
Di dalam kamar bernuansa abu-abu itu, Bastian mulai mengerjap kan mata nya, tangan kanan nya seperti kram lalu ia kibas-kibas kan, Bastian tersadar jika semalam tangan nya di peluk Sabrina dengan erat, Bastian mencari keberadaan Sabrina dari sudut ruangan itu, hingga ke kamar mandi dan terlihat kosong.
“Sabrinaa, di mana dia??”
Bastian pun keluar dari kamar tidur nya, terlihat Dhisa yang masih tidur di atas sofa, dan Agus di bawah ber alaskan karpet tertidur juga.
Terdengar dari arah dapur suara seseorang yang sedang memasak, di lihat nya jam tangan masih menunjuk kan pukul 06.00, Bastian ingin mengecek siapa yang bikin keributan pagi-pagi di Apartemen nya itu.
Dari arah jauh Bastian sudah bisa melihat siapa yang sedang memasak dan membuat suara gaduh dari dapur nya itu.
“Sabrinaa??”
“Heii, kamu ngapain di sini??”
“Apakah kamu baik-baik saja hmm??”
Bastian yang merasa sudah memiliki Sabrina pun tanpa canggung memegang bahu Sabrina, membalik kan tubuh nya lalu memeriksa dan menyentuh kedua pipi Sabrina dengan perasaan was-was bagaimana keadaan Sabrina setelah peristiwa semalam yang di lalui nya.
Sabrina yang di perlalukan sangat manis oleh Bastian, tentu saja merasa bahagia dan sedikit malu, dengan tersenyum ceria serta wajah nya yang merah merona Sabrina pun menjawab.
“A-ku su-dah baikan, makasih yaa kamu sudah menolong ku semalam?!”
“Jadi sebagai imbalan nya, a-ku mau masak untuk sarapan kita semua nya.” ucap Sabrina debgan ceria nya.
“Yakin kamu baik-baik saja hmm??” Bastian yang masih kawatir pun, sedikit kaget dengan perubahan Sabrina pagi ini.
“A-ku baik-baik aja Bastian, jus-justru a-ku nervouse kalo kamu perhatikan seperti ini!!” Sabrina yang sedikit malu pun menunduk kan kepala nya sambil menggigit bibir bawah nya, yang membuat Bastian semakin tidak bisa menahan nya.
Bastian pun membuang nafas nya dari mulut, semakin dekat dengan Sabrina hasrat nya semakin tidak terkendali.
“Yaa sudah, aku bersih-bersih dulu, nanti ku temenin masak nya yaa?!”
Bastian meninggalkan Sabrina dengan mengacak rambut Sabrina dengan sayang, ia memutuskan kembali ke kamar nya untuk menyiram kepala nya dengan air dingin, agar pikiran-pikiran kotor nya kepada Sabrina dapat segera hilang.
“Yaa Tuhan... aku kalo dekat dengan Bastian seperti kena serangan jantung aja!!” lirih Sabrina saat Bastian sudah hilang dari pandangan nya.
“Aku harus tenang, setenang mungkin!! Jangan sampai menunjuk kan tingkah panik ku di hadapan Bastian, Bismillah pasti bisa!!” Sabrina berusaha tenang, tapi bayang-bayang ia di peluk Bastian semalam, dan bagaimana Bastian menolong nya masih terlihat jelas dalam ingatan nya.
*
Kini Bastian sudah sedikit tenang, pikiran nya segar setelah tubuh nya di siram dengan air dingin, Bastian pagi ini merasa begitu bahagia. Apartemen nya seketika hidup, bahan makanan yang tiap minggu di isi oleh assisten Pak Arman itu hampir tidak pernah terpakai, setiap minggu di isi dan di ganti dengan yang baru, dan Bastian tidak pernah menggunakan nya. Beruntung Bastian tidak pernah menolak mereka mengisi kulkas nya, Bastian selalu membiarkan apapun jika itu atas perintah Om Arman, sekarang Sabrina bisa pilih-pilih bahan yang akan di masak nya dengan senang.
"Waoww isi dapur mu ini lumayan komplit, seperti di paviliun kampus ku aja!! hehehee."
"Pakai lah semua yang kamu butuh kan!!"
“Bastian sekali lagi makasih yaa??” Sabrina berusaha menenangkan diri nya, agar bisa mengobrol santai dengan Bastian.
“Itu sudah tugas ku, aku harap kamu melupakan peristiwa semalam!! Dan satu lagi, jangan pernah pergi ke tempat-tempat bahaya lagi tanpa aku atau Agus!!”
“Mengerti!!” tegas Bastian.
“I-Iya iya aku mengerti dan aku janji gak akan ke tempat itu lagi!!”
“Good girl!!” Bastian kembali mengacak rambut Sabrina dan setelah nya di rapikan nya kembali.
"Cantik!!"
Deg
“Kenapa perlakuan manis Bastian membuat jantung ku berdetak semakin kencang, padahal dulu Jaka juga sering kayak gini, tapi aku merasa biasa aja!!”
*
*
__ADS_1
Mereka berempat sudah ada di meja makan, kebetulan meja makan Bastian berisi 4 kursi, jadi cukup untuk mereka berempat.
“Brie kamu jadi pulang hari ini??” tanya Agus kepada Sabrina.
“Iya Gus, aku sudah hubungi Mama kemaren sore, dan Mama pasti menunggu aku hari ini.
“Brie kamu harus hati-hati loh!! Apalagi naik bus kota sendirian!!” ucap Dhisa yang sedikit masih kawatir.
“Iya aku tau, mangka nya hari ini aku pulang siangan aja biar sampai Malang gak kemalaman, apalagi hari ini weekend kan?!”
“Iya, aku masuk middle hari ini, gak bisa dong antar sampai ke halte?! Ucap Dhisa.
“Biar gue yang antar nanti, kalian balik aja ke kost dan istirahat!!” ucap Bastian yang menawarkan diri.
“Aku pun masuk middle Brie jam 12an sama kayak Dhisa, gak papa kan gak ku antar??” sambung Agus yang tidak bisa mengantarkan Sabrina.
“Santai aja Gus, lagian masih siang masih banyak orang pasti nya di terminal!!”
*
Agus dan Dhisa meninggalkan Apartemen sekitar pukul 10.00, mereka berdua harus prepare dulu di kost karena harus kembali bekerja di jam 12.00 wib , Sabrina pun setelah menunggu Bastian untuk berganti baju, akhir nya pulang ke kost untuk berkemas-kemas, menyimpan barang kebutuhan nya di dalam tas, dan barang-barang penting lain nya.
“Dah beres??” tanya Bastian yang melihat Sabrina keluar dari rumah ibu kost.
“Udah, yuk keburu sore, aku gak mau kemalamam sampai di Malang!!”
*
Mereka berdua berjalan menelusuri gang demi gang sengaja berjalan kaki, karena halte dekat dengan plaza BRI area tempat mereka tinggal.
“Brie, pakai ini!!” Bastian memakaikan topi kepada Sabrina saat di halte menunggu bus kota yang menuju terminal Bungurasih.
"Biar gak kepanasan!! cantik kok."
“Hehehe... ini baru beli atau punya kamu??”
BUNGUR BUNGUR BUNGUR BUNGUR BUNGUR
Suara kenet bus kota itu langsung saja mengagetkan mereka berdua.
“Nah bus nya datang, aku naik yaa makasih buat semua nya bye...”
Sabrina tersenyum manis dan mengucapkan terima kasih kepada Bastian sambil melambaikan tangan nya, Bastian yang di pamitin Sabrina hanya tersenyum saja tanpa membalas lambaian tangan.
Sabrina mengantri untuk naik ke dalam bus kota itu, karena weekend dan penumpang padat, otomatis Sabrina tidak kebagian tempat duduk, ia harus berdiri selam bus berjalan menuju terminal.
“Haii cewek, kasian nya cantik-cantik berdiri!!”
“Bas-bastian kamu ngapain naik??”
“Mau memastikan kamu selamat sampai di tujuan!!”
“Jangan bercanda, kamu bukan nya kerja hari ini??”
“Terserah aku, aku mau bolos kerja atau gak?? yang penting kamu selamat sampai di Malang!!”
“Kamu gak bermaksud antar aku sampai ke Malang kan??”
“Lebih tepat nya sampai di depan rumah mu!!”
“Bastian jangan asal deh, ini berlebihan aku gak enak sama kamu?!”
“Yaa kalo gak enak di kasih kucing aja!!”
“Ihh... aku kan emm... aku kan bukan sipa-siapa kamu Bastian??”
__ADS_1
“Yaa sudah, kalo sekarang bukan siapa-siapa, bagaimana kalo mulai hari ini kamu jadi orang yang special buat aku??”
“Eh, A-apah??”
Sabrina yang berdiri membelangi Bastian, merasa sedikit lega karena Bastian tidak akan tau bagaimana raut wajah Sabrina untuk saat ini, yang langsung merah merona begitu mendengar pernyataan Bastian.
“Aku ada pertanyaan, apa kamu ada pacar untuk saat ini??” Bastian memastikan bahwa Jaka bukan pacar nya, seperti info Agus waktu itu. Ia mulai sedikit menempel pada tubuh Sabrina, selain untuk melindungi nya ia ingin mendengar jawaban langsung dari Sabrina.
Sabrina hanya menggelengkan kepala nya saja.
“Oke berarti aku bisa kan jadi cowok kamu sekarang?? Hmm gimana??”
Blasshhhh
Sabrina belum menjawab nya, lidah nya seperti kaku dan susah untuk di gerak kan hingga sesuatu terjadi
Achhhh
Bruukkkk!!
Sabrina yang kehilangan konsentrasi nya, seketika terjatuh saat bus mengerem mendadak menurunkan penumpang.
Bastian yang memegang pinggang Sabrina pun tidak imbang, akhir nya mereka terjatuh bersama dengan posisi Bastian di bawah dan di tindih oleh Sabrina.
Saat Sabrina akan bangun, tatapan mereka terkunci dan tangan Bastian menahan Sabrina.
“Jawab pernyataan ku tadi yes or no?? sekarang!!”
Sabrina sangat malu, bibir nya langsung cemberut melihat Bastian yang memaksa untuk menjawab nya.
“Ihh... lepasin dulu!! Aku malu!!”
“Enggak!! Jawab dulu yes or no hmm??”
“Ihh Nyebelin, pemaksa!!”
“YES OR NO??”
Sabrina yang terlihat malu-malu tapi mau akhir nya mengangguk kan kepala nya, bahwa ia terima Bastian sebagai pacar nya.
“Aku gak dengar??”
“Bastian nyebelin deh, malu tauu ihh!!” Sabrina yang cemberut tentu saja membuat Bastian semakin gemes.
Bastian lalu membantu Sabrina berdiri, dan di ikuti oleh nya.
Suhu bus kota langsung saja terasa panas saat Bastian menatap penuh damba terhadap Sabrina.
Bastian yang sudah tidak ada malu nya lagi langsung saja memeluk Sabrina dari belakang dan membisik kan sesuatu kepada nya.
“Mulai saat ini kita akan bersama, terima kasih sudah mengisi hari-hari ku, perempuan berisik ku muachh!!”
Bastian mengecup pipi Sabrina, tentu saja sang empu nya tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan kata-kata pun sangat sulit untuk di ungkapkan, kejadian yang begitu cepat sangat sulit di uraikan oleh pikiran Sabrina, dari mulai jatuh bersama, di peluk, di bisikkan sesuatu dan terkahir pipi Sabrina di kecup nya.
Deg deg deg deg deg
...***...
Part ini sedikit dag dig dug yaa, yang baca jangan senyum-senyum sendiri, cari teman dulu geh 😁🤭
Othor merinding mau meneruskan cerita nya senyum-senyum sendiri di kira gak waras nanti di kantor🤣, tunggu part berikut nya aja yaa cari tempat yang aman buat berhalu nyaa
Jangan bosan yaa cerita nya bakal lebih romantis dari Sabrina & Bastian.
Salam tayang emuuach
__ADS_1
nonaAurora😚