
Cika dan Ayahnya menikmati masakan ke empat sahabat Eric.
"Ini sangat lezat," ucap Ayah Cika sambil melihat ke arah putrinya. Sementara Cika pun mengakui kalau masakan yang dia makan saat ini benar -benar lezat.
Kini luka Eric sudah kering dan bisa di bilang sudah hampir sembuh. Ke empat teman Eric juga sudah pulang ke kota. Karna harus kembali bekerja di perusahaan keluarga mereka masing -masing.
Hubungan Eric dan Cika juga jauh lebih baik. Eric sudah menyatakan cintanya pada Cika. Cika pun menerimanya dengan tulus, dan hari ini Eric kembali ke kota. untuk memberitahu ke pada ke dua orang tuanya, kalau dia ingin segerah menikah dengan kekasihnya.
Setelah sampai di kediaman ke dua orang tuanya. Eric membicarakan niatnya akan segerah menikahi ke kasihnya. orang tua Eric senang mendengar kabar dari putranya yang ingin segera menikah.
Tiga bulan telah berlalu, kini Eric dan Cika menanti hari pernikahan mereka yang akan di adakan di puncak di kediaman orangtua Cika, Hari ini Eric dan beserta rombonganya akan segera menuju puncak. Karna besok lusa adalah hari pernikahan Eric dan Cika.
__ADS_1
Di dalam perjalanan menuju ke puncak, keluarga Eric di hadang dengan kawanan perampok, Eric dan Angga dan ke tiga temannya ikut turun berkelahi dengan perampok itu, dan salah satu perampok itu mengeluarkan pisau dan ingin menusuk seorang ibu yang dari tadi berteriak Meminta pertolongan yang tak lain adalah ibu Eric.
"Tolong, tolong kami." teriaknya.
Perampok itu berjalan menuju ke arah ibu Eric dan ingin menikamnya dengan pisau. Namun Eric melihatnya dan tampa berfikir panjang Erik langsung mengdorong ibunya menjauh dari perampok itu. dan hasil perut Erik yang tertusuk dengan pisau itu beberapa kali. Eric jatuh tersungkur dan menghembuskan nafas terakhirnya saat itu juga. Sementara para perampok itu kabur.
Nyawa Eric ngak bisa di selamatkan. Cika menjadi depresi dan hampir bunuh diri. Hingga akhirnya orang tua Cikh memutuskan untuk membiarkan putrinya merangtau di kota. Sekaligus membuat rasa sakit hati Cika berkuran.
Nathan membuka selimut Cika. karna Nathan mengdengar suara isakan kecil dari dalam selimut.
"Cik, kamu nangis?." Tanya Nathan sambil melihat ke arah wajah Cika.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Nathan. Cika bangun lalu menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur sambil memeluk bantal dan tidak berkata Apa -apa. Namun matanya terlihat sembab.
"Cika, maafkan aku, ngak tak permah bermaksud?" ucap Nathan mengantung Sambil duduk di tepi tempat tidur sambil membelakangi Cika.
"Aku tak apa Nat," ucap Cika pelan.
"Lalu kenapa kamu menangis? boleh aku tau apa yang membuatmu menangis? karna saat ini aku merasa sangat bersalah sama kamu." Kata Nathan sambil melihat ke arah wajah Cika Namun tampa mereka sengaja ke dua pandangan mereka bertemu satu sama lain. Nathan bisa melihat begitu banyak kesedihan tersimpang di dalam mata Cika.
"Cik, berbagilah denganku, agar beban di hatimu sedikit berkurang. jangan mengangapku orang lain, kita kan teman," ucap Nathan tersenyum sambil mengedipkan matanya ke arah Cika. Melihat itu Cika mulai sedikit tersenyum melihat tingkah lucu Nathan.
Cika mulai menceritakan kisah cintanya yang hampir menikah dengan orang yang sangat di cintainya. Namun takdir berkata lain Cika dan kekasihnya tidak dapat bersatu. Nathan yang mengdengarkan cerita Cika dengan sangat tenang Namun ketenangan itu hanya di luar saja. Namun di dalam hati Nathan sangat sedih.
__ADS_1