Tentang Hidupku Dan Hidupnya

Tentang Hidupku Dan Hidupnya
21


__ADS_3

"Sebaiknya kita keluar, aku ingin mendengar itu dari mulut calong suamimu." ucap Ayah Cikha.


Cikha menganguk menyetujui ke inginan ayahnya. Lalu mengikuti ayahnya keluar menuju ruang tamu. Dan disana Nathang sedang menikmati secangkir teh yang telah di siapakan oleh ibu Cikha.


Ayah Cikha duduk di hadapan Nathang sementara Cikha duduk di samping ibunya. Nathang merasa kikuk duduk berhadapan dengan calon mertuanya.


"Silahkan di lanjutkan minumnya." ucap Ayah Cikha karna sedari tadi melihat Nathang mau minum tehnya tapi cuman sampai di depan mulutnya saja.


"I, i, iya pak,Om," ucap Nathang gugup.


Nathang melihat ke arah Cikha dan Cikha pun memberi kode kepada Nathang. Untuk memulai berbicara.


"Maksud kedatangan saya datang kemari ingin melamar putri ibu dan bapak." ucap Nathang gugup.


"Sudah berapa lama kamu mengenal putri kami?." tanya Ayah Cikha tegas.


"Baru beberapa hari Om, pak." jawab Nathang sambil menunduk dan gugup.


"Baru berapa hari berkenalan sudah mau menikah apa itu ngak terlalu cepat." ucap Ayah Cikha dengan nada suara datar.

__ADS_1


"Lebih cepat menikah, itu akan lebih baik dari pada harus menjalin hubungan kasih terlebih dahulu, kami tidak ingin saling merusak satu sama lain, aku sangat percaya dengan pilihanku, yaitu putri bapak dan ibu, dan bila bapak mengisinkan saya ingin menjadikan putri bapak seagai istri saya." ucap Nathang lantang.


"Baiklah, apa kamu masih memiliki orangtua?, kalau bisa isinkan saya berbicara kepada orang tua kamu." ucap Ayah Cikha.


"Baiklah, saya akan menhubunginya sekarang." ucap Nathang sambil berjalan ke arah Cikah.


"Cik, aku boleh memakai hapemu?. " tanya Nathang.


"Boleh, namun sekarang hapeku ada di kamar, sedang ku cas." jawab Cikha.


"Boleh saya masuk ke kamar Cikha pak?." tanya Nathang sopan.


Nathang pun berjalan masuk ke kamar Cikha.


"Ini hapenya." ucap Cikha.


Nathang pun mengambil hape Cikha dan mulai menghunbungi nomor mamanya setelah tersambung.


"Halo ini siapa?," tanya Nitha dari balik telpon.

__ADS_1


"Ini Nathang ma." dan saat itu Cikha ingin keluar dari kamarnya namun dengan cepat Nathang memegan tangan Cikha dan berkata.


"Tetaplah di sini." ucap Nathang lembut.


"Kamu di mana sayang?, dan tadi kamu bicara lembut seperti itu pada siapa?," Tanya Nitha penasaran.


"Dengan calon menantu mama." ucap Nathan langtang. Sontak membuat wajah Cikha memerah seperti kepiting rebus karna merasa malu.


"Apa!, calon mantu mama?, kamu sudah mendapatkannya?, dimana?," Tanya Nitha senang. begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Nitha. Hingga akhirnya Nathang berkata.


"Ma, ayah Cikha ingin bicara sama mama, karna saat ini aku sudah melamar Cikha untuk menjadi istriku, dan aku harap mama mengdukung keputusanku dan merestui kami berdua." ucap Nathang dari balik telpon.


"Mama akan selalu mendukungmu, dan juga merestuimu, asalkan putra mama bahagia." ucap Nitha senang.


"Terimah kasih ya ma atas dukunganya dan juga restunya. " ucap Nathang senang dan bahagia.


Sementara di ruang tamu mama Cikha berkata


"Apa ayah sudah memikirkan ini?, Cikha itu putri kita satu -satunya. Bagaimana kalau si Nathan ini bukan pemuda baik -baik, hidup anak kita akan sengsara nantinya." ucap Ibu Cikha cemas.

__ADS_1


"Tenang Bu, makanya saya menyuruhnya untuk menelpon orangtuanya, supaya saya bisa tau sedikit Soal Nathan ini." ucap Ayah Cikha. Begitu banyak hal yang dipikirkan oleh ibu Cikha, sebagai orang tua,wajar seorang ibu merasa seperti itu.


__ADS_2