Teman Ranjang

Teman Ranjang
Bab 28


__ADS_3

" Stella menginginkan Gue !" Kevin bicara dengan tenang.


Meyra menatap tak percaya Mendengar jawaban Kevin , " Dia menginginkan elo ? maksudnya ?"


Kevin memperhatikan raut wajah Meyrayang dilanda penasaran hingga tak sadar menggeser meja, agar bisa mendengar lebih jelas jawaban yang akan diucapkan Kevin " Ya, Dia itu psikopat. Ternyata apa yang terjadi beberapa bulan kebelakang, sudah direncanakan oleh perempuan itu..."


"maksudnya.. semua kejadian ini terjadi karena campur tangan Stella ? "


Meyra menatap Kevin semakin intens lagi. Kini Ia seolah meragukan tuduhan Kevin. " Lo nggak lagi Lempar batu sembunyi tangan kan ? jelas-jelas semua berawal dari Lo Vin ! Bisa -bisanya Stella yang baru Datang. menjadi orang yang bertanggung jawab akan semua ini ? "


Meyra nampak berpikir, " Stella Bilang kalau dia sepupu Selin . Mungkin kedekatan mereka yang buat dia ngerasa harus balas dendam ...! "


" Mereka emang Sepupu Mey, Tapi nggak sedekat itu . Stella punya riwayat Sakit jiwa. Makanya kuliahnya nggak kelar-kelar.."


"Jadi sejak kapan Dia kenal sama Lo ? sampai Lo bisa sepercaya diri itu ngomong kalau sasaran sesungguhnya itu Elo.." Meyra masih mencari celah kebenaran yang mungkin bisa ia percayai , dan menerima semua ini.


" Stella itu satu sekolah sama Gue, Bahkan mungkin sekelas . Tapi gue aja yang gak terlalu memperhatikan.." Kevin nampak menerawang jauh . Dan kini memandang lekat kearah Meyra " Jujur. Gue khawatir sama Lo karena penculikan waktu itu. Jadi gue bayar seseorang Buat menyelidiki semuanya. Gue awalnya nggak percaya Mey. Sampai semua Bukti Gue dapatkan..."


" Lo punya buktinya ? " kejar Meyra cepat, " Mana ? Lo udah lapor polisi ? "


Kevin menggeleng. "Stella itu putri satu-satunya om David Mey, Ibunya meninggal ketika melahirkan Stella . sejak saat itu om David membesarkan Stella dengan penuh kasih sayang, Om David bilang ke gue, jika Stella dipenjara karena laporan gue. Dia bakalan Nekat terhadap Yuli.."


Meyra melongo mendengar cerita Kevin " Jadi. Anak sama Bapak itu semuanya psiko. ? Kasian Yuli harus terjebak dengan semua rencana jahat mereka.." Memikirkan Yuli membuat Meyra Lemas " Jadi kedekatan om David dengan Yuli pun karena Stella. Bisa-bisanya mereka berbuat serapi ini ?"

__ADS_1


Meyra yang sedari tadi menggebu ingin membalas pun kini nampak terdiam.


Kevin memperhatikan Meyra dengan seksama, jujur Ada Rindu yang meletup seolah mencari pelampiasan. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.


" ngomong-ngomong gimana kabar Lo Mey ? sepertinya kita udah lama banget Ya nggak ketemu !"


Kevin memperhatikan seluruh isi Apartemen. Jikapun Meyra tak menjawab pertanyaannya dia merasa itu lebih baik.


" Seperti yang Lo liat . Gue baik..! Jangan Diingat Apapun yang bakal bikin Luka itu kembali Vin.." Meyra sebenarnya nampak gugup, situasi yang tadinya nampak tak berpengaruh tapi kini seolah mendinginkan hati mereka yang seharusnya hangat.


" Apa tak ada kesempatan Mey ?"


Meyra menggeleng. " Kesempatan tak pernah Ada pada hubungan kita Vin. meskipun dari awal ini diperbaiki akan tetap pada posisinya. Yaitu Tidak mungkin.."


sebelum Kevin menyelesaikan kalimatnya, tubuh Meyra menegang, " Apa mungkin kecelakaan Selin juga sabotase Stella ? " cicitnya parau, memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Jika memang Iya , maka bagaimana mereka bisa tenang dan membiarkan Yuli bernafas diantara orang-orang itu.


Kevin yang tak berpikiran sampai kesitu malah merasa jika ucapan Meyra ada benarnya, Semua bisa saja Stella lakukan. " Aku akan menyelidiki soal ini, Kalau bisa kamu tahan Yuli agar jangan dulu terlalu dekat dengan Om David ..!"


Meyra mengangguk, wajahnya nampak pucat. entah kenapa suhu tubuhnya seolah naik namun dia merasa sangat kedinginan.


*****


Yuli memperhatikan Meyra dan Kevin yang terdiam dengan pandangan menerawang " kalian nggak lagi ngomong pake telepati kan ? "

__ADS_1


Yuli duduk di samping Meyra setelah meminta sohibnya itu menggeser posisi. " Atau kehadiran gue yang buat kalian terdiam.."


Meyra menggenggam tangan Yuli, ia mencoba menata suaranya agar terdengar senormal mungkin "Siapa tadi yang telpon ? "


Yuli menelisik hal yang tak biasa dari Meyra, terlebih tangan Wanita itu terasa dingin digenggaman nya , ' mungkinkah Meyra grogi akan kehadiran Kevin ?' memikirkan itu membuat Yuli terkikik geli.


" Kenapa Yul ? Ada yang lucu sama pertanyaan gue ? " Meyra yang harap-harap cemas malah dibuat bingung dengan reaksi Yuli..


" Nggak kenapa-napa sih ? " jawab Yuli sambil tersenyum aneh Dimata Meyra. " Iyah tadi David yang telpon, nanyain gue lagi dimana . Ya gue jawab aja lagi di rumah sama kalian.."


Yuli menatap lekat Meyra "Emang kenapa sih ? Kok kayaknya kalian tegang banget , apa kalian grogi karena sudah lama nggak ketemu..."


" Nggak kenapa-napa kok . Oh ya Vin, kok Lo tahu gue pernah diculik ? " pertanyaan Meyra, membuat Kevin dan Yuli saling pandang. Meyra juga tidak mengetahui kenapa dia tiba-tiba penasaran dengan ucapan Kevin tadi.


Yuli yang menyadari jika Kevin nampak mati kutu, segera menatap serius ke Meyra " Yang bawa Lo pulang kesini tuh Kevin, yang ngedobrak pintu juga Kevin. Ya intinya pada malam itu Roby minta tolong ke Kevin. Gitu.."


" Kok Lo nggak bilang kalau Kevin juga ikut kesana nolongin gue ? Pantesan Gue samar -samar mencium aroma .....ehh" Meyra menutup mulutnya yang hampir keceplosan . matanya kini meneliti reaksi Kevin yang juga menatapnya . Namun sepertinya lelaki itu tampak cuek saja dengan apa yang baru Meyra katakan.


" Aroma apa ? Aroma tubuh ? aroma parfum atau aroma -aroma yang lain ..." Yuli kini menggoda Meyra dan membuat Meyra gemas hingga mencubit kecil tangan sahabatnya itu.


" Ternyata ingatan Lo tentang Kevin masih sangat Kuat dong Iya kan Vin ..."


Kevin yang sedari Tadi menatap lekat Meyra kini tersentak, ketika dirinya juga digoda oleh Yuli. Namun ia berusaha menetralkan ekspresinya supaya tak kentara, Jika ia juga sedang malu .

__ADS_1


Meyra jangan ditanya , Karena kini Dia malah menggelitiki Yuli yang telah berhasil membuatnya salah tingkah didepan Kevin.


__ADS_2