Teman Ranjang

Teman Ranjang
Bab 46


__ADS_3

Kevin masih terus mencari keberadaan Meyra. Jam segini Pasti Yuli masih ada di restoran. Mengingat hal itu Kevin segera menuju ke sana. Yang dia tahu Meyra tak mempunyai teman dekat selain Yuli. Dan kemungkinan dia datang ke restoran sangat besar. Bukankah jika seseorang yang patah hati akan menuju kesebuah pelukan hangat orang terdekatnya .


Mengingat akan semua perkataannya tadi didepan Meyra sungguh membuatnya merasa merana. Bagaimana bisa dia menjawab cepat tanpa memikirkan perasaan wanita itu yang mungkin saja bisa salah paham.


Lalu jika nanti dia bertemu Meyra hal apa yang akan dia katakan ?


Kevin mengacak rambutnya gusar, memikirkan pertemuannya kembali dengan Meyra membuatnya sedikit takut dan tak nyaman. Dia belum siap untuk menikah. Tapi jika soal perasaannya pada Meyra dia tak akan meragukannya. Sekelumit pikiran yang memenuhi otak Kevin membuatnya tak sadar jika dia kini telah berada diparkiran Mall.


Kevin berdiri didepan kaca transparan restoran, dapat dilihatnya jika Yuli masih sibuk melayani pelanggan. Lalu kemana Meyra ? Tak akan mungkin jika Meyra menunggu di pantry saat hatinya sedang tidak baik-baik saja sekarang. Apalagi Yuli nampak riang, seolah tak ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Lalu kemana Meyra pergi?


Tringgg....


[ Lo gak lupa kan kalo gue udah pasang pelacak dan alat sadap di hp Lo ?]


Sebuah pesan menginterupsi aktivitas Kevin yang masih memantau Yuli. Dia nampak cuek dan malah berniat membalas pesan dari Stella itu


[ Gue nggak perduli. Lo sama sekali nggak penting ]


[ Lo nantangin gue ?]


Kevin menekan Blokir pada gawai . Malas jika terus-terusan diteror wanita gila seperti Stella.


" Kenapa kesini Vin ? " Suara Yuli terdengar membuat Kevin menoleh.


Rupanya Yuli sedari tadi sudah menyadari kehadiran Kevin. Namun Kevin yang malah betah berdiri lama disini malah membuat Yuli merasa harus menghampiri Kevin.


" Meyra katanya mau ke rumah Lo. Kok nggak kesini bareng Lo . Mana Meyra ? "


Kevin sedikit menampakan raut salah tingkah membuat Yuli menatap sosok itu penuh curiga" Kalian Putus ? "


" Nggak Yul. Kita ada sedikit salah paham aja. Makanya gue kesini. Gue pikir dia bakal kesini nemuin Elo..!"


" Masalah apa ? nggak ada. Meyra nggak kesini. Pasti masalah yang serius, kalau nggak, mana mungkin Lo sampai keringetan nggak jelas dengar pertanyaaan gue."


Kevin mengangguk. Namun dia tidak bisa menjelaskan secara detail apa yang telah terjadi. Karena memang ini juga akan berhubungan dengan Yuli nantinya. Kejujurannya akan membuat sahabat dekat Meyra itu terluka, dan tentu saja hal itu harus dihindari oleh Kevin.

__ADS_1


Persoalan dirinya akan semakin rumit jika dia nekat melibatkan Yuli dalam mengatasi masalah yang mereka sedang hadapi sekarang.


" Tapi maaf . Gue nggak bisa cerita sama Lo Yul. kecuali jika Meyra yang lebih dulu cerita..."


Kevin memandang Yuli meminta pengertian gadis itu .


" Biasanya kalau lagi galau Mey akan kemana Yul?"


Yuli nampak berpikir dengan serius " Nggak tahu juga sih Vin. Tapi biasanya dia lebih nyaman ngurung diri dikamar..


Lo udah cek ke apartemen gue ? "


" Sudah tapi nggak ada tanda-tanda orang di dalam. Apa Meyra sengaja diem agar gue nggak bisa bertemu sama dia ya !!"


" Bisa jadi sih. Tapi biasanya dia selalu ngehubungin gue jika terjaid sesuati tapi sekarang nggak ada tuh pesan maupun panggilan masuk dari Meyra.."


Yuli menunjukan Hapenya kearah Kevin.


Kevin kini terdiam. " Coba Lo hubungin Yul. siapa tahu diangkat.."


Yuli segera menekan hape untuk menghubungi Meyra. Namun hasilnya malah operator yang menjawab. Nomor sahabatnya itu malah tidak aktif. Yuli berusaha mengerti,mungkin Meyra memang membutuhkan waktu untuk sendiri. Memikirkan itu pandangannya kini ia arahkan ke Kevin, yang menatapnya penuh harap.


" Dimana pun Meyra sekarang gue bisa pastiin jika dia baik-baik saja. Dia hanya perlu waktu untuk sendiri. Dan gue harap Lo juga mengerti akan hal itu. Jadi Lo nggak usah berusaha cari keberadaan dia.. "


Yuli menepuk pundak Kevin, Kemudian dia masuk lagi kedalam Restoran untuk bekerja kembali.


***


Meyra masih betah duduk santai disini. Memandang jalanan yang mulai padat karena jam pulang kantor. Meski raganya nampak tegar namun dia merasa jiwanya telah melayang entah kemana. Hapenya juga kebetulan kehabisan Daya membuatnya semakin nelangsa, semesta seolah tengah memberinya hukuman akan dosa yang selama ini seolah telah dinikmatinya..


Hal hal sulit selalu dia hadapi ketika bertemu dengan sosok Kevin. Otaknya malah berkelana dipertemuan pertama mereka yang memang merupakan sebuah kesalahan namun tidak bisa untuk disesali oleh Meyra. Karena secara tidak langsung Kevin telah menolong anaknya Rifki untuk mendapatkan kesempatan kedua dalam hidupnya. Kemudian ingatannya malah kearah dimana dia sekali lagi terbuai oleh Kevin yang datang dengan sejuta rayuan dan memang berhasil membuatnya terlena hingga rela dijadikan teman ranjang pria muda itu.


Seharusnya disinilah penyesalan dan rasa bersalah mampu membebaskan Meyra tapi nyatanya dirinya semakin dalam jatuh terperosok dan melupakan Harga dirinya sebagai seorang perempuan.


" Kamu Meyra kan ? "

__ADS_1


Meyra mendongak , menatap si pemilik suara dengan bingung


" Iyah .. siapa ya ?"


Ucapnya malah bertanya balik.


" aku Hendra teman SMA kamu dulu. Apa kabar kamu Mey, gila belasan tahun berlalu kamu nggak ada berubah ya. Malah makin cantik sekarang.."


Meyra menunjukkan raut bingung. Bagaimanapun usahanya untuk mengingat kembali wajah didepannya tetap saja dia tak dapat petunjuk apapun.


" Boleh aku duduk disini ? atau kamu lagi nungguin seseorang !!" Sosok berperawakan tinggi kekar itu melihat sekeliling merasa sungkan jika wanita didepannya ini malah sedang ada janji bertemu dengan orang lain.


" Oh si..lakan duduk. " Meyra menjawab terbata sembari pikirannya masih mencoba mengingat siapa gerangan lelaki ini.


Hendra kini duduk didepan Meyra. Dia menyadari jika Meyra tak bisa mengingat tentang dirinya " Aku pindah ke kota ketika kita kelas dua. Aku maklum sih . Kamu nggak akan ingat, aku mah apa atuh ??"


Hendra terkekeh dengan ucapannya sendiri.


Meyra ikut tersenyum canggung " Maaf aku beneran nggak ingat. " Raut wajah Meyra menunjukan penyesalan.


" Its okay.. Santai aja. Kita bisa kenalan lagi kan... "


Lelaki itu mengulurkan tangannya " Aku Hendra, pengagum rahasia mu saat SMA. Kalau dulu aku gagal, sepertinya aku akan berusaha lebih keras lagi agar tak mengulang kegagalan dimasa lalu...." Lagi-lagi sosok Hendra terkekeh.


"Atau kamu sekarang sudah ada pendamping?"


Meyra menggeleng, sejujurnya dia merasa takjub sekaligus takut. Jika dilihat-lihat sosok Hendra lumayan tampan. Tubuhnya tinggi , kulitnya kuning langsat dengan alis tebal dan mata yang tajam.


Ditelinga nya candaan lelaki itu masih terasa garing. entah ini karena kondisi hatinya yang sedang tak mendukung atau memang dia hanya ingin sendiri saja sekarang. Menikmati dan berusaha memikirkan keputusan yang telah dia lakukan beberapa jam yang lalu.


Meyra memalingkan wajahnya, suasana kini terasa hening .


" Putus cinta ? mau tahu tempat yang nyaman buat berkeluh kesah !! Sekaligus menyalurkan Hobi lamamu. Bukankah kamu suka menyanyi...!!!!"


Meyra kini berbalik menatap Hendra lagi. Sedetail itu pria ini mengenalnya, Tapi nyatanya ingatannya sama sekali tak bisa merekam jejak keberadaan lelaki ini dimasa lalunya.

__ADS_1


__ADS_2