Tentang Hidupku Dan Hidupnya

Tentang Hidupku Dan Hidupnya
Eric dan Cika


__ADS_3

Mendengar ucapan ayah Cika. Eric pun berkata.


"Aku merasa sangat berungtung bertemu dengan ayah dan anak ini. Mereka berdua sangat baik. Walau pun aku hanya orang asing di rumah mereka. Namun mereka memperlakukan aku layaknya sebagai keluarga sendiri."


Setelah beberapa saat Cika masuk sambil membawa manpang yang berisi makanan dan juga minuman untuk Eric.


"Ayah ini sarapannya," Ucap Cika yan sudah berada di dalam kamar Eric.


"Nak Eric sebaiknya makan dulu. dan aku permisi ke luar. Mau ke hutan untuk mencari ramuan herbal," Ucap Ayah Cika.


Cika pun melihat ke arah ayahnya lalu berkata.


"Ayah beneran ngak mau aku temanin? Ayah sendiri, tak ada ibu yan menemani," Ucap Cika khawatir.


"Tak apa nak, ayah cuman cari ramuan di gunung dekat sini saja. Lagian di rumah ada tamu, tak baik ninggaling rumah," Ucap Ayah Cika sambil berjalan keluar dari kamar.


Mendengar itu. Eric pun bertanya pada Cika.


"Ibu, kemana Cik? maaf maksud aku ibu kamu kamana?" Tanya Eric sedikit gugup karna salah bicara.

__ADS_1


"Ibu, ke rumah tanteku. Di sana sedang ada acara. Aku sama ayah ngak ikut karna di sini ada banyak pesanan obat herbal. Jadi aku dan ayahku sibuk mencari obat ramuan herbal di hutan.


"Ooo, seperti itu," Ucap Eric sambil tersenyum.


"Ya, sudah kamu makan. Entar makanannya keburu dingin. Untuk sekarang kamu pasti sudah bisa makan sendiri? iya kan?"


"Iya aku sudah bisa. Badan aku juga sudah bisa di gerakin. Ngak seperti kemarin," Ucap Eric mengambil piring makanan yan ada di tangan Cika.


Selesai makan. Eric berusaha untuk turun dari tempat tidur karna merasa bosan.


"Ao, ao, ao." Ringgis Eric.


Cika yang mendengar ringgisan Eric pun dengan segera masuk ke dalam kamar untuk melihatnya.


"Maaf tapi aku mau anu?"


"Mau apa? biar aku ambilkan?"


"Bagaiman cara aku menjelaskannya," Ucap Eric sambil mengaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


"Bilang aja, ngak usah sunkang, kalau aku bisa, aku pasti akan membantumu."


"Maaf ya Cik, sebenarnya aku ingin buang air kecil." Sambil menaikan anak jari Eric.


Mendengar ucapan Eric. Cika pun berkata dalam hati.


"****** aku, bagaimana ini? apa yang harus ku lakukan? kenapa juga teman -teman Eric belum ada yang datang. kalau bukan aku yang membantunya siapa lagi? di rumah ini hanya ada kami berdua."


"Boleh aku meminta bantuan kamu? tolong bantu aku ke kamar mandi," Ucap Eric membuyarkan lamunan Cika.


"I, iya, baik." Ucap Cika gugup.


Mandengar suara gugup Cika. Eric pun tersenyum sambil mengeser tubuhnya ke sampin tempat tidur agar segera bisa turun. Cika pun berjalan mendekat ke arah Erik dan mulai membantunya.


"Terimakasih ya, Cika karna telah membantuku, dan maaf karna telah merepotkanmu."


"Biasa saja," Ucap Cika sambil memapah lengan Eric menuju kamar mandi.


Sambil memapah lengan Eric. Sesekali Cika melihat ke arah Eric yang kini sangat dekat dengannya. Cika pun berkata dalam hati.

__ADS_1


"Tampan juga," Ucap Cika sambil meliahat ke arah wajah Eric. Eric pun menyadari kalau saat ini Cika sedang memandangnya. Dan tampa Cika sadari kini dia sudah berada di dalam kamar mandi.


"Cika sebaiknya kamu keluar dulu, aku sudah kebelet," Ucap Eric sambil menarik hidung Cika dan itu membuat Cika tersadar dari lamunannya.


__ADS_2