
Hari sudah mulai lelah, langit telah bersiap menanti senja, kami bertiga duduk teras depan UKS menanti Pak Herry, terlihat panitia penyelenggara sibuk menyiapkan upacara penutupan, sebagian dari para peserta dan siswa lainnya bersiap berkumpul ditengah lapangan untuk mengikuti upacara.
“sa apa tidak sebaiknya kita ikut berkumpul juga di lapangan?” tanya Naya padaku
“Nay please kali ini saja kita belajar untuk tidak patuh, lagipula itukan tidak benar-benar upacara penutupan, hanya pengumuman pemenang dari segala macan jenis perlombaan” Gia menjawab pertanyaan yang ditujukan padaku
“jadi kita akan patuh atau tidak?” aku malah balik bertanya pada mereka
“Tidak” Gia menjawab spontan “kali ini sajjjja, please, lagipula banyak ko siswa lain yang sudah pulang please yah ya” dia merengek memelas padaku dan Naya
Aku menengok ke arah Naya, tidak biasanya Gia bersikap seperti ini
“dari banyaknya orang yang hadir, tidak sengaja kita bertemu dengan Radit’ setelah itu mungkin mootnya jadi berubah” Naya membisikan penyebabnya padaku
Radit adalah teman kecil Gia dulu, hubungan mereka amat begitu dekat, mereka berdua tumbuh bersama hingga tak terpisahkan, dimana ada Radit disitu pasti ada Gia begitu juga sebaliknya, dahulu Gia tidak berteman dengan laki-laki selain Radit, baginya cukup ada Radit bersamanya kehidupannya akan baik-baik saja
mungkin bisa dibilang Radit adalah cinta pertama Gia, tapi semuanya berubah saat keluarga Radit pindah Rumah, sampai pada akhirnya mereka berpisah dan meninggalkan kenangan pahit untuk Gia.
“mmmmm besokkan hari minggu bagaimana jika kalian menginap saja di rumahku, setelah bertemu dengan Pak Herry mari kita lakukan sesuatu hal yang seru” ajakku mencoba menghibur Gia
“boleh-boleh” Gia menjawab antusias
“oke” diikuti dengan Naya menyetujui
Meminta ijin untuk menginap bukan salah satu hal yang sulit untuk kami, karena masing-masing diantara kami sudah mengenal orang tua dan keluarga satu sama lain, begitupun orang tua kami, mereka sudah saling mengenal karena kami sering mempersatukan mereka jika sedang rapat orang tua di sekolah
mereka jadi bisa saling memonitori satu sama lain, Saat aku sedang berfikir hal apa yang akan aku lakukan untuk menghibur Gia, terdengan suara ayunan kaki datang menghampiri kami, yapp sesuai dugaan itu adalah Pak Herry.
Tapi tunggu, entah apa yang salah namun aku melihat sesuatu yang bebeda dari raut wajah Pak Herry, senyumnya tertahan, tatapan matanya berat, langkahnya seolah terhalang banyak ranjau
Aku tak ingin menduga-duga, tapi hatiku dipenuhi banyak prasangka, seiring dengan langkahnya Pak Herry Kian mendekat, kini tepat berada dihadapanku, aku mulai tegang, bukan ketegangan karena menunggu sebuah hasil kemenangan atau tidak
prasangkaku malah dipenuhi fikiran negativ, apakah aku telah mengecewakan Pak Herry, ataukah nilaiku sangat buruk sekali, Gia dan Naya yang berada tempat disampingkupun mulai merasakan ketegangannya, bagaimana tidak, melihat ekspresi Pak Herry yang dipenuhi tanda tanya, membuat jantung kami bergejolak, mereka berdua menggenggam tanganku erat, namun kami tidak berani untuk menatap Pak Herry
“Ssa…” ucap Pak Herry lirih
__ADS_1
Aku bingung harus bersikap bagaimana, senyumkupun tertahan, mulutku seolah terkunci, aku tidak biasa dengan keadaan seperti ini, melihat Pak Herry sudah seperti Appaku sendiri, aku tak kuasa dibuatnya
Ku coba mengatur nafasku, perlahan aku singkirkan rasa tegangku, aku beranikan diri untuk mengangkat kepalaku, tapi sungguh tersajikan pemandangan diluar dugaanku, terlihat gumpalan air yang terbendung dibola mata Pak Herry.
Seumur hidupku, baru kali ini aku melihat guru menangis dihadapanku, yang membuat aku lebih merana ialah karena aku penyebabnya, aku tidak bisa melihat sesorang bersedih apalagi menangis dihadapanku,
emosiku mudah tersentuh hal itu akan membuat aku ikut menangis sejadi-jadinya
Selama ini aku slalu menghindari hal-hal seperti ini, karena aku tak ingin terlihat rapuh dihadapan orang,
aku tidak menyukai jika air mataku terlihat oleh orang lain, tapi kali ini aku justru marah pada diriku sendiri, aku kecewa, aku telah gagal.
Aku telah mengecewakan banyak orang, aku telah menghancurkan mimpi dari seseorang yang begitu baik padaku
“bapak maaf, maafkan saya pak, saya sudah mengecewakan bapak dan yang lainnya, maafkan saya sudah menghancurkan mimpi bapak, mematahkan harapan bapak, saya gagal pak, bapak boleh marah kepada saya tapi tolong jangan dengan cara seperti ini” aku tak kuasa menahan tangisku, aku melepaskan genggaman Naya dan Gia, lalu berbalik menggemgam tangan Pak Herry
“Ssa lihat bapak” Aku menggeleng dengan berusaha menghentikan tangisku
“ehhh Liat bapak dulu” Pak Heri melepaskan satu tangannya dari genggamanku lalu menepuk-nepuk jemariku yang erat menggenggam tangannya
“liat bapak dulu sini, tidak apa-apa sa” Pak Herry kembali menenangkanku
Terasa elusan tangan di atas pundakku, kedua sahabatku masih berada disampingku, mereka ikut menenagkanku
Sambil mencoba menghentikan isakan tangisku aku mencoba memberanikan diri untuk mengangkat kepalaku
“sudah nangisnya? Sekarang dengarkan bapak ya?" Pak Herry kembali memintaku untuk tenang
aku mencoba menahan diri agar tak kembali terisak, menatap Pak Herry dan menganggukan kepalaku sebagai tanda jika aku bersedia untuk mendengarkannya
“terima kasih Ssa, kamu berhasil” ucap Pak Herry tersenyum
Aku termangu kebingunan, mencoba untuk mencerna baik-baik perkataan Pak Herry yang baru saja disampaikan, kedua sahabatkupun masih tidak percaya, setengah tidak mengerti apa yang di maksud Pak Herry
“berhasil? maksud bapak berhasil”
__ADS_1
dengan sisa isakan yang belum semuanya menghilang, aku bertanya pada Pak Herry memintanya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya dimaksudkan
“iyah Ssa, kamu jadi juara 1” Pak Herry tersenyum menggambarkan kebahagiaan di raut wajahnya, berbeda dari apa yang aku lihat beberapa menit yang lalu
“apaahhhh Arsa juara 1????” terdengar suara sekelompok orang dari sudut lorong, dan tak lain itu adalah Ian cs
Mereka berlari menghampiri kami tanpa memperhatikan sekitar, mereka tak menyadari jika percis dilorong yang mereka lewati adalah lorong yang baru saja dibersihkan oleh Pak Diman petugas kebersihan disekolah kami.
“ian yan, woy licin woy” Ari berteriak dengan langkahnya yang tidak seimbang
“HAhha rasain lohh, ngga pernah ngejar cewek sih lu ya” jawab ian meledek
“ehhh kadal sue lu ya bukannya bantu pegangin, sepatu gua licin ini kagak bisa diem” Ari berteriak lagi sambil berusaha menarik sesuatu yang ada di dekatnya
“jangan tarik gua ri, lu kagak tau kondisi sepatu gua sama kaya sepatu elu” putra mencoba menghindar dari tarikan tangan Ari
“het dah sikadal, kan uda gua bilang alas sepatu gua uda rata kadalll,, lu narik gua maksudnya mao ngajak jatuh bareng atau begimana dah” putra kembali ngoceh karena langkahhnya pun ikut menjadi tidak stabil
“uda nyerah aja dari pada kalian jatuhnya split yang ada celana kalian jadi robek” ucap Dio memberi saran
“ini lantai ada apanya sih, busett licin banget, sampe sepatu gue susah dijinakin gini” Ari kembali ngedumel
“ettt dah kelamaan kadalll” tanpa sabar Ian mendorong Dio ke arah Putra dan Ari, al hasil mereka bertiga terjatuh mencium lantai
Hal itu sontak membuat tertawa kami berempat
“lu malu-maluin gue aja lu, baru ngejar cewek gitu aja udah pada jatoh, makanya sering-sering ngejar layangan putus biar terlatih kaya gue” ucap ian membanggakan dirinya
Dari arah berlawanan Pak diman kembali membawa ember berisi air pel yang baru saja ia gunakan, Ian berjalan ala artis k-pop yang baru keluar dari pintu mobilnya dan disambutt riuh penggemarnya
tanpa pernah berfikir, saat Pak Diman melewati lorong itu kemungkinan besar Pak Diman akan mengalami hal yang sama
Baru beberapa kali ia melangkah ia mulai kehilangan keseimbangannya, namun ian bisa kembali menyeimbangankan tubuhnya, dengan sikap blagunya ia kembali melangkah, tanpa menyadari jika dari arah berlawana Pak Diman Sudah kehilangan keseimbangannya
‘Bbbbbrbrbrbbrbrbbr Pak Diman terjatuh begitu juga dengan embernya dan sebagain isinya membasahi tubuh Ian
__ADS_1
Percis seperti kadal yang barusaja Ian ucapkan ia dengan cepat merubah wujudnya