
Kevin menekan Bel pada rumah dua lantai yang berdiri megah didepannya. Dia memang tahu alamat Stella karena memang ia telah menyelidiki segala sesuatu tentang gadis itu. Semakin tak sabar, Kevin malah menekannya tanpa jeda.
Seorang pria Memakai pakaian satpam menghampiri Kevin, raut kesal pada Kevin begitu kentara diwajahnya.
" Cari siapa Dek ? yang sopan kalau bertamu ke rumah orang. Etika lebih penting. Siapapun kamu !!"
Pria paru baya itu lebih menampakan wajah kesalnya karena ulah Kevin.
" Stella ada di rumah pak ? bilang padanya jika Kevin ingin ketemu.."
" Kalau memang penting kenapa nggak telpon langsung nona Stella. Biasanya nona nggak suka terima tamu di rumah.."
Kevin menunjukkan layar hapenya yang berkedip, dan terdengar suara operator yang menjawab. menandakan jika nomor Stella sedang tak aktif sekarang .
Wajah tua pak satpam menunjukkan wajah acuh tanpa berniat membuka gerbang untuk mempersilahkan Kevin masuk kedalam.
" Maaf. Tapi nona dan tuan sedang tidak ada di rumah. Jadi kamu bisa pergi dan tunggu sampai non Stella mengaktifkan hapenya.."
Satpam itu berbalik, dan meninggalkan Kevin yang merasakan kesal akan perlakuan tak hormat sang satpam..
" Sial..dimana Lo sembunyi...!!!"
Kevin berteriak frustasi dan membanting hape yang sedari tadi dipegangnya. Setelah beberapa saat terdiam didepan pagar. Kevin memutuskan untuk pulang. Setelah terlebih dahulu mengambil memory dan SIM card hape yang masih terpasang , sementara hape berlabel apel itu telah berbentuk tak beraturan..
Setelah beberapa saat berkendara Kevin kini turun dari mobil dan menuju counter hape yang lumayan ramai dan lengkap. Sejujurnya dia merasa jika kelakuannya sekarang sangatlah konyol ,tapi memikirkan Meyra yang marah dan bahkan memutuskan hubungan mereka, membuat akal sehatnya seolah tak berfungsi lagi. Sekarang dia sadar jika Meyra benar-benar telah mengisi seluruh hati dan pikirannya. Dia sangat berharap jika, Meski sudah separah ini menyakiti wanitanya itu, Tuhan tetap akan menyatukan mereka nantinya, Dan Meyra bisa menerima dirinya kembali..
Kevin segera menyodorkan kartu SIM dan memory pada penjaga counter, tanpa bicara pemuda itu menyerahkan juga jenis hape yang telah diambilnya di etalase.
kemudian memberikan kartu ATM miliknya sebagai pembayaran ,
Setelah semuanya normal dan dapat Hape tersebut sudah bisa digunakan. Kevin segera beranjak,
" Bang, INI ATM nya ketinggalan...!!!"
__ADS_1
Teriakan itu, menghentikan Kevin. Pemuda itu berbalik dan kembali meninggalkan konter itu,setelah mengucapkan terima kasih.
Tiba diluar , Kevin malah menemukan sosok Stella yang kelihatan kerepotan karena paper bag yang sangat banyak memenuhi tangannya. Dengan Cepat dan tanpa kata Kevin segera menarik tangan Stella . Tak dia perduli kan belanjaan Stella yang jatuh dan berserakan dijalan.
" Apa-apaan sih Vin.." Stella menyentak tangan Kevin, gadis itu berusaha merapikan dan mengambil kembali semua belanjaannya tadi " Lo tahu, butuh waktu dua jam buat gue ngedapetin semua ini. Lagian Lo kenapa sih kayak orang kesurupan , tolongin kenapa sih.." Stella mencak-mencak kearah Kevin meski tangannya masih fokus pada barang belanjaannya yang telah terlanjur berserakan dipinggir jalan. Barang-barang bermerk itu bahkan ada yang nampak telah kotor karena sepatu milik Stella sendiri yang tak sengaja menginjaknya karena tadi sempat diseret Kevin.
"Lo mesti jelasin ke Meyra kalau kita nggak ngelakuin apa-apa di rumah gue tadi.."
Stella menghentikan pergerakan tangannya, bahkan gadis itu nampak membanting barang belanjaan yang sedari tadi coba dia rapikan.
" Lo nggak salah ucap kan ? Atau telinga gue yang salah denger ?"
Ditatapnya mata Kevin dengan lekat. Mata itu jelas menyimpan kebencian pada sosok yang baru saja disebut oleh Kevin.
" Nggak. ayo sekarang Lo ikut gue. Nggak ada drama dan ancaman basi lagi, gue capek, harus mengalah sama cewek modelan kayak Lo gini.." Kevin menunjuk kearah wajah Stella, rasa kesalnya semakin menguasai kesadaran lelaki itu.
" cepat ,,, atau perlu lo gue seret sekalian biar bisa bergerak lebih gesit.."
Stella memalingkan wajahnya, jika tadi dia masih percaya diri akan menaklukan Kevin lagi, tapi sekarang jujur saja, nyalinya sedikit menciut dan mata itu kini nampak memikirkan cara dan ucapan apa yang mesti dia lontarkan sebagai balasan dari kelancangan Kevin terhadapnya.
" Emang Lo nggak takut jika gue suruh bokap gue buat bikin Yuli menderita dan sakit hati. Dan itu artinya Meyra juga bakalan kena impasnya.."
" Terserah Lo mau ngomong apa ya, yang jelas urusan gue sekarang sama Meyra, bukan Yuli. Ikut gue atau semua kebusukan Lo bakalan gue laporin ke polisi dan Lo sama bokap Lo siap-siap masuk penjara untuk waktu yang lama.
Pilihan ada ditangan lo. Ikut atau tidak.."
" Lo tahukan soal Roby,.Lo mau apa yang menimpa dia juga gue lakukan ke Elo. . Lo nggak kenal gue Vin,. gue bisa berbuat sesuatu yang bahkan nggak bisa Lo bayangkan sebelumnya..
" Oh ya , apa contohnya.."
" Roby yang gila dan kematian Selin adalah contohnya, jadi lo masih mau ngancam gue..."
" apa buktinya jika itu perbuatan Elo..? "
__ADS_1
" Ini..!!!"
Stella menunjukkan sebuah jam tangan dari tasnya, " Alat ini merekam semua pekikan dan kesakitan yang mereka rasakan. Saat-saat akhirnya mereka menyerah pada kewarasan dan kematian hahhahahah"
Kevin dengan secepat kilat mengambil jam itu, membuat Stella terperanjat kaget, dan menghentikan tawanya seketika.
" Thanks , gue nggak nyangka akan semudah ini untuk membuat Lo mengakui semuanya.. Sekarang gue nggak butuh elo lagi untuk menjelaskan semuanya ke Meyra, , Thankksss sekali lagi Stell--lla.."
Kevin menunjukan layar hape yang merekam semua pengakuan Stella tadi, tak hanya suara tapi juga sebuah video berdurasi 10 menit..
Stella mematung, dia bahkan tak menghiraukan Kevin yang kini telah pergi dengan mobilnya..
***
Meyra kini terduduk dibibir ranjang. masih teringat jelas bayangan akan kejadian yang baru saja dilaluinya. Bagaimana pun dia tetaplah wanita biasa, hatinya bisa patah dan bahkan merasakan sakit yang sama , seperti perempuan lajang pada umumnya. Kini malah dia berpikir lagi untuk pulang saja ke kampung halamannya . Menjalani hidup disini dengan segala kenangan buruk , tentu tak akan berjalan dengan baik kedepannya nanti.
Yuli datang , masuk kedalam kamar dengan segelas susu jahe ditangannya.
" Ini minum dulu. Loh udah mendingan ?"
" Gue baik kok Yul. Tapi gue mau nyampein sesuatu sama Lo. Gue bakalan balik ke kampung aja kayaknya..!"
" Loh kenapa ? Kok mendadak, bukannya lo bilang jika lo disini demi ibu dan anak-anak ? Apa ini gara-gara Kevin ?
Kenapa jadi semudah ini sih Mey, lo ngambil keputusan ?"
" Entahlah Yul. Gue ngerasa capek aja. Rasanya mimpi gue nggak akan terwujud jika gue bertahan disini. Gue nggak bisa lupa hal yang udah gue lewatin dengan Kevin. Itu berpengaruh sangat besar buat kewarasan mental gue .."
Yuli terdiam , dia tahu jika Meyra telah berniat akan sesuatu maka tak akan ada alasan apapun yang dapat mencegahnya, maupun merubah pikiran perempuan itu.
" Jadi kapan Lo bakal pulang ? apa nggak sebaiknya Lo pikirin dulu lagi Mey, Lo sedang kesal dan Marah sekarang, nggak baik mengambil keputusan disaat otak lo bahkan sedang kacau.."
Meyra menatap ke dinding. Wajah kedua anaknya yang dihiasi senyum ceria kini tampak dimatanya. Yuli benar. Setidaknya dia harus bertahan demi cahaya kebahagiaan kedua bocah laki-lakinya itu.
__ADS_1
" Oke. gue bakal pikirin ulang Yul. Tapi untuk sekarang gue ngerasa benar-benar dititik lelah ."
Meyra menunduk, memandang kakinya. Entah kenapa dia selalu saja dihadapkan dengan situasi ini setelah bertemu dengan Kevin. Apakah ini adalah tanda terakhir dari tuhan jika Kevin benar-benar bukan untuknya....