
Sore itu senja muram sekali, angin pantai menyelinap membelai rambutku, keluarga burung terbang bersama pulang kerumahnya, buih dilautan yang tersapu sampai ketepian, dan sikepiting kecil yang diam-diam mengendap meraih kaki yang tak beralas untuk mengejutkanku
sesekali aku menatap luasnya langit “kenapa kau tampak muram? Apakah ada yang salah? Ataukah ada yang menyakitimu? Ceritakan saja, jangan merasa sendiri karena aku bersamamu aku bisa menjadi pendengar yang baik untukmu”
Samar-samar semakin jelas terdengar suara “saaaa,, arsaaa”
dalam keheningan yang menyisakan suara angin dan ombak tiba-tiba ada suara yang memanggil namaku, aku fikir itu suara dari langit yang bersedia berbicara denganku,
ternyata itu suara ibu "ibu cari kemana-mana rupanya kamu disini, sudah sore dan mau hujan cepat pulang Appa memanggilmu dirumah”
“baik bu” segera aku meninggalkan senja sore itu dan berjalan mengikuti jejak ibu.
Namaku Jiarsa seorang putri yang gagal menjadi anak tunggal, adikku laki-laki dan terlahir dengan keistimewaannya, jarak kami cukup jauh sekitar 13 tahun, lingkungan desa yang membuat orang tuaku menikah muda saat itu terutama ibu, ayahku seorang nelayan pinggiran dan petani tambak sedangkan ibuku seorang ibu rumah tangga, keadaan kami biasa-biasa saja
__ADS_1
yang membuatku jadi lebih istimewa karena aku punya “Appa” begitu aku menyebut ayahku
beliau sosok panutanku, pahlawanku, kehidupanku, dan bahkan mungkin kiblat cintaku, sosok laki-laki yang begitu sempurna dimataku, kasih sayangnya, perhatiannya, tanggung jawabnya, kerja kerasnya membuat karismanya sebagai seorang ayah dan pemimpin dikeluarga kecil dan keluarga besarnya bertaburan memenuhi pikiran, perasaan danmataku.
kami hanya orang kecil yang memiliki cita-cita besar, entah terlalu arogan dan mengada-ngada atau memang kami siap berusaha untuk mencapainya, itu mimpi yang aku buat bersama Appa.
Entah bagaimana juga mulainya aku bisa jauh lebih dakat dengan Appa ketimbang ibu, tapi bukan berarti aku tak menyayangi ibuku, kadar rasa sayangnya sama saja akan tetapi aku lebih mengidolakan Appa, mungkin karena usia ibu masih sangat muda saat melahirkanku, jadi aku merasa Appalah orang yang paling banyak berperan dalam pembentukan karakterku,
entah,, mungkin aku salah berfikir, tapi menurut memori ingatanku aku belajar banyak tentang arti hidup dan kehidupan dari Appa, mencotoh banyak hal dari Appa.
terserah bagaimana orang lain menilainya, tapi itu yang selalu aku terapkan dalam kehidupanku.
Sebagai anak yang duduk di bangku kelas 2 SLTP kala itu kehidupanku bukan hanya tentang keluarga saja, mungkin usiaku saat itu boleh dikatakan sudah remaja, dimana saat diluar rumah akupun memiliki kehidupan dan duniaku sendiri.
__ADS_1
Pendidikan, sahabat, teman bahkan mungkin perasaan terhadap seseorang.
"cckreeekk,,, suara ibu membuka pintu, disusul suara lembut namun penuh ketegasan menyambarku sore itu
"saaa, kebiasaan mu apa sungguh tidak bisa berubah? masih suka kamu menghabiskan waktu soremu dengan mengajak langit, laut dan penghuni pantai lainnya bercerita?" ujar Appa bertanya sekaligus meledek akibat kebiasaan anehku
"masih pa" aku menjawab dengan wajah tanpa berdosa,
"apa tidak bisa kamu kembali bergaul dengan teman-temanmu, saat kamu masih kecil dulu kamu anak yang aktiv dan ceria, serta berteman dengan anak-anak lain disekitar sini, tapi lihat dirimu sekarang apakah kamu punya teman?" lagi-lagi Appa meledek bahkan menyudutkanku.
"sudah tidak tertarik ppa, wahh wahhhh Appa jangan salah aku punya Naya dan Gia, mereka temanku". ucapku membela diri
"wahwahhh ternyata kamu masih mengakui Naya dan Gia sebagai temanmu, syukurlah Appa kira anak Appa hanya berteman dengan siput dan kepiting pantai saja, tapi tunggu apakah mereka juga mengakuimu sebagai teman, jangan-jangan mereka terpaksa berteman denganmu sa, hahahha"
__ADS_1
Appa tertawa puas sekali, begitulah hobby Appa meledek atas semua tingkah anehku, lagi-lagi aku kalah 1-0 dari Appa