Teman Ranjang

Teman Ranjang
Bab 20


__ADS_3

Meyra POV


Sebulan sudah aku disini, Dikampung halamanku. Tempat aku dilahirkan.


Kepergian Selin karena kecelakaan juga Membuat ibu sedih, Ibu sempat melarang ku pulang karena cicilan hutang. Namun aku menjelaskan jika kedua orang tua Selin telah mengikhlaskan saja Hutang itu.


Ibu mengerti, namun memintaku memikirkan lagi jika harus Terus terusan Disini tanpa pemasukan.


Aku tahu kekhawatiran ibu, sebenarnya niatku sekarang telah berubah. Aku hanya ingin menjadi petani, mengelola kebun kopi peninggalan Ayah dan juga Tentu aku dapat terus bersama kedua putraku, membayangkan akan berjauhan lagi dengan mereka membuatku , merasa Berat !


" Mey, Kapan kamu mau merantau lagi ? ibu nggak bermaksud ngusir kamu. Tapi jujur Mey, keberadaan kamu disini membuat ibu was-was.."


Kami Sedang menikmati acara Tv sekarang, Tv yang baru ku beli kemarin . Bagus terus-menerus mengatakan pada ku tentang kekesalannya pada tetangga, yang selalu mematikan Tv miliknya pada saat kartun kesukaannya baru saja dimulai. Sebagai Ibu tentu aku merasa Iba. Aku masih ada uang jika sekedar untuk membeli Tv. Ternyata memang keluargaku semiskin ini ! Entahlah, Dulu sebelum Dendi meninggalkanku. Hidup kami sangat bahagia , meski serba kekurangan.


Menjadi Petani mungkin terlihat mewah, apalagi di desa kami mayoritas penduduknya merupakan petani kopi. Tapi harga dari pengepul atau Toke . Sangat jauh dari harga di kota.


Daerah kami juga belum punya Pabrik yang mampu mengelola biji kopi. Makanya soal harga sangat tak sebanding, Apalagi kopi dipanen hanya setahun satu kali dengan masa panen, hingga tiga bulan.


" Mey... kamu denger ibu gak sih ? ", Ibu mengamit lenganku yang asyik mengunyah keripik singkong sebagai camilan


Aku cengengesan, Sebenarnya ini bukan kali pertama Ibu membahas soal ini ! Bukan tak Sopan, tapi melihat kejadian yang sudah-sudah . pembicaraan ini akan berakhir dengan kemarahan Ibu.


" Apa sih Bu yang bikin was-was ? jujur Bu, Mey Belum bisa jika harus memulai lagi di rantauan. Gimana kalau , keberuntungan tak lagi berpihak ke aku ? Lagian aku nggak bisa kalau harus jauh-jauh lagi dari anak-anakku Bu "


" Mey, Kuping Ibu tu panas tahu gak! Orang-Orang bilang kamu itu jual diri. Apalagi sekarang kulit kamu tuh putih Bersih. Kamu cantik ngalahin anak ABG tahu gak "


" Anak Bangkotan maksud Ibu hahhahaha "


Aku sebenarnya juga pernah ditanya langsung sama tetangga soal pekerjaanku. Tapi Ya, nama juga dikampung . Harus tebal kuping .. hhhhh


" Yang penting Ibu tahu dan percaya kan kalau yang dituduhkan mereka itu gak benar! Aku itu dari dulu udah cantik Bu. kan Anak Ibu . Cuaca kota dan desa itu beda Bu. Bikin putih dan kinclong ",


Ibu nampak kesal , Lagi !


" Kalau kamu mau jadi petani seperti yang kamu bilang, nanti cantikmu hilang dong ! "


Sekarang aku yang ngerasa Ibu mempermainkan ku,


" Ya Bagus dong Bu! Sebenarnya Ibu itu takut cantikku hilang ? Atau karena pak Dirga yang kemarin datang melamar ku ? ",


Ibu menunduk. " Kamu nggak tahu pak Dirga Mey. Gimana kalau Dia nekad.."

__ADS_1


" Nekat gimana Bu ? "


" Pokoknya Itu Mey !"


Aku sempat menganga tak percaya , karena masalah ini . Ibu sampai mengeraskan suara . Beliau kini nampak menuju ke dapur, Suara-suara aneh terdengar . Apa Ibu marah ?


kemarin memang Aku melihat jika pak Dirga ke Rumah kebetulan Aku sedang menemani Bagus membeli jajanan Bakso. Pak Dirga memang orang Baru dikampung sini. Desas desus yang terdengar beliau adalah pensiunan Tentara. kedatangan Pak Dirga kata Ibu ingin melamar ku. menjadikanku istri ketiganya..


Jujur aku ingin tertawa mendengarnya, Tapi ekspresi ibu malah ketakutan karena permintaan pak Dirga kemarin.


hhuhh Ternyata jadi janda Itu berat. Terbayang Olehku gimana susahnya Ibu menghidupi ku Dulu. Apalagi nenek sudah tiada saat Ayah meninggal.


Aroma pisang Goreng menguar dari dapur. Tadi pagi aku memang menebang pisang dihalaman Samping Rumah . Ada dua sisir yang tampak menguning indah, niatku mau ku makan langsung , eh keduluan Ibu.


" Kok digoreng si Bu ? ", Aku mendekatinya, menatap sepiring pisang goreng yang telah Mateng ,di atas meja !


" Inikan memang pisang gorengan Mey. Kamu itu kayak nggak ngerti aja soal pisang "


Aku tersenyum " Ya aku tahu Buk. Tapi kan masih enak juga kalau dimakan langsung ",


" hooh . Apalagi sama kulit-kulitnya sekalian "


" Ohh kulit pisang ini bisa dimakan juga Ya nek ? Rifki minta satu dong !" Rifki datang dan langsung berniat mengambil pisang yang belum sempat neneknya goreng,


" mungkin kita memang keturunan gelo, kan nurun dari nenek hahhahha "


Dan Ibu langsung mengeluarkan jurus andalan pada cucunya itu. Yaitu gelitikan .. Mereka nampak tertawa bersama . Aku yang sedari tadi hanya diam memperhatikan interaksi sulungku dan Ibu, merasakan hangat yang menjalar di hati. Rifki memang selalu bisa mencairkan suasana. Apalagi jika sang nenek lagi marah.


" Bu ada yang Telpon nih !!!"


Bagus nampak membawa Hp kearah ku, wajahnya nampak kesal. Mungkin karena keasyikannya bermain game terganggu.


" Sebentar Ya , nanti ibu pinjami Bagus lagi .okey ..'


" Ya dek. sekarang mending makan pisang goreng. nanti kakak habisin nangis..." Terdengar sayup suara Rifki mencoba membujuk adiknya.


Aku sengaja mencari tempat yang nyaman, karena Yuli yang ternyata melakukan video call.


Ketika Tombol Jawab kusentuh ,sosok Yuli kelihat dilayar. Yuli nampak sedang lahap memakan mie instan dengan seragam kerja yang masih melekat di badannya. Ketika matanya terarah pad Hp, aku mengisyaratkan padanya untuk lebih dulu menghabiskan makanannya.


' Lo masih suka mie instan '

__ADS_1


' Kita kan satu Hoby hehe '


Entah kenapa semua terasa canggung. Semenjak kematian Selin memang Yuli lebih banyak Diam dan seperti membatasi interaksinya denganku.


' ..Lo baik-baik ajakan disana ?'


Aku mengangguk sebagai jawaban. ' Maafin gue mey, kepergian Selin membuat gue merasa bersalah karena seolah gue di pihak Lo. Tapi gue pikir nih Ya, itukan kematian Itu Takdir. gak bisa ditunda atau dicegah, semaksa apapun kita..


Lo gak benci ke gue kan Mey,,?,


'Gue ngerti posisi Lo Yul. Sedekat apapun kita . Lo pasti lebih dekat ke Selin, dan Gue memang yang salah disini. Gue juga minta maaf ke Elo Yul !'


Aku tak dapat mencegah tangisanku. Sebenarnya aku belum sanggup untuk diingatkan tentang Dosa yang telah aku lakukan. Tapi seterpuruk apapun Aku sekarang , aku masih punya keluarga..Dan mereka memang membantu melupakan sedikit sedihku .


' Lo ada pulang ke rumah ortu Lo yul ? '


Yuli menggeleng, nampak matanya berkaca-kaca. Tapi kemudian Dia menunjukan sebuah Amplop dilayar, Amplop yang diberikan Selin sebulan yang Lalu. Aku memang menitipkannya ke Yuli untuk dikembalikan ke Tante Rosa, dengan sepucuk surat permintaan maaf Tentunya. Jujur kalau harus berhadapan langsung dengan orang tua Selin membuatku semakin merasa bersalah.


' Tante Rosa bilang. Ini hak Elo Mey. Dia juga gak nanya alasan kenapa Lo sampe dikasih cek segini ! .'


Yuli menunjukkan sebuah Cek dengan nominal seratus juta ' Tapi Tante bilang kalau Selin itu tipe Teliti dan hati-hati. Jika ia ingin melakukan sesuatu , makanya Tante minta aku mengembalikan ini ke Elo..'


' Tunggu ! Suratnya Lo kasih kan , sama Tante Rosa ?',


Yuli menggeleng sebagai jawaban ' loh kenapa Yul. Kok Lo gak Amanah sih ?'


' Ya kali Gue kasih ke orang Tua Selin. Surat Itu gak ngotak tahu gak. Bisa - bisanya Lo bikin surat sepanjang itu dan sedetail itu.. Lo salah memang, Tapi kan ..'


" Salah Ya salah aja Yuli. gak ada tapi-tapinya ! Gue pikir beneran udah sampe keorangnya. Lagian kok Lo lancang sih, Baca tuh surat..!',


Aku bener - bener kesal. Hingga tak sadar berteriak.


' Lo pernah dengar kesempatan kedua gak Mey ? Lo mikir gak kalau Tuhan ngasih kita musibah pasti tuhan ngasih hikmah dibalik itu semua. untung tu surat Gue baca. Kalau nggak ! Bisa-bisa orang Tua Selin jantungan dan nyusul anaknya. Mereka lagi Sedih kok dikasih cerita horor kan Gila...'


Aku diam saja sekarang, aku sedikit membenarkan ucapan Yuli. Tapi tetap saja, jiwa benarku tak ingin disalahkan.


' kapan Lo bisa kesini Mey, Tante Rosa nanyain Lo terus! Dia gak tahu kalau Lo udah keluar . Dan Gue juga nggak tahu harus mengatakan apa lagi, sebagai alasan .


' Maksudnya apa sih Yul ?'


' Lo balik kesini ! Kita kerja bareng lagi. Anggap aja ini kesempatan kedua Elo. Lagian kasian tahu ibunya Selin. Kalau bahas tentang Lo kayaknya Dia semangat Mey.. '

__ADS_1


Apa yang harus aku lakukan sekarang ?


jahatkah jika aku kembali dan bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa ?


__ADS_2