Tentang Hidupku Dan Hidupnya

Tentang Hidupku Dan Hidupnya
32


__ADS_3

Setelah selesai Cikha mengajak Nathan turun ke lantai bawah untu makan malam.


"Turun ke bawah yu." ajak Cikha.


Nathang tersenyum lalu berkata.


"Baiklah." ucap Nathang sambil mengganden pinggan langsing Cikha.


Sesampai di lantai bawah Cikha dan Nathang berjalan ke arah meja makan, di sana telah tersaji makan malam mereka. Cikha mulai mengambilkan makanan buat suaminya, begitupun dengan dirinya. setelah selesai makan Nathang mengajak Cikha kembali ke kamar.


"Cikha ikut aku ke kamar, biar bi Dewi yang mengerjakan itu."ucap Nathang.


"Iya nak, biar bibi yang mengerjakannya." ucap Bi Dewi.


Cikha menganguk setuju lalu berkata."Bentar aku cuci tangan dulu."ucap Cikha pelan.


"Baiklah," ucap Nathang pelan


Sesampai di kamar Cikha memulai pembicaraan. "Ada apa Nath?, sepertinya serius sekali." ucap Cikha.


Nathang tersenyum lembut ke arah Cikha dan langsung memeluknya lalu berkata. "Terimah kasih ya Cikh, kamu memang keberuntungan aku, aku bangga menjadi suamimu, apa kamu tau kalau kesepakatan bisnis aku, eh kita di terimah?," ucap Nathang dengan sangat bahagia.

__ADS_1


"Benarkah, selamat untukmu," ucap Cikha sambil membalas pelukan Nathang.


"Dan satu lagi aku punya hadiah buat kamu," ucap Nathan lembut.


"Hadiah," ucap Cikha.


Nathang berjalan ke arah lemari lalu membukanya lalu mengambil sesuatu yang tidak di tau cikha.


Nathang berjalan mendekat, kemudian berlutut di hadapan Cikha dengan sebuah Cincin di tangannya.


"Maaf Cikh seharusnya aku mengatakan ini sebelum kita menikah namun, tidak masalah sekarang aku baru mengatakannya."


Setelah seleaai mengatakan itu Nathang kembali melanjutkan ucapannya. "Cikha, aku bukanlah peria baik yang pernah kamu temui, tapi aku akan mencoba menjadi yang terbaik untukmu, mungking juga bukan peria yang bisa memberikan semua keinginan kamu akan tetapi aku punya cinta dan kasih sayang yang besar untukmu selamanya,maukah kamu menjadi istriku dan juga ibu dari anak -anakku yang sesungguhnya dan menerima segala kekurangan dan kelebihamku?." ucap Nathang dengam wajah tulus.


"Cik, jawab dong, kamu mau kan menerima aku sebagai suami kamu yang sebenarnya, " ucap Nathang lagi.


"Hem, memang selama ini kita hanya pura -pura nikah?," ucap Cikha dalam dengan melihat ke arah Nathang yang kini tengah berlutut melihat ke arahnya.


"Cikh, kaki aku pegel, " ucap Nathang.


"Bangun kalau kamu merasa pegel lagian ngapain juga pake acara berlutut segala," ucap Cikha pelan.

__ADS_1


padahal di dalam hati, Cikha begitu sangat senang dan bahagia.


"jawab dulu baru aku bangun," ucap Nathang lembut.


"Iya aku terima," ucap Cika sambil tersenyum manis ke arah Nathang.


Setelah mendengar pernyataan Cikha Nathan langsung menyematkan Cincin di jari manis Cikha. "Makasih ya Cikh karna sudah mau menerima aku," ucap Nathang memeluk tubuh Cikah dan mencium sekejap bibir Cikha.


"Iya." bisik Cikha pelan.


"Ayo, kita tidur,aku merasa sangat lelah," ucap Nathang.


"Ya, sudah ayo kita tidur," ajak Cikha.


Tadinya Nathang pengen cepat tidur namun gejolak terpendam di dalam hatinya membuatnya tidak bisa tidur. dia selalu mengingat ucapan Udin supir peribadinya soal kata."Hamil. "


"Cikha aku pengen minta sesuatu sama kamu, " ucap Nathang gugup.


"Apa!," ucap Cikha sambil berbalik badan melihat ke arah Nathang karna dari tadi Cikha membelakangi Nathan.


"Aku mau kamu segera hamil." ucap Nathang yang masih gugup.

__ADS_1


"Apa hamil, kita kan belum?," ucap Cikha mengantung


"Belum apa?." ucap Nathan lembut.


__ADS_2