Tentang Hidupku Dan Hidupnya

Tentang Hidupku Dan Hidupnya
41


__ADS_3

Sepulang dari lari pagi Cikha tersenyum -senyum sendiri di depan cermin, Cikha ngak pernah menyagka kalau dirinya bisa di terima dengan baik oleh Nitha, Cikha merasa senang dan bahagia hingga dia tidak menyadari kalau saat ini Nathang tengah berdiri di belakangnya.


Ehemmm, sura deheman Nathang membuat Cikha kaget dan langsung sadar dari lamunanya.


"Lagi mikirin apa sih? sejak tadi aku perhatikann kamu seyum -senyum sendiri. " tanya Nathang lembut.


"Ngak mikirin apa -apa." ucap Cikha, berdiri dari tempat duduknya.


"Masa sih?, lalu kenapa kamu tersenyum sendiri? " tanya Nathang, melihat ke arah Cikha.


"Cuman lagi memikiran, ucapan teman Mama tadi, waktu lari pagi bersama." ucap Cikha pelan.


"Memang selucu apa sih?, hingga membuat istri aku tersenyum -senyum sendiri? " tanya Nathang membelai lembut rambut Cikha.


"Ah, sudahlah tak penting," ucap Cikha, memeluk dan menyandarkan wajahnya perut Nathang, karna posisi Nathan saat ini tengah berdiri dan membelai lembut rambut Cikha.


"Keluar yu, kumpul sama Mama." ajak Cikha.

__ADS_1


"Entar dulu, baru juga kamu memeluk aku, masa ia mau pergi begitu saja." ucap Nathang pelan.


"Udah keluar yu, kamu ngak kangen sama Mama? " tanya Cikha.


"Cup, satu kecupan lembut mendarat di bibir mungil Cikha, Cihka merasa ciumaman suaminya begitu sangat lembut hingha Cikha juga membalas ciuman suaminya dengan sangat lembut.


Cikha melepaskan Bibirnya dari bibir Nathan lalu berkata."Turun yu." ajak Cikha.


"Baiklah," Ucap Nathang menurut, mereka berdua pun turun ke lantai dasar. Nathang mengandeng pinggan ramping istrinya. Sesampai di bawa, Cikha melihat Nitha sedang sibuk di dapur.


Cikha menghampirinya lalu berkata.


"Mama lagi bikin kue Brownis, kue kesukaan Nathang." Nitha melihat ke arah Nathang ketika mengatakan itu pada Cikha.


"Oya, ajarin aku dong ma, biar aku juga bisa bikin kue, kesukaan suami aku." ucap Cikha lembut.


"Iya nanti Mama ajarin resepnya,karna sekarang kita hanya tinggal memasaknya, dan sekarang kamu bantu Mama memasukkan adonan kue itu ke dalam loyan, oke."

__ADS_1


"Oke, Ma," ucap Cikha mengajukan jempolnya, dan juga mengedipkan matanya.


Nathang yang melihat tingkah jail istrinya lalu berkata."Cikh, kamu ngak takut sama Mama?, kenapa bertingkah seperti itu di depan Mama."


Cikha tersenyum, lalu memeluk bahu Nitha dan berkata."Cikha ngak perlu takut, karna Mama adalah temanku, sahabatku, dan juga ibu mertuaku, yang baik, iya kan Ma? " Tanya Cikha mencium pipi Nita.


"Iya dong sayang, kamu itu sudah mama anggap sebagai putri sendiri jadi jangan takut ataupun sungkan"


ucap Nitah sambil menepuk -nepuk kepala Cikha dengan tangannya karna posisinya masih di peluk dari belakang


Mendengar ucapan Mamanya Nathang berkata." Kalau Cikha putri Mama, terus aku anak siapa dong? " Ucap Nathang bercanda.


"Putra Bi Dewi, mungkin," ucap Nitha meledek putranya dengan suara ketawa yang besar bersama Cikha.


Ha, ha, ha, suara ketawa Cikha dan Nitha bersamaan.


Mendengar ucapan Mamanya Nathang memayumkan bibir lalu berkata. "Ya sudah kalau begitu, aku akan memanggil Bi Dewi dengan sebutan Mama." ucap Nathang bercanda sambil bertanya ke Bi Dewi. "Boleh kan Bi aku panggil Mama." Nathang melihat ke arah Bi Dewi.

__ADS_1


"Kalau Aden bisa nyaman, Bibi sih silakan -silahkan saja," ucap Dewi, tersenyum bangga karna mendapatkan majikan yang begitu sangat baik dan hangat seperti keluarga Raharja.


Cikha dan Nitha kembali tertawa di dalam ruangan dapur setelah mendengar apa yang Nathang katakan.


__ADS_2