Tentang Hidupku Dan Hidupnya

Tentang Hidupku Dan Hidupnya
Mengagumi


__ADS_3

"Iya, iya." Jawab Rangga sambil menambah kecepatan motor yan Ia kendarai.


"Itu rumahku." Tungjuk Cika.


Sesampai di depan rumah Cika, Eric tengah pinsang, wajahnya sangat pucat karna kehilangan banyak darah.


"Ayah." Teriak Cika.


Cika dan Rangga memapah tubuh Eric masuk ke dalam rumah, dan lansung menuju ruangan tamu.


Mendengar teriakan putrinya dengan segera ayah Cika menghampiri mereka, dan bertanya.


"Ini ada apa nak?" Ayah Cika nampak sedikit panik.


"Sebentar aku jelaskan. Sekarang Ayah obati dia dulu, dia terlalu banyak mengeluarkan darah, karna mendapat tusukan pisau, oleh para pencuri di pasar.


Mendengar penjelasan putrinya, dengan segera Ayah Cika mengobati luka Eric.


Setelah hampir dua puluh menit. Ayah Cika telah selesai mengobati dan menjahit luka tusuk Eric.


Di puncak, ayah Cika terkenal sebagai tabib, dan pembuat obat-obat ramuan herbal.


Banyak orang yang berdatangan dari kota hanya untuk membeli ramuan herbal yan di buat oleh ayah Cika. Selain ramuannya berkualitas ramuannya juga manjur.


"Untunglah luka sayatannya ngak terlalu dalam dan juga luas." Mengusap wajah.


"Jadi bagaimana keadaan teman saya pak?" tanya Rangga pelan.


"Teman kamu ngak kenapa-napa, dia cuman pinsang dan sebertar lagi dia akan segera sadar."


"Syukurlah," ucap ketiga teman Rangga.

__ADS_1


Cika keluar dari dapur dengan membawa lima gelas teh dan juga cemilan untuk para tamunya.


Cika meletakkan mampan yang Ia bawah dari dalam dalur di atas meja, lalu membagikan teh yang Ia bawa kepada teman-teman Eric.


"Silahkan di minum." tersenyum manis.


"Terimakasih banyak karna telah menolong teman kami. Dan kami terlalu merepotkan anda."


salah satu teman Eric mengatakan itu.


"Ah, tidak masalah." tersenyum "Oya, panggil saja namaku Cika. "Kalau soal merepotkan tentu tidak. Karna warga di sini akan melakukan hal yan sama, kalau mereka ada di posisi kami."


Rangga yan tak berenti menatap wajah cika berkata.


"Sudah cantik, jago beladiri, lembut, baik lagi. Apalagi kekurangan gadis ini. Aku sangat kagum terhadap gadis ini." Guman Rangga dalam hati.


Begitupun dengan pemikiran ketiga teman Rangga yang lainnya, bahakn di anataranya ada yang saling berbisik.


Rangga yan mendengar ucapn teman -temannya pun berkata.


"Ustt Jangan bicara kurang ajar ini rumah orang." Berbicara pelan.


"Maafkan ucapan teman-temanku." Rangga melihat ke arah Cika ketika mengatakan itu.


"Oya, nama kalian siapa nak?" tanya ayah Cika.


Mendengar pertanyaan Ayah Cika, Rangga pun berkata.


"Kenalkan nama saya Rangga pak, dan yan terluka di dalam itu namanya Eric, dan ketiga teman-teman saja."


Ayah Cika pun melihat ke arah kamar, yang tengah Eric tempati, lalu kembali melihat ke arah Rangga lalu berkata.

__ADS_1


"Yan, di dalam kamar bapak sudah kenal, karna kemarin, bapak yang menolongnya, kemarin Ia kesasar di dalam hutan."


Mendengar ucapan ayah Cika. Rangga pun berkata dalam hati.


"Oh, berarti gadis yang di bilang Eric, mirip seperti bidadari di bumi, itu Cika? pantas, aku saja kagum melihat kecantikannya." Guman Rangga dalam hati.


"Oya bagaimana dengan teman kami? apa kami bisa membawanya ke tenda kami?" tanya Rangga.


Dengan segera Ayah Cika berkata.


"Untuk sementara biarkan teman kalian tinggal di sini. Biar aku dan Cika yan merawatnya sampai lukanya benar-benar sembuh."


"Baiklah kalau begitu. Kami permisi pulang ke tenda kami, besok kami ke sini lagi." Setelah mengatakan itu Rangga dan ketiga temannya, berjalan keluar dari rumah Cika.


"Oh, tentu."


"Mari Cika." Ucap semua teman Eric.


"Iya." Cikha tersenyum manis pada keempat teman Eric.


Menjelang tengah malam Eric tersadar. Pelan-pelan Eric membuka matanya, lalu melihat sekeliling kamar.


Eric agak bingun melihat tempat yang tengah Ia tempati saat ini, lalu Ia berkata


"Di mana ni? Aoao," meringgis "Perutku terasa sakit." memegan perutnya.


Cika yang kebetulan berada di luar kamar. Tampa sengaja mendengar rintihan Eric.


Cika pun berjalan, lalu masuk ke dalam kamar yang tengah Eric tempati saat ini


Cika pun berkata.

__ADS_1


"Kamu jangan terlalu banyak bergerak, lukamu masih basah."


__ADS_2