
Hari sakral itu akhirnya tiba juga, kini Meyra telah memakai kebaya putih dengan ekor panjang, dilengkapi dengan kain bawahan songket khas Palembang. Sanggul dan mahkota kecil kini menghiasi kepalanya. Serta make up nude dengan polesan lipstik warna merah lembut.
Yuli ikut mengamati penampilan Meyra, sangat cantik dan anggun. Siapapun tak akan menyangka jika Meyra sudah memiliki dua orang putra, Yuli memandang lekat hingga tak sadar matanya terasa panas, butiran bening akhirnya lolos.
Dia bersyukur Meyra kini telah menemukan kebahagiaannya.
Meski dirinya entah kapan bisa merasakan hal yang sama..
Suara televisi mengalihkan perhatian Yuli, ternyata Meyra sengaja berinisiatif menyalakan Televisi, mencoba mengalihkan pikiran Yuli yang pasti sangat terluka akan semua yang terjadi padanya, apalagi soal David, ayah Stella yang tega mengorbankan dirinya karena dendam sang anak.
"D juga DITETAPKAN TERSANGKA, imbas kasus
Yang menimpa anaknya Tersangka inisial S. . Dan bla..bla..bla..." Suara sang reporter tak lagi jadi fokus Meyra maupun Yuli. Berbagai foto-foto penembakan Kevin tempo hari dan juga wajah sang ayah Pelaku, David. Rupanya memang juga ikut terseret akan kasus Stella karena dianggap bersekongkol akan kasus pelecehan terhadap Roby . Mereka lega sekaligus prihatin. apalagi Yuli, meski wajah David diblur tapi tetap saja membuatnya sedih.
Meyra langsung mematikan televisi tersebut, niatnya yang ingin mengurangi sedikit beban di hati Yuli malah semakin membuat sahabatnya gamang, karena berita yang dilihat mereka barusan..
Meyra mendekat memeluk Yuli dengan erat, membuat Yuli tak bisa menahan air matanya.
" Maaf ya Mey, Gue malah lemah kayak gini. Disaat hari sakral elo dan Kevin. Tapi gue senang akhirnya Roby mendapat keadilan..Kasihan Roby.."
Yuli berucap lirih diakhir kalimat, membuat Meyra mengingat ucapan Kevin kemarin jika kemungkinan Roby untuk sembuh sangatlah kecil.
"Mey, jam berapa sekarang? kenapa belum juga dimulai acaranya ?"
Yuli menatap , jam didinding kamar.
mereka kini tengah berada dikamar hotel. Tempat dimana akad akan digelar. Yuli tak bisa jika mengabaikan berita yang baru saja dia dengar, makanya dia berusaha agar secepatnya keluar dari sini.
" Entahlah.." Suara Meyra terdengar seperti bisikan
"Duh kok gue deg-degan gini si Yul.."
Meyra tiba-tiba berdiri, dan mondar-mandir mirip setrikaan. Membuat Yuli juga ikut pusing melihatnya.
Pintu kamar diketuk, Meyra semakin was-was saja. Tapi rupanya yang Datang adalah ibu dan kedua putranya. Rifki dan Bagus.
Kedua bocah sekolah Dasar itu kini telah memakai jas hitam couple, Ibu juga sudah nampak cantik dengan kebaya Ungu, warna kesukaannya.
__ADS_1
"Sudah siap Mey ?"
Ibu bertanya sembari menilai penampilan Meyra,
" Wah ibu sangat cantik, pantas kalau jadi sama Papa Kevin.."
Celetuk Rifki semangat. Tapi yang menjadi fokus tiga sosok wanita didepannya bukan tentang pujian yang diberikan Rifki. Tapi lebih ke panggilan Rifki terhadap Kevin..
" Heii nak, siapa yang ajarin kamu manggil om Kevin dengan sebutan papa?" Meyra bertanya cepat, entah kenapa panggilan itu terasa aneh di telinganya.
" Kata Om Kevin, kalau kalian sudah sah menikah, Aku dan Bagus harus memanggilnya Papa.." Rifki menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi, diiringi anggukan dari Bagus seolah membenarkan ucapan sang kakak.
***
Dengan didampingi Yuli, Meyra melangkah dengan Anggun, disambut Kevin yang menatapnya tak berkedip, meski risih, ditatap seperti itu tapi Meyra mencoba menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan.
Hingga akhirnya dia kini duduk di samping Kevin, lelaki yang sebentar lagi bergelar suaminya. Tentu saja setelah ijab kabul selesai dan para saksi mengatakan sah.
Kevin melirik Meyra dengan senang, Meyra yang biasanya cuek dengan penampilan kini mampu membius Kevin hingga membuat pemuda itu, belum apa-apa sudah grogi duluan ..
"SAH....!!!"
Suara tamu undangan menggema secara bersamaan, membuat Meyra tak mampu menahan air mata.
Akhirnya dia memulai lagi dari awal, rumah tangga yang selama ini diimpikannya.
Dipandangnya wajah Kevin yang kini tengah menyalami para saksi dan juga pak penghulu, sebagai tanda syukur dan juga terima kasih.
Doa dan harapan ia panjatkan pada yang kuasa. Berharap ini adalah pernikahan terakhir baginya.
Meyra memeluk Yuli dan sang Ibu. Setelah dia lebih dulu menyalami Kevin yang kini telah berstatus suaminya.
Acara kini dilanjutkan dengan Resepsi. Kevin sebenarnya mengusulkan agar resepsi dilakukan dilain hari, tapi protes sang ibu mertua mengingat kehamilan Meyra, membuatnya mengurungkan niatnya. Ibu benar, Meyra tak bisa jika terlalu capek. Meski dokter bilang jika janinnya sangat Sehat dan kuat.
Semuanya kini berjalan lancar, kebahagiaan terpancar baik di wajah kedua mempelai maupun keluarga yang menghadiri pernikahan ini, Kevin yang biasanya Cool dan kalem, kini malah terlihat centil bak seorang wanita.
Rupanya kehadiran Meyra dihidupnya, membuatnya merasa lebih bisa mengekspresikan diri.
__ADS_1
" persiapkan dirimu sayang. Inikan malam pertama kita, pasti ini akan jadi malam yang panjang. .." Kevin tersenyum mesum, menoel lengan Meyra yang berdiri disampingnya menyalami tamu undangan yang pamit pulang.
" Apa aku lupa bilang ke kamu ya ?"
" Bilang apa ? " Kevin mengerutkan kening penasaran.
"Ahhh nanti saja kita bahas.
aku udah capek nih. Fokus aja sampai tamu-tamunya pulang dulu.."
Kevin memperhatikan Meyra yang sedari tadi memang terlihat tak nyaman lagi berdiri. Baru saja hendak menyuruh Meyra duduk, Istrinya itu malah dipeluk oleh seseorang
" Selamat ya Mey !! Aku senang kalian akhirnya menikah. Tapi buka dong blokiran nomorku, biar kita masih bisa berhubungan. .."
" Iya , makasih ya Hen. Kamu udah sempat-sempatin datang. Blokiran apa sih? Aku nggak ngerasa blokir nomor kamu deh.." Meyra menunjukan wajah bingung.
Sementara Kevin menatap heran kearah Hendra dan juga Istrinya yang tampak akrab tak memperdulikan keberadaannya.
" Berhubungan apa maksudnya ya ? nggak ada ya . Kalian berhubungan lagi . Lo tahukan Meyra itu sudah punya suami. Masih untung nomormu saja yang keblokir, nggak sekalian orangnya .."
Kevin menatap tajam Hendra, suaranya sangat kentara jika lelaki itu tengah cemburu.
" Ohh.. kamu tahukan sekarang siapa biang keroknya hen.. hihihii" Meyra tertawa cekikikan, tak memperdulikan sang suami yang dilanda cemburu hebat..
Dia dan Hendra kini malah melakukan Tos, karena berhasil menggoda Kevin..
" Semoga Samawa ya Mey !!" Hendra menyalami Meyra sekali lagi,
" Elo juga Vin, jaga Meyra baik-baik. Jangan sia-siain. Gue nggak akan segan, ambil dia dari Lo. Kalau sampai lo nyakitin hatinya.."
Meyra tersenyum melihat Kevin dan Hendra akhirnya berpelukan akrab.
" Gue bakalan bikin Meyra bahagia, sampai dia lupa gimana caranya menangis.."
Kevin menarik Meyra kedalam pelukannya, dan mencium keningnya dengan lembut.
__ADS_1