
Yuli sedari tadi memang telah pulang ke rumah. David menjemputnya hanya untuk memberinya surprise. Pria itu memberinya sebuah kalung sebagai hadiah anniversary mereka yang ke tiga bulan. Kalung dengan batu permata sebagai liontin, kini telah bertengger manis dilehernya. Membuatnya tak bisa berhenti tersenyum jika mengingat momen beberapa saat yang lalu. Lagi-lagi bayangan akan hidup bahagia bersama David membuatnya senyum-senyum sendiri.
Setiap malam, Dia bahkan selalu berDo'a. Dengan Do'a yang sama, yaitu meminta kelancaran hubungannya dengan David. Semoga nanti Dia merasakan indahnya pernikahan , bisa menjalani rumah tangga dan memiliki buah hati yang lucu-lucu. Memikirkan itu, Yuli semakin tersenyum . Dia bahkan tak percaya jika Tuhan telah mengirimkan David dalam hidupnya . Karena baginya pria itu adalah hal terindah yang pernah ia temui.
Bel berbunyi. Dia tahu itu pasti Meyra. Karena sahabatnya itu tadi telah memberi tahu jika ia akan pulang agak terlambat. Ketika pintu terbuka Yuli dengan tak sabaran memeluk erat Meyra. Mencoba memberi tahu , jika kini hatinya sedang berbunga-bunga. Tak dipedulikannya tatapan Kevin yang memandangnya dengan kening berkerut.
" Lo kenapa Yul ? Kesambet."
Meyra melepaskan pelukan Yuli , dengan mengandeng Kevin dia segera masuk. Membuat Yuli sedikit kesal, merasa Meyra kini lebih memprioritaskan sosok Kevin.
Yuli ikut duduk didepan Kevin dan Meyra . Pasangan baru itu rupanya tak merasa terganggu dengan tatapan Yuli. Dan malah semakin asyik bercanda, sesekali terlihat Kevin mengecup kening Meyra.
" Issshh... Vin . Mending Lo pulang deh " Yuli yang tak tahan jadi obat nyamuk mengeluarkan unek-uneknya.
Kevin malah nampak cuek. Meski Yuli dengan terang-terangan mengusirnya.
" Lo kok tega sih Yul. Kitakan masih edisi kangen-kangenan.." Meyra malah berucap manja kearah Kevin. Alhasil Ia dihadiahi lemparan bantal sofa oleh Yuli.
" Lagak Lo. Mey ! Jadian baru pagi tadi juga..ckckck"
__ADS_1
Yuli yang terlanjur bad mood kini beranjak, hendak meninggalkan Kevin dan Meyra. Memberikan pasangan itu waktu. Meski sepertinya sebanyak apapun waktu yang mereka lalui tidak akan cukup memuaskan rasa kangen yang mendera pasangan yang tengah dimabuk asmara itu.
Yuli melangkah ke kamar, meski kesal dan butuh teman untuk bercerita sekarang. Tapi tetap saja dia tak mau jika harus merecoki kebersamaan Kevin dan Meyra.
" Kamu lihat kan kalau Yuli pake kalung berliontin intan ? " Meyra berbisik ke Kevin , takut ucapannya didengar oleh Yuli.
" Kenapa Sayang ? Kamu juga mau. Nanti aku bakal beliin kamu yang lebih cantik daripada punya Yuli." Kevin berucap, seraya tangannya membelai rambut Meyra yang tergerai.
Meyra mendelik Ucapan Kevin membuatnya menghadiahi cubitan pada pinggang kekasihnya . " Bukan itu. Vin ! Aku takutnya malah om David sudah ngelamar Yuli. Kamu kan lihat sendiri ekspresi bahagianya Dia ketika meluk aku tadi.."
Meyra kini menatap kearah mata Kevin. " Gimana caranya !ngasih tahu ke Yuli ? Apa kita jahat, kalau mengorbankan perasaan dia demi hubungan kita yang mungkin juga nggak akan berhasil ini ?"
" Kok aku ragu ya Vin . Kamu Kan pernah bilang kalau Om David mengancam akan menyakiti Yuli jika Stella dipenjara. Jadi meskipun Om David beneran cinta sama Yuli . Tapi sepertinya kedudukan Stella nggak akan pernah tergeser sedikitpun.."
Kevin terdiam. Bagaimana dia bisa lupa kalau dia sendiri pernah berhadapan langsung dengan Papanya Stella itu. Pria paruh baya itu bahkan sangat tenang ketika memberikan ancaman balik ke Kevin.
Kenapa harus seperti ini, disaat Dia dan Meyra baru saja disatukan sebagai sepasang kekasih ? Kevin menatap Meyra lekat. Tekadnya telah kuat apapun yang terjadi nanti. Dia akan menjaga Meyra, Baik fisik maupun hatinya.
" Kamu pasti ngantuk." Kevin melihat jam tangannya yang telah menunjukan pukul 23 Wib. " Mending tidur. Nanti kita bakalan cari cara terbaik agar semua permasalahan ini segera menemui titik terang. Tentunya tanpa adanya korban.!!"
__ADS_1
Kevin menggandeng Meyra kearah pintu. Sebelum pergi, lelaki itu mengecup kening Meyra dengan lembut, dalam hati ia berdo'a. Apapun yang akan terjadi nanti semoga mereka akan tetap sedekat ini.
***
Meyra menutup pintu. Kedua tangannya Ia letakkan di dada, merasakan debaran jantungnya yang terpompa dengan cepat, kupu-kupu seolah tengah mengaduk hatinya. Akhirnya Ia kembali merasakan kebahagiaan yang selama ini telah hilang. Apakah ia benar-benar jatuh cinta lagi. Meski ia telah mampu merabai hatinya. Namun ia tetap tak percaya akan apa yang telah terjadi. Kevin . Sosok tampan nan muda itu kini telah resmi menjadi kekasihnya. Memikirkan itu senyum Meyra semakin mengembang.
" Cieee...Yang lagi berbunga-bunga. Segitunya, sampai teman sendiri dilupakan.." Yuli yang sedari tadi melihat Meyra , malah menggoda sahabatnya itu.
" Udah dikunci belum Mey. Pintunya ? Nanti kelupaan lagi.."
Meyra tak menjawab, kemudian berbalik memutar kunci hingga terdengar bunyi 'klik'.
" Gue rasa bukan Gue aja yang senang hari ini." Meyra melangkah mendekat kearah Yuli. Dengan santai menyentuh kalung yang nampak berkilau dileher Yuli dengan jari lentiknya. " Loh habis dilamar..?"
Mendengar pertanyaan Meyra. Yuli mengajak Meyra untuk duduk. " Gue harapnya si dilamar. Tapi nyatanya ini hadiah anniversary kita yang ke tiga bulan .aaahhh Meyra ... Gue nggak pernah sebahagia ini sebelumnya. Lo do'ain Gue ya semoga hubungan ini langgeng dan bermuara ke pernikahan.." Yuli memeluk Meyra sangat erat, Sementara Meyra tidak tahu harus berekspresi seperti apa ? Tega kah Ia jika harus menghancurkan mimpi Yuli tentang pernikahan !
" Gue selalu berdo'a yang terbaik untuk Lo Yul. Apapun itu. Asal Lo bahagia Gue bakal dukung, dan berdiri paling depan untuk memberi tepuk tangan dengan sejuta dukungan.." Meyra mengelus punggung Yuli. Namun kini sorot matanya berubah sendu. Yuli nggak akan bernasib seperti Selin. Tekad Meyra dalam hati.
Sepertinya mereka harus memikirkan cara licik untuk menghadapi psikopat seperti Stella.
__ADS_1