
Dua Minggu telah berlalu, Meyra nampak acuh dengan peringatan Stella. Lagipula Kini Ia berada dijalan yang benar, Bahkan Kevin tak pernah menemuinya lagi. Jadi apa yang sebenarnya Stella takutkan, Tapi tetap saja ia was-was. Kenapa seolah ada sesuatu yang lebih menakutkan akan terjadi dari sikap gadis itu,
[ Lo akan terima konsekuensinya!!!]
Meyra mengernyit. Rupanya semua ini belum usai. Apakah ini juga berkaitan dengan penculikannya tempo hari. Meyra berusaha berpikir tentang orang lain yang mungkin bisa jadi tersangka , namun nihil, Apakah Stella akan terang-terangan menunjukan diri didepan meyra.
[Ya . Ini aku ! Rupanya kau menganggap ku terlalu baik]
Belum sempat ia menyelami isi pesan itu. Dering Hp membuatnya tersentak, Nama ibu terdapat dilayar dan tengah menelponnya. dengan perasaan was-was, Meyra menggeser layar ke kanan .
Setelah mengucapkan salam Suara Ibunya terdengar panik
' Mey !!! Bagus sama Rifki dibawa sama Neneknya. Mereka bilang nggak Sudi kalau harus memberikan hak pengasuhan Anak-anak ke kamu yang seorang pelacur ! ' Suara tua itu terdengar bergetar ditelinga Meyra.
dengan tenang , Meyra menjawab ' Biarkan saja Bu ! bukankah ini weekend. Mungkin Ibunya Dendi sudah mulai menyayangi cucunya juga Bu. Ibu harus berpikir positif..'
' sebenarnya yang menjadi pikiran ibu bukan itu. Tapi tuduhan mereka terhadapmu. Apa benar yang mereka katakan? ' Meyra menarik nafas berat sebelum menjawab pertanyaan ibunya, Ia juga mencoba menormalkan detak jantungnya. Mungkin Tuhan tak suka kebohongan dan waktu ini telah dipilih oleh penguasa semesta sebagai saat yang tepat untuk membuka kedoknya.
' Bu. Sebagai orang yang telah melahirkan ku, tentu ibu lebih tahu bagaimana anakmu ini..!"
' jawaban kamu tak menjawab pertanyaan Ibu Mey. karena ibu tahu kamu, makanya ibu mau kejujuran mu. Tak akan ada asap jika tak ada api..
Kamu sudah dewasa Meyra. Sekarang bukan waktunya lagi kamu bertindak semau mu. Ada Rifki dan Bagus yang akan berdampak pada perilaku mu itu. Jikapun Iya , maka ibu minta kamu hentikan.. '
Meyra diam. Tak mengiyakan ataupun membantah akan perkataan ibunya.
' Ibu mau rewang ke tetangga, kebetulan disini ada hajatan. Sebaiknya kamu telpon anak-anak mey. Biar mereka senang..'
' Ya Bu. pasti..!'
' Assalammualaikum...!'
Meyra mematikan telpon setelah menjawab salam. Apa ini kelakuan Stella..?
[ Lo akan kehilangan banyak hal, jika Lo tetap disini!!!.. Ini baru awal]
__ADS_1
Meyra membaca pesan itu berulang-ulang. jika sebelumnya dia akan sedikit takut namun kini Dia harus bertindak sebagai seorang ibu yang akan melindungi anaknya apapun yang terjadi.
[ Lo salah lawan ..! Dulu gue takut karena memang gue salah. Tapi sekarang. Lo udah mengusik seorang Ibu . apapun alasan Lo, jelas gue tak akan terima..]
Send....!
Centang Biru.
Meyra terlalu fokus hingga tak menyadari jika Yuli kini telah disampingnya. Yuli yang telah sedari tadi mengamati tingkah Meyra menyentuh pundak sahabatnya itu.
" Lo baik-baik aja kan Mey ?"
Meyra tersentak, kemudian senyum terbit di bibirnya mencoba menunjukkan pada Yuli bahwa dia baik-baik saja. " memangnya gue kenapa ?"
" Lo sedari tadi kayak gelisah gitu. Yakin Lo oke ?" cecar Yuli lagi.
"Gue baik Yul. Makasih udah perhatian.. Tapi memang ada sih yang bikin gue khawatir !"
Meyra menunjukkan senyum aneh ke Yuli " Lo sama Om Lo itu, udah ada rencana belum sih? Gue khawatir kalau nanti Lo nikah , terus gue kemana ?" Meyra mencoba mengalihkan pikiran Yuli.
Yuli kehabisan kata-kata. Dia kini menangis dalam diam.
seraya mengelus bahu Yuli , Meyra meminta Sahabatnya itu menatapnya " Gue mau tanya , sejak kapan Lo merasa seperti ini ? Apa ada perubahan dari diri David ? "
Yuli menganguk sebagai jawaban " Dia masih sering sih kasih kabar, ngajak ketemuan. Tapi kalau ketemu dia kayak jaga jarak. Kayak ada sesuatu yang nahan dia untuk ngungkapin rasa cintanya ke gue !"
Meyra terdiam. Apa ini ada hubungannya dengan dirinya ? haruskah Dia mengatakan semuanya ke Yuli . Agar tak terjadi kesalahpahaman dikemudian hari.
**********
Meyra diberi tugas belanja bulanan oleh Yuli. Mereka memang baru saja Gajian. Biasanya mereka akan selalu belanja bersama. Namun tadi, Yuli meminta izin untuk ketemu dengan kekasihnya. Jadilah hanya Meyra yang kini sibuk memilih aneka cemilan maupun lauk di supermarket langganan mereka. Dalam kegiatannya Sedari tadi Meyra merasa ada sosok yang diam-diam mengikutinya. Semakin dia memungkiri Rasa parno nya , Dia semakin takut.
Kini Taksi telah membawanya , namun tetap saja kekhawatiran Meyra tak bisa dihilangkan. Berulang kali dia menoleh kebelakang memastikan tidak ada mobil ataupun motor yang mencurigakan.
Meyra semakin mempercepat langkahnya ketika semakin dekat dengan pintu apartemen Yuli. Pintu yang tidak dikunci memudahkan meyra untuk masuk, pintu ditutupnya dengan cepat kemudian menguncinya.
__ADS_1
Meyra menyenderkan tubuhnya ke pintu , mencoba menormalkan detak jantungnya .Ketika telah merasa aman Meyra menatap ke depan , Dia menemukan Yuli yang kini nampak duduk berhadapan dengan lelaki yang membelakanginya.
Meyra merasa familiar dengan postur tubuh itu, namun dia tak berani membuka suara sekarang .
" Jadi benar Lo diteror ? " Meyra mengerjap ketika mendengar suara Yuli. matanya seketika bersiborok dengan mata hitam pekat milik sahabatnya itu.
Meyra berdiri tegap, seolah tak terjadi apa-apa walaupun Ia Yakin jika Yuli telah melihat apa yang sedari tadi di lakukannya . " Gue dikejar anjing Yul ! " entah kenapa hanya alasan itu yang bisa Meyra utarakan .
Yuli kini menelisik wajah Meyra. Dia telah berjalan ke arah janda cantik itu. " Lo tahu ! Gue paling nggak suka dibohongi. Gimana kalau sesuatu terjadi sama Lo Mey. Kenapa Lo nggak jujur ke Gue . melihat kepanikan Lo tadi gue yakin . Teror yang Lo alami sangat mungkin bisa ngebuat lo celaka"
Meyra mengalihkan pandangannya, ketika melihat Yuli menatapnya dengan mata berkaca-kaca. " Untung Kevin kasih tahu Gue !!,"
" Kevin ...." Meyra dengan cepat menghampiri sosok yang sedari tadi tak bergerak dari posisinya, Meyra berdiri tepat didepan lelaki itu, yang ternyata benar itu adalah Kevin.
" Lo tahu sesuatu ? Apa yang sebenarnya diinginkan si peneror ini ? Apakah Lo punya hubungan yang dekat dengan sosok ini ! karena sekuat apapun gue berusaha memikirkan alasannya , jawabannya adalah zonk "
Meyra memberondong Kevin dengan banyak pertanyaan, tak Ia pedulikan tatapan Kevin yang berbeda kepadanya. Fokusnya sekarang adalah keselamatan anak-anak.
" Gue harus jawab sekarang ! "
Pertanyaan santai Kevin membuat Meyra lemas. Dia mendudukkan diri di kursi yang tadi diduduki Yuli." Ini bukan lagi tentang Gue Vin. Ini tentang anak Gue. sebagai seorang Ibu gue gak bisa diam, jika menyangkut Keselamatan anak-anak !"
" Maksudnya , Dia juga ngelibatin anak-anak Lo ? "
Meyra mengangguk sebagai jawaban.
Dering hp Yuli mengalihkan fokus Meyra, Sedang Yuli meminta Izin mengangkatnya dengan isyarat tangan.
" Lo kasih tahu Yuli siapa sosok ini ? " Meyra kembali membuka suara ketika memastikan jika Yuli telah berada diluar jangkauannya.
Kevin menggeleng. " Gue janji. Gue bakalan Bantu Elo . sampai semua ini selesai. Maaf karena Gue , Elo jadi ngalamin hal seperti ini .."
" Jadi Lo tahu apa keinginannya ..? Kasih tau gue , bagaimanapun ini sudah bukan lagi , cuma masalah elo. Gue juga terlibat disini..."
Kevin menatap Meyra ," Stella menginginkan Gue ...!"
__ADS_1