Teman Ranjang

Teman Ranjang
Bab 29


__ADS_3

Meyra memperhatikan wajah teduh Yuli yang kini terlelap. Bayangan akan hancurnya perasaan Yuli karena ulah David dan putrinya membuatnya merasa lebih sakit . Disisi lain Orang yang berusaha dia hadapi adalah seorang psikopat. Yang Artinya tak akan ada yang ditakutkan sosok itu, walau diancam dibunuh sekalipun.


Apakah Dia harus mengatakan semua ini kepada Yuli, dan sekaligus meminta Yuli melupakan sosok David !


[ Hati-hati ya b**th. Jangan gegabah. Sekali Lo salah melangkah Akan ada korban berikutnya..]


24 : 00


Bisa -bisanya ditengah malam begini, Dia lagi-lagi diberi ancaman.


[Jika ini hanya tentang Pria, sebaiknya hentikan kegilaan mu ! Apakah kau se tak laku itu hingga melakukan cara keji demi mendapatkan seseorang !]


Tak Ada balasan meski pesan telah dibaca. Meyra semakin cemas dan membuatnya tak bisa memejamkan mata barang sedetik.


*****


Pagi kini telah menyapa , membangunkan Yuli dari tidur lelapnya. Aroma mie instan kini menguar ke setiap penjuru apartemen Yuli, Rasa lapar yang mendadak dirasakannya membuat Yuli segera beranjak menuju Dapur , menuju tersangka utama yang telah memancing cacing-cacing diperutnya untuk berdemo. Yuli mengendap-endap memastikan Meyra tak mengetahui kedatangannya.


" Udah nggak usah usil.." Meyra berucap santai membuat Yuli merasa gagal sebelum mencoba " Aroma Lo itu khas Tau nggak ! Jadi trik Lo buat ngagetin gue nggak bakal berhasil" , Meyra kini menata Dua mangkok mie instan lengkap dengan telur ceplok diatasnya .


" Aroma apaan . Sok tahu !" Cibir Yuli kesal. sembari duduk dengan santai seolah hendak menyantap langsung mie buatan Meyra.


" Aroma jigong hahahhah! " Meyra tertawa sambil menjauhkan mangkuk mie dari sosok Yuli " Cuci muka dulu sana , Baru makan ! " Meyra menarik Yuli dan mendorongnya ke arah kamar mandi.

__ADS_1


"!Ishh Mey.. Gue udah laper nih.." Yuli nampak protes , walau akhirnya dia juga menuruti perintah Meyra.


Selesai menikmati sarapan mereka , Meyra Dan Yuli segera berangkat bekerja. Hari masih sangat pagi jika dibandingkan kebiasaan mereka pada hari hari sebelumnya. Namun Yuli tak mempermasalahkan itu. Baginya bukankah semakin Pagi akan semakin baik, Ini tentu akan membuat mereka jadi karyawan teladan, pikirnya senang.


" Lo baik-baik aja kan Mey ? " Yuli bertanya dengan suara berbisik, karena memang saat ini para pelangan yang hendak sarapan telah berdatangan.


" Emang Gue kenapa ? " Tanya Meyra menatap lekat kearah Yuli.


" Sejak kedatangan Kevin kemarin , Lo kayak banyak ngelamun Mey ! Apa ada perkataan Kevin yang bikin Lo ngerasa tertekan ..!"


Meyra menggeleng dan lebih memilih melayani tamu yang nampak memanggilnya dengan menunjukan buku menu. " Gue ke sana dulu ya Yul. ntar kita sambung lagi "


Yuli hanya mampu mengangguk dan menatap Meyra yang semakin menjauh dari pandangannya. ' Ada apa lagi sih sama Lo Mey ' Yuli nampak berpikir akan kemungkinan yang menyebabkan perubahan pada Meyra.


" Hai kak ! Lagi sibuk ?" Sapa Stella, senyuman tak lepas dari bibir tipis gadis itu. " Aku kangen Tante . Makanya kesini !" Stella nampak celingak-celinguk seolah mencari keberadaan seseorang..


" Maaf Stell, Tante siapa yang kamu maksud ? " Yuli merasa aneh sekaligus penasaran kenapa Stella seolah telah akrab dengan tempat kerjanya ini, dan Siapa Tante yang Stella maksud ?


Stella mengerutkan keningnya, " Loh emangnya Papa sama Teman kakak si Meyra itu nggak kasih tahu hubungan kami dengan Tante Rosa ? "


" Hubungan Apa ya ?" Yuli memperhatikan Stella yang telah duduk dengan santai didepannya.


" Papa sama Tante Rosa itu kakak Adik., yang artinya Gue ini sepupu Selin.." Stella tampak mengerutkan keningnya heran " Emangnya Meyra nggak kasih tahu Kakak ? "

__ADS_1


Yuli menunduk, Apa sih maksud ini semua ? pikirnya sembari menatap sosok Stella. " oh berarti dunia ini sempit ya, Tapi jujur kakak sedikit terkejut. " Ada tawa canggung ketika Yuli memperhatikan Ekspresi Stella. Dia menangkap raut tak suka stella dengan jawaban yang diutarakannya


" Mau minum apa Stel, Atau mau makan? " Yuli melayani Stella dengan Ramah seraya menyodorkan buku menu Ke Stella.


Stella nampak kesal dan membanting Buku menu dihadapan Yuli. " Gue lagi nggak Mood. Makasih "


Sosok Stella kini telah menghilang dibalik keramaian, membuat Yuli menatapnya bingung. Ini pertemuan pertama mereka secara langsung, tapi respon Stella justru tak sesuai ekspektasinya.


Meyra yang sedari tadi telah menyaksikan interaksi Yuli dan Stella , akhirnya mendekat kearah Yuli. Merasa penasaran kenapa Stella hanya sebentar berbicara dengan Yuli, meski begitu Meyra tahu jika Stella keluar dengan rasa Kesal yang entah disebabkan oleh apa?


" Kenapa itu Anak Yul ? Itu Stella kan , calon anak tiri Lo? " Meyra memberondong pertanyaan ke Yuli ,seolah dia juga pertama kalinya bertemu dengan Stella. karena memang Meyra tak pernah memberi tahu jika Stella pernah datang ke apartemen sahabatnya itu.


" Gue juga bingung ! Tuh anak Kesambet Apa ? Dia kayak kesal karena Gue nampak biasa aja saat tahu dia dan Selin sepupuan, Entah ekspresi seperti apa yang dia inginkan . Tapi gue nggak akan salah tebak soal ini !"


Yuli nampak tersenyum kecil jika mengingat ucapan Stella tadi " Tapi entah hanya perasaan gue atau bukan. Gue merasa jika Stella ingin Gue marah karena elo nggak kasih tahu gue soal hubungan darah Papanya dan Tante Rosa. Tapi Mey ? Emang Lo beneran tahu kalau dia sepupu Selin ? Sejak kapan Lo tahu ? kok nggak ngasih tahu gue ? "


Meyra senang karena Yuli tak terlalu terganggu dengan hubungan sepupu antara Selin dan Stella. Ingin rasanya Meyra tertawa, apakah Stella pikir Dia akan menceritakan teror yang diterima Meyra selama ini ke Yuli. Hingga gadis itu berniat mengadu domba mereka berdua..!


" Emangnya harus Ya gue kasih tahu elo ! Apa ini hal yang sangat penting bagi Lo ?"


Meyra menjawab santai, menatap Yuli dengan senyumnya.


" Nggak terlalu penting juga sih ? Tapi gue aneh sama sikap tuh Bocah..." Yuli ikut tersenyum, merasa geli dengan sikap Stella yang menurutnya memang aneh.

__ADS_1


__ADS_2