
Kevin dan Meyra kini telah duduk berhadapan dengan papa Bram diruang tamu .
Mata tua Bram tak berhenti meneliti setiap pergerakan dari dua sosok didepannya kini.
" Kamu Meyra ? "
Bram menatap Meyra dengan aneh, meski sempat memata-matai Kevin. Dia tidak meminta foto untuk mengetahui seperti apa sosok dari wanita yang telah disewa oleh anak lelakinya itu.
Meyra mengangguk sungkan. Dia benar-benar malu sekarang. Pasti papanya Kevin beranggapan jika bra yang tadi ditemukannya merupakan milik Meyra .
" Tapi aku tidak ada hubungannya dengan benda merah itu tadi om .." Ucap Meyra mantap. mencoba menatap mata Bram dengan berani..
Bram memandang aneh ke Meyra karena jawaban perempuan itu . " Jadi . Kamu bukan Psk...? Dan selama ini transferan dan apartemen yang beberapa waktu lalu kamu terima itu bukan bayaran. jadi ? itu untuk apa !!"
Meyra tegang. Kenapa pembahasannya jadi kearah sana . Dia kini menoleh kearah Kevin. Tersangka utama akan semua yang didengarnya ini, pasti berhubungan dengan Kevin sebagai narasumber. Apa harus seperti ini sikap Kevin ,terhadap dirinya. Tapi mengelak juga akan percuma, karena sejatinya dia sendiri yang telah mengakui itu pada Kevin sebelumnya.
" Aku memang..."
" Lupakan itu Pa.,.! Meyra pacarku sekarang . Dan papa nggak berhak untuk menghakimi masa lalu Meyra. Lagian dia hanya melayaniku saja saat itu . Iyakan Mey..!"
Meyra kini menunduk. Jujur, ucapan Kevin makin membuatnya malu dan merasa ditelanjangi didepan pria yang merupakan Ayah dari seseorang yang beberapa waktu lalu masih berstatus pacarnya.
" Papa bukan sedang menghakimi Vin. Tapi papa cuma mau kamu memberikan kepastian,"
Pandangan Bram kini dia alihkan lagi kearah Meyra
"Menilik dari latar belakang keluargamu. Kamu pasti bukan wanita yang sengaja menjajakan diri demi uang. Meskipun memang statusmu adalah seorang janda. Yang Jadi pertanyaan saya adalah , apakah kamu mau selamanya berhubungan seperti ini sama anak saya ? "
__ADS_1
" Maksud Papa apa ? jangan membuat Meyra tertekan...lagian aku juga belum memikirkan tentang hubungan ini akan dibawa kemana?"
Kevin terlihat kesal..
Sementara Meyra mendengarkan semua itu dengan rasa kecewa. Bagaimana mungkin dia bisa bertahan tanpa kepastian, Mungkin keputusannya untuk mundur adalah pilihan yang paling tepat. Karena sampai kapanpun Kevin tak akan pernah mengajaknya menuju jenjang pernikahan. Dia tak akan pernah percaya dengan ucapan orang lain. Tapi jika ucapan ini terlontar dari mulut Kevin sendiri. Bagaimana mungkin dia menolak untuk percaya !!
"Kamu dengar sendiri kan. Jika Kevin bukan Pria yang baik. Bukan saya tak merestui hubungan kalian. tapi, Saya tidak mau jika anak saya terlalu terlena dengan lembah dosa tanpa mau bertanggung jawab akan itu...."
" Maksud papa Apa ? aku bukan laki-laki seperti ......"
" Hubungan kami baru saja berakhir om. Maaf karena telah membuat om nggak nyaman akan kehadiran saya disini. Tapi sekali lagi saya katakan jika benda yang om temukan itu bukan milik saya. Om bisa pastikan sendiri hal ini ke Kevin putra om ..!!"
Meyra berdiri. sedikit membungkuk dia mengangguk pelan kearah Bram sebagai tanda pamit .
Kevin memegang tangan Meyra seolah tak mengijinkannya untuk pergi. Tapi Meyra menepisnya Kasar dan dengan mantap meningalkan dua sosok lelaki yang kini saling menatap dengan perasaan sama-sama kesal.
" Apa ??" Bram membuka suaranya setelah terdengar pintu utama kini tertutup.
Kevin menatap papanya gusar ,
" Papa nggak tahu apapun tentang perasaanku pada Meyra. Aku mencintainya pa. Bukan karena nafsu. Aku tulus. Tapi kenapa papa malah pengaruhi dia supaya meninggalkanku..
Aku punya alasan kenapa belum meresmikan hubungan kami.."
Bram malah menatap netra Kevin dengan lekat " Tapi yang kamu katakan tadi menyakitinya Vin, bagaimanapun tidak ada wanita di dunia ini yang mau menjalin hubungan tanpa ada kejelasan. Apalagi jika hubungan kalian sudah sampai di atas ranjang. Jangan menyalahkan orang lain karena kelalaian dirimu sendiri, tidak ada alasan yang dibenarkan dengan keputusanmu yang menggantung hubungan kalian . Meski dengan alasan logis sekalipun.."
Kevin menunduk, kemudian mendongak lagi kearah pintu. Hatinya bimbang antara mengejar Meyra dan menjelaskan . Atau tetap berada disini dan menjalankan semua rencana yang telah disusunnya, untuk menjebak Stella dan menghukum gadis itu akan perbuatannya pada Selin dan juga Roby.
__ADS_1
" Kejar Vin. Jangan terlalu lama berpikir, jika memang hatimu untuk perempuan itu. Meski Papa tahu dia seorang janda tapi papa akan merestui siapapun yang akan kamu pilih sebagai pasangan hidup. Kita akan lebih kuat jika bersama dengan orang yang kita cintai, jadi tentukan sikapmu sekarang !!!.."
Kevin berlari kearah pintu. Meski sempat ragu dengan apa yang akan dia lakukan tapi lelaki itu sepertinya telah berhasil meyakinkan diri sendiri akan keputusan yang kini diambilnya.
Setelah sampai di gerbang. Kevin menanyakan kepada satpam kearah mana wanitanya itu pergi.
Dia juga segera membuka hp dan menghubungi nomor Meyra.
Rasanya sekarang dia dilanda penyesalan, Apa yang dia lakukan bukan membuatnya semakin dekat dan melindungi cintanya tapi malah membuatnya membentang jarak yang sangat luas. Ini bukan hanya akan menyakitinya tapi juga akan menghancurkan hati dan kepercayaan Meyra padanya
" Ayolah angkat Mey... please....!!"
Kevin mengetuk hp dengan kesal, kalimat yang terlontar dari mulutnya seolah seperti sebuah mantra.
" Shitttt...."
Kevin mengumpat marah, , benda pipih itu kini malah dibanting oleh Kevin karena Meyra telah memblokir nomor miliknya.
Sementara itu Meyra lebih memilih menyendiri disebuah restoran wajahnya nampak kusut karena airmata. Duduk disudut yang tak terlalu ramai, dia Memandang kosong pada jalanan yang tampak ramai. Pipinya yang basah tak membuatnya merasa perlu untuk mengusapnya. Baginya percuma karena kini hatinya telah sakit luar biasa, dan air mata ini tak akan mudah untuk dihentikan.
Dipandanginya lagi layar Hp yang sedari tadi berkedip. Kini tertera nomor baru dilayar . Namun tak ada rasa takut dan tertekan lagi dihatinya. Meyra hanya menatap datar pada pesan yang tertera.
[ Bagaimana rasanya ? Sakit !! ini belum seberapa. Nantikan kejutan berikutnya. Pantas saja kamu betah, rasanya ternyata sangat mengairahkan . Dia sangat hebat di ranjang ... ]
[ Apa mau mu? Jika ini tentang Kevin silahkan ambil. aku tak butuh ]
send ...
__ADS_1
Nomor itu terlihat mengetik, namun hingga beberapa saat tak ada balasan yang terkirim. Meski heran namun Meyra memilih tak perduli. Baginya ia tak lagi ada urusan dengan Kevin apalagi dengan sosok Stella.
Meyra kini nampak menyesal kenapa dia bisa percaya dan terbuai akan apa yang Kevin katakan. Hingga dengan mudah membuatnya menyerahkan diri dan tak memikirkan dosa, hanya karena surga dunia yang seharusnya haram dia nikmati. Apalagi status mereka yang tak terikat akan pernikahan. Tapi nasi sudah menjadi bubur. penyesalan tak akan membuat waktu berputar kembali.