti main-main ke Bengkulu Ya, Dan semoga saja saat Lo datang ke sana, Lo udah nggak jomblo lagi "
jika biasanya Yuli akan mencebik dan mengatakan jika ia trauma akan Lelaki ,maka tidak dengan kali ini .
perempuan yang usianya lebih muda 2 tahun dari ku itu malah mengangguk dan memelukku erat. Air mataku tumpah ,seiring dengan basahnya bagian bahu bajuku, Yuli ikut menangis.
*****
Kevin POV
Setelah berdebat panjang , dengan hati dan pikiran. Aku memutuskan datang kesini. Ke Apartemen yang sejatinya Adalah hadiah dari Almarhum mama. Beliau sempat berpesan jika aku harus menjadikan apartemen ini sebagai hadiah pada perempuan yang aku cintai nanti.
Aku membuka pintu dengan perlahan, meski janjiku pada Selin akan melupakan Meyra ! namun tetap saja aku masih menyimpan kunci duplikat apartemen ini. Tak ada Alasan khusus, namun seolah telah terpatri di hatiku ,jika suatu saat nanti kunci ini akan ku gunakan kembali.
Dua koper besar menyambut ku setelah pintu terbuka sempurna, sebuah tas bahu juga telah tersampir di atas salah satu koper.
Aku ingin lebih jauh menelisik kedalam. Tapi kini mataku malah terpaku pada sosok Meyra yang nampak kaget dengan kehadiranku.
wanita itu menggunakan Kaos polos tak berlengan, dengan celana bahan hitam . di bahunya nampak ada sebuah jaket jeans , sepertinya Meyra belum sempat menggunakannya.
Suasana terasa canggung sekarang, Meyra yang biasanya selalu menguncir rambutnya, kini membiarkan rambut lurus panjangnya tergerai. Wajah segaris Angelina Jolie itu , dihias dengan make up tipis namun menawan. Sungguh , penampakannya saat ini benar-benar membuatku terhipnotis. Iris coklatnya seolah, memintaku untuk bicara.
Kami kini telah duduk berhadapan .
" Apa kalian butuh waktu berdua ? "
Suara Yuli ,menyadarkan ku. Aku bahkan Lupa jika ada sosok lain selain aku dan Meyra.
__ADS_1
" gak Yul, Lo disini aja ! "
Aku baru saja hendak meminta Yuli untuk memberi kami privasi, tapi Suara Meyra lebih dulu menginterupsi.
" Ada apa Vin ! " Meyra menatap jam didinding, Seolah mengkhawatirkan sesuatu.
" Lo mau pergi ! kemana ?"
Aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku ketika pertanyaan itu, terlontar dari mulutku .
aku terdiam cukup lama menunggu jawaban, namun Meyra maupun Yuli tak ada yang Mau buka suara
" Kemanapun Gue itu bukan urusan Lo Vin. Gue harap ini pertemuan kita yang terakhir !"
Meyra nampak beranjak " Waktu gue gak banyak, Gue pamit.."
" Lo nggak bisa pergi kalau belum kasih tau gue Lo mau kemana ? " aku nyaris berteriak dan mencekal tangannya dengan marah.
" Lo gak punya Hak, untuk tahu apapun tentang Gue. ."
mata bulat itu nampak berkaca-kaca, membuatku ikut Merasa Sesak .
" Stop bikin hati gue ngerasa Tertekan, Elo nggak tahu seberapa berpengaruhnya sikap elo ke Gue ,Vin !"
Perkataan Meyra jujur saja membuatku bingung.
" maksud Lo apa Mey ? "
" Gue bakal pergi jauh dari Lo Vin ! Tapi , satu hal yang harus Lo tahu tentang Gue. sejujurnya semua ini ingin Gue simpan, Tapi . Berhubung elo disini. Entah kenapa Gue pengen Lo tahu . Kalau Gue cinta sama Lo Vin, terlepas apapun pandangan Lo terhadap Gue. Gue gak bisa bohongin perasaan ini.. "
Aku Diam. Entah kenapa ? pernyataan Cinta Meyra seolah hukuman bagiku. Semua bayangan kebersamaan kami , terekam jelas di otakku. Hingga suara pintu tertutup ,kembali menyadarkan ku, Sosok Meyra dan Yuli kini tak ada lagi. Koper Meyra bahkan telah lenyap.
Aku masih syok dengan kenyataan yang aku dengar, Bayangan Selin yang menangis, seolah berusaha menyadarkan ku. Tapi haruskah aku menyimpan perasaan ini ? Jika memang Meyra akan pergi jauh, kenapa aku harus menyakiti hatiku sendiri dengan rasa terpendam ini ! Tidak, Meyra harus tahu. Apapun keputusan yang diambil, olehnya nanti. Aku tetap harus mengungkapkan perasaanku...
__ADS_1