
Melihat Cika masuk ke dalam kamar yang tengah Ia tempati, Ericpun berkata.
"Kamu! maaf maksud aku, kenapa aku ada di sini?" melihat ke arah Cika yang kini tengah berjalan ke arahnya.
Mendengar pertanyaan Eric. Cika pun berkata.
"Ini rumah aku." tersenyum "Dan semua teman kamu sudah pulang, besok datang lagi ke sini." Cikha menjelaskan.
Mendengar itu Eric, hanya mengangukkan kepalanya. Mengerti dengan apa yang tengah Cika katakan.
Eric melihat ke arah sampin, tempat tidurnya, mencari sesuatu,
Setelah melihat yang Ia cari, Eric ingin mengambilnya. Namun tangannya tidak sampai. Cikha yang melihat itu, mengerti kalau saat ini Eric ingin minum,
Cika mengambilkan gelas yang berisi air minum tersebut lalu memberikan pada Eric.
"Inih." tersenyum "Kamu mau minum kan?" tanya Cika pelan.
Dengan segera Eric berkata "Iya." tersenyum "Terimakasih" Eric menerima gelas yan berisi air minum dari tangan Cika.
Mendengar ucapan Eric. Cika tersenyum, lalu berkata. "Oya apa masih ada yang terasa sakit?" tanya Cika pelan.
Dengan segera Eric berkata.
"Masih ada sedikit." Erik bangun lalu menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur.
"Terimakasih, karna telah menolongku," ucap Eric pelan namun di dalam hati Eric berkata.
"Biar sepuluh kali aku di tusuk aku rela, asal kamu yan merawat aku kaya gini**," Guman Eric dalam hati
"Kamu makan dulu." Cikha memberikan makanan yang telah Ia siapkan sebelumnya.
Mendengar itu Eric pun berkata.
"Bagaimana caranya aku bisa makan? tangan terasa agak kram." Eric berusaha mengankat tangannya.
__ADS_1
Melihat itu Cika tersenyum, lalu berkata. "Tidak masalah biar aku yan menyuapimu." setelah mengatakan itu Cika mulai menyuapi Eric.
Mendengar itu Eric merasa sangat senang. "Astaga, mimpi apa aku semalam? jantungku terasa berdetak tak karuan, mendengar ucapan gadis yang tengah berada di hadapanku ini" Guman Eric dalam hati.
Cika mulai menyuapi Eric. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Eric. Hingga akhirnya makanan itu habis. Namun Eric masih menunggu suapan dari Cika yan tak kungjung masuk ke dalam mulutnya.
Melihat itu Cika tertawa, menertawai Eric yang masih menunggu suapan darinya, Cika pun berkata.
"Eric." menepuk pelan bahu Eric "Makanannya telah habis, apa kamu masih mau nambah?" tanya Cika pelan.
Eric yang mendapat tepukan di bahunya tersadar, melihat ke arah Cika yang kini tengah tertawa melihat ke arahnya
Dengan nada suara gugup Eric berkata. "Iya, ada apa?"
"Makananya sudah habis. Apa kamu masih ingin menambah makanannya?" Cika mengulang ucapannya.
Sewaktu Cika menyuapi Eric, Ia tak berenti melamun, sambil menatap wajah gadis yang kini tengah menyuapinya makan.
"Ya Allah begitu sempurna ciptaanmu yan satu ini, yan ada di depan mataku, wajah begitu sangat cantik, matanya yan bulat di tambah dengan bulu mata yan lebat dan lentik, hidung mancung dan bibir yan begitu sangat seksi ingin rasanya aku...
"Kamu kenapa? apa ada yan sakit?" Cika melihat ke arah Eric yang kini tengah terlihat bingun.
Eric mengangukkan kepalanya, lalu berkata. "Aku tidak apa-apa."
Mendengar itu, Cika pun tersenyum. lalu berkata.
"Ya, sudah, sekarang kamu kembali tidur, biar besok bangunnya lebih segar."
Setelah mengatakan itu Cikha sambil Eric untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Mendapat bantuan dari Cika, Eric kembali berkata dalam hati.
"Ya, Allah, Cika membantuku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku merasakan hembusan nafas Cika mengenai leherku, dan itu membuatku. Ah, apakah aku sudah gila? Kenapa dengan diriku? apa aku sedang jatuh cinta? namun jujur, aku akui kalau saat ini aku tengah jatuh hati terhadap gadis ini. Dan ini bisa di bilang. Aku jatuh cinta pada pangdangan pertama**." Guman Eric dalam lamunanya.
Selesai membantu Eric, Cika berkata.
__ADS_1
"Aku keluar dulu ya." tersenyum manis melihat ke arah Eric.
Mendengar itu Eric berkata
"Terimakasi."
Cika berjalan ke arah pintu, setelah sampai di dekat pintu Cika berbalik melihat ke arah Eric, lalu berkata.
"Selamat malam, semoga tidurmu nyenyak." kembali tersenyum manis.
Eric yang mendengarkan itu, tersenyum membalas senyuman Cika.
"Malam."
Setelah Cika keluar dari kamar yang di tempati Eric. Eric berkata sendiri di atas tempat tidurnya.
"Sebenarnya aku tak mau kamu tinggal sendiri disini Cik. Aku mau kamu temanin aku.
Namun aku sadar, aku ini seorang tamu yan di tolong oleh mu dan juga Ayahmu. Dan semoga malam ini cepat berlalu. Besok aku bisa melihat wajahmu lagi.
Pagi pun tiba, Eric membuka matanya dan berharap Cika yang tengah memeriksa lukanya.
Ketika Ia membuka mata. Eric merasa agak sedikut kecewa karna yang Ia lihat bukanlah Cika melainkan Ayahnya.
Melihat Eric terbangun, Ayah Cika pun berkata.
"Bagaimana nak? apa masih ada yang sakit?" Tanya Ayah Cika.
"Masih sedikit sakit Pak. Terimakasih banyak, karna telah menolong dan mengobati luka saya." Jawab Eric.
Mendengar ucapan Eric. Aya Cika tersenyum lalu berkata.
"Biasa saja nak, kamu tak usah sungkang sama bapak
karna itu sudah menjadi kewajiban kami sesama manusia."
__ADS_1