Teman Ranjang

Teman Ranjang
Bab 48


__ADS_3

Kevin kini menunggu Meyra di apartemen milik Yuli. Hari sudah menjelang sore namun sosok Meyra tak juga pulang. Nomornya juga masih non aktif sedari siang tadi. Kevin semakin gusar takut jika Meyra malah diculik seperti waktu itu.


Ditengah-tengah kekalutannya pintu apartemen terbuka, menampakkan sosok Meyra yang tampak segar dan tak kurang sesuatu apapun.


Kevin lega, hampir saja dia nekat memeluk Meyra namun wanita itu malah mendorongnya menjauh dan menatap tajam kearahnya.


" Bagaimana mungkin Lo pikir semuanya baik-baik saja setelah semua sikap dan perbuatan lo tadi ke gue . Gue udah bilang kalau gue mau kita putus. dan itu artinya lo nggak berhak nemuin gue, lagi jadi mending lo pergi sekarang. karena gue benci jika harus ngelihat muka munafik lelaki seperti elo..pergiiiii ...."


Meyra memekik kencang, membuat Yuli yang berada di dapur langsung menuju ke depan, melihat Meyra yang histeris Yuli memeluk sahabatnya itu.


Dengan tenang dia menatap Kevin.


" Mending lo pulang Vin. kondisinya sedang tidak memungkinkan sekarang. jadi lebih baik lo pulang dan tunggu sampai keadaannya lebih baik.."


Kevin mengangguk lesu. kemudian dengan pelan membawa tubuhnya kearah pintu keluar.


sempat berhenti sejenak untuk melihat kondisi Meyra yang kini menangis histeris. tapi kemudian dia melanjutkan langkahnya lagi.

__ADS_1


" Tenang Mey, tenang !! istighfar Mey..." Yuli semakin mengeratkan pelukannya . Ditatapnya wajah Meyra yang nampak pucat, " Lo kenapa ? sakit !!"


" Nngak Yul. perut gue kayaknya kram. Bhuhhhhhh...."


Yuli melonggarkan pelukannya menatap kearah perut Meyra yang kini malah ditekan kuat oleh sahabatnya itu.


" Mending Lo duduk.." Yuli menuntun Meyra, sedari tadi mereka masih berada didekat pintu dan kini duduk disofa panjang yang ada, Yuli meluruskan kaki Meyra, memintanya menyandarkan diri pada bantal yang sedari tadi sudah ditata oleh Yuli. " Mendingan ..Apa perlu kita ke dokter, ,,? "


Meyra menggeleng, desisan tanda sakit masih terdengar dari bibirnya, membuat Yuli menatapnya dengan khawatir.


" Makasih Yul, elo benar-benar selalu ada buat gue.."


Meyra tersenyum mendengar jawaban Yuli. " Kalian kenapa ? marahan kok sampai seperti ini sih ? sefatal itu kesalahan Kevin..?"


Meyra memalingkan wajah kearah plafon apartemen. Matanya nampak menerawang,seiring ingatannya yang kembali ke kejadian beberapa jam yang lalu.


" Hubungan Kevin dan Stella sudah sangat jauh Yul. Gue nggak bisa jika cuman dijadikan selingan bagi Kevin..

__ADS_1


Bahkan Stella lebih dulu diajak kerumahnya. Apalagi om Bram papanya Kevin sepertinya tidak setuju. Kevin juga kayaknya hanya mau main-main doang, dia bahkan terang-terangan bilang kalau dia nggak kepikiran untuk ke arah yang lebih serius.."


Meyra menceritakan semua kejadian hari ini. kecuali tentang pergumulannya dengan Kevin tentunya, bagaimanapun hubungannya dengan Yuli tetap saja dia tak mau jika Yuli tahu betapa murahannya dia karena selalu berakhir dengan hubungan badan jika didekat Kevin.


"Jadi.. Stella sama Kevin sudah...? Dan kenapa Lo bisa tahu ? papanya Kevin di sana . Mereka kepergok atau gimana ? nggak ngerti gue ..!!!"


" Mereka memang sudah sampai ditahap itu Yul. Papanya Kevin nemuin Bra dan marah . saat itu gue ada di samping Kevin tapi kayaknya nggak disadari om Bram. Kevin jujur ke gue soal Stella yang datang, karena kebetulan saat gue dateng, mobil Stella baru saja keluar.. Dan..,...." Meyra tak sanggup melanjutkan ceritanya, membuat Yuli merasa bersalah karena secara tak langsung mengingatkan Meyra kejadian yang ingin dilupakannya .


" Mending lo istirahat sekarang Mey, nggak usah lagi pikirin lelaki kayak Kevin. Bikin darah tinggi aja. Kali ini gue dukung kalau lo beneran mau putus hubungan sama dia.."


Yuli menatap Meyra seperti pandangan seorang ibu pada putrinya. Meyra terharu dan menggenggam tangan Yuli dengan erat.


" Keyakinan gue sekarang benar-benar terkikis Yul. Jadi gue pastikan jika gue nggak bakal balik lagi sama brondong itu.."


***


kevin mengendarai mobilnya dengan pelan. Terbayang akan sikap histeris Meyra ketika menatapnya tadi. Sungguh dia tak bermaksud memperumit masalah. Tapi kenyataan jika dia adalah lelaki dengan hasrat yang begitu tinggi. Rasanya akan membuatnya susah untuk konsisten dan tak melakukan hubungan lebih dengan Stella jika selalu berada di samping gadis bahenol itu.

__ADS_1


" Gue harus temui Stella. Gue nggak bisa kehilangan Meyra hanya karena misi ini..."


Kevin berucap menggebu entah kepada siapa. Yang jelas kini ia mengalihkan arah mobilnya kearah berlawanan dengan posisi rumahnya berada.


__ADS_2