Tentang Hidupku Dan Hidupnya

Tentang Hidupku Dan Hidupnya
40


__ADS_3

"Bagus jadilah anak, selaligus suami yang baik," ucap Nitha sambil menepuk bahu putranya Nathang.


"Pasti ma," Nathang berkata serius melihat ke arah Nitha.


"Ya sudah sekarang kamu kembali istirahat dulu, mama mau ngajak mantu Mama lomba lari," ucap Nitha tersenyum, lalu menggandeng tangan Cikha keluar dari kamarnya.


"aku pergi dulu ya Nath, " ucap Cikha pada suaminya.


"Iya hati -hati jaga diri dan juga Mama," ucap Nathang melihat ke arah Cikha dan Nitha.


"Oke." Cikha menaikkan jempolnya ketika mengatakan itu pada Nathang.


Sementara Nitha hanya tersenyum melihat tingkah laku anak dan mantunya," Ayo, ayo kita pergi sekarang." Ajak Nitha sambil menarik tangan Cikha.


"Iya ma," ucap Cikha.


Nitha dan Cikha mulai lomba lari.


Mh, mh, mh, suara napas Nitha ngosngosan.


"Ayo Ma, lari lagi." teriak Cikha menyemangati.


"Udah, Cikh, Mama cape mau istirahat dulu." ucap Nitha.

__ADS_1


"Ya sudah mama duduk dulu di sini, aku cariin minum buat Mama ya." Setelah mengatakan itu Cikha berjalan.


"Iya sayang hati -hati." ucap Nitah.


Cikha berjalan menelusuri jalan untuk mencari penjual air mineral.


"itu dia." Cikha berjalan mendekat ke arah penjual itu, Selesi membeli minum Cikha kembali ke tempat duduk Nitha ibu mertuanya.


"Ini Ma, airnya." Cikha menyodorkan sebotol air mineral kepada Nitaha.


Nitaha pun meraih air mineral itu lalu berkata. "Makasih ya sayang." Nitha membuka tutup botol air yang di berikan Cikha lalu meminumnya.


"Hai, hai, Jeng Nitha, kamu Nitha kan." Seorang wanita yang seumuran Nitha menyapanya. wanita itu adalah tetangga kompleks Nitha dan juga seorang ganis cantik.


"Iya, kalau boleh tau kamu siapa ya?" tanya Nitha ramah.


"Oya, aku sudah ingat, kamu santi, orang yang banyak bicara dan cerewet itu kan?, eh maaf jeng santi tapi itu benar kan?." ucap Nitha.


Awalnya wajah Santi berubah cemberut mendengar ucapan Nitha. Namun, dengan segera dia menepis wajah cemberutnya itu dan kembali terseyum lalu berkata.


"Jeng ada -ada ajah deh, oya Jeng, kenalin putriku yang cantik ini, namanya Lisa, sekarang dia sudah menjadi seorang dokter loh." ucap Santi.


"Oya, bagus itu," ucap Nitha santai.

__ADS_1


"Jeng Nitha kalau ada waktu gimana kalau kita makan malam bersama.Jeng ngajakin putra kesayangan jeng, dan aku bersama putri kesayanganku inj gimana?,siapa tau mereka berdua cocok." Ajak Santi.


"Adu, gimana ya, kayanya aku ngak bisa." Nitha menolak ajakan santi.


"Kenapa jeng? lain waktu juga tidak masalah," Ajak Santi lagi.


"Masalahnya Nathang itu...?"


"Nathang kenapa jeng?" Santi menatap serius ke arah Nitha.


"Nathang itu sudah menikah jeng." Nitah tersenyum, ketika mengatakan itu pada santi.


"Apa!," Santi terkejut mendengar ucapan Nitham.


"Jeng bercanda ya, aku belum pernah dapat kartu undangan dari keluarga jeng." Santi tidak percaya dengan apa yang Nitha katakan.


"Tidak lama lagi kamu dan putri kamu akan dapat kartu undanganya." ucap Nitha sambil berdiri.


Sementara Cikha hanya terdiam mendengar ucapan kedua wanita paruh baya itu di depannya, awalnya Cikha merasa ngak senang mendengar ucapan Santi yang ingin makan malam bersama keluarga Nathang. Namun semua itu sirna ketika Nitha mengenalkannya sebagai menantunya.


"Oya kenalkan ini menantu saya, Cikha namanya. " Nitha memperkenalkan, sambil merangkul bahu Cikha.


"Cikha tante," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Wajah bahagia santi berubah, sekejap menjadi masam, setelah mendengar apa yang dikatakan Nitha, kalau ia telah memiliki menantu, apalagi menantunya saat ini tengah bersamanya.


"Gagal deh, besanan dengan keluarga terpandang seperti keluarga Raharja." ucap Santi dalam hati.


__ADS_2