Tentang Hidupku Dan Hidupnya

Tentang Hidupku Dan Hidupnya
18


__ADS_3

Cikha dan Nathan menyusuri sungai dan pas Cikha mau melompat, kakinya tersandung dan hampir jatuh. Namun berungtung Nathan segera menangkapnya,dan hingga akhirnya mata keduanya saling bertatapan cukup lama. Deg, deg, deg, suara jantung ke duanya bedetak begitu sangat kencan.


"Terimah kasih," ucap Cikha mengcairkan suasana.


Nathan melepas pelukannya lalu berkata.


"Maaf"


Cikha tersenyum dan berkata.


"Ayo, kita langjutkan perjalanan."


" Ayo," ucap Nathan.


Di tengah perjalanan cuaca mulai tampak mengdung dan kemungkinan sebentar lagi akan hujan.


"Sepertinya mau hujan," ucap Natham.


"Iya,sepertinya." ucap Cikha.


"Apa masih jauh untuk sampai di desamu?." ucap Nathan.


"Kalau kita berjalan semalaman kemungkinan kita akan sampai sebelum matahari terbit." ucap Cikha menjelaskan.

__ADS_1


"Apa!." ucap Nathan terkejut."Oh,astaga aku ada dimana ini?, " grutu kesal Nathan yan masih bisa di dengar jelas oleh Cikha.


"Sebentar lagi akan sampai ke puncak. " ucap Cikha sambil tertawa meledek.


" Lalu apa yang harus kita lakukan saat ini?,sebentar lagi hujan." ucap Nathan sedikit kesal.


Cikha pun berpikir sejenak lalu berkata!.


" Sebaiknya kita membuat sebuah rumah -rumah kecil, yang bisa menampung kita berdua daripada nantinya kehujanan, lalu basah, jadi kita harus membuatnya." ucap Cikha santai.


Cikha mulai mencari kayu untuk tiang sementara Nathan hanya diam dan bingun melihat Cikha.


"Bantuin aku nyari kayu." teriak Cikha yang mulai berjalan jauh, Nathan berlari menyusul Cikha dan berkata!.


"Kita hanya butuh tujuh dan sekarang sudah ada enam jadi tinggal satu lagi," ucap Cikah.


Selesai membuat rumah kecil,cuaca kini semakin mendung hingga akhirnya turunlah hujan yang sangat deras, Nathan dan Cikha berlari masuk ke dalam rumah kecil mereka. Nathan dan Cikha duduk berdampingan, dan pakaian mereka sedikit basah.


"Acciung, suara bersin Nathan.


"Ganti baju sana," ucap Cikha.


Nathan pun mencari tasnya dan.

__ADS_1


" Osyeet,tasku tergantung di pohon itu?," ucap Nathan sambil menungjuk pohon kecil yang tak jauh dari rumah kecilnya, Nathan berdiri dan berlari mengambil tasnya kemudian berlari kembali masuk ke rumah kecilnya.


" Bagaimana ini semua pakaianku basah?" Tanya Nathan.


Cikah mengeluarkan selimut yang kemarin malam di pakainya dan menyerahkannya pada Nathan.


"Ini pakai dan buka pakaianmu yan basah itu,nanti kamu sakit," ucap Cikha sambil menyerahkan selimutnya. Nathan menerima selimut pemberian Cikha lalu berkata.


" Terimah kasih, ya Cik."


Nathan berdiri dan berjalan sedikit ke belakang untuk melepas baju dan celanya, dan kini Nathan hanya menggunakan celana boksernya dan membalut tubuhnya, dengan selimut pemberian Cikha kemudian bejalan kembali duduk di sampin Cikha,Malam semakin larut hujan tak berenti turun, cuaca di sekitar semakin dingin membuat Cikha semakin memeluk lututnya.


"Kamu dingin ya Cik?" Tanya Nathan.


"Iya sedikit, " ucap Cikha, padahal di hati Cikha berkata aku sangat dingin.


Perlahan Cikha semakin mengerutu karna merasa sangat dingin, Tampa berkata apapun Nathan langsung memeluk tubuh Cikha dan menyelimutinya, Sontak membuat Cikah merasa terkejut dan berkata!.


" Apa yang kamu lakukan? "


Nathan hanya tersenyum dan berkat!.


"Nanti kamu sakit dan kita tidak akan pulang cepat karna aku tidak tau jalan." ucap Nathan sambil memeluk tubuh Cikha. Cikah merasa sangat nyaman berada di pelukan Nathan, Cikha pun menyandarkan kepalanya di dada bidang Nathan, sontak membuat jiwa kelelakian Nathan bergemuruh.

__ADS_1


__ADS_2