
Hujan turun membasahi bumi semalaman, curah air yang diam-diam menyelinap menempati hamparan tanah, sebagai salah satu jejak yang ditinggalkan oleh badai malam tadi.
Hari ini adalah hari olimpiadeku, tapi rasanya guyuran hujan semalam juga cukup membuat berat kepalaku.
“sa sudah pagi, kamu yakin akan berangkat sekolah dengan keadaan seperti itu?” ibu bertanya padaku sambil memegah dahiku, akupun merasa bingung memang aku kenapa, kenapa ibu bertanya demikian
“memangnya aku kenapa bu? Aku baik-baik saja” aku balik bertanya pada ibu
“semalaman kamu demam sa, mungkin karena kamu kecapean dengan segala aktivitasmu belakangan ini juga karena hujan semalam” ibu coba menjelaskan apa yang aku alami semalaman
“sungguh bu? Malah aku tidak menyadarinya, tapi sekarang aku baik-baik saja bu, lagipula hari ini aku olimpiade bu jadi aku harus masuk sekolah” aku coba meyakinkan ibu
“yasudah jika itu keputusanmu” ibu hanya menjawab singkat menyetujui perkataanku
Hari ini aku berangkat sekolah seperti biasanya, berjalan menyusuri setiap sisi jalanan yang digenangi oleh air sisa semalam, nyiur melambai dan pepohonan seolah sedang menari menikmati pagi, ditambah burung-burung yang berkicau riang kesana dan kemari.
Damai rasanya sekali lagi menyaksikan pemandangan yang sangat langka, karena mungkin hal seperti ini hanya terjadi sewindu sekali, yah mungkin saja, bagaimana tidak, seringkali banyak aktivitas manusia yang mengusik kedamaian alam, bising dimana-mana, polusi yang merajalela, seolah-olah mereka yang yang berhak atas segalanya, alam hanya menjadi objek yang menunjang kesenangan mereka.
Kalimat yang cukup pedas untuk dilontarkan, tapi memang begitu kenyataannya. Bumi ini seolah sedang dijajah oleh monster pemusnah yang terselubung dalam diri manusia, kadang terlihat rupawan dengan segala kecerdasannya, namun pada akhirnya hanya meninggalkan jejak yang mengerikan.
Setelah menempuh waktu 45 menit aku sampai disekolahku, seperti biasa Gia dan Naya selalu setia menungguku di depan gerbang sekolah, hari ini ramai sekali karena banyak siswa-siswi dari sekolah lain yang datang untuk mengikuti olimpiade baik sebagai peserta atau hanya untuk memberi semangat saja, karena bukan hanya olimpiade bidang study saja tetapi juga lomba PORSENI, atau Pekan Olah Raga dan
Seni antar sekolah.
“Sssaaaaa disini” Gia memanggil namaku sambil melambaikan tangannya, aku menyadari hal itu dan berjalan menuju mereka, tapi naluri keisenganmu mulai bergejolak
“Sssaa, Arsaa disini saaa” Gia kembali memanggilku, namun aku pura-pura tidak melihatnya, pandanganku focus pada Naya dan berjalan melewati Gia untuk menghampiri Naya
“Haii Nay, sudah lama?” aku menyapa Naya,
“engga ko baru saja sampai” Naya menjawab sambil menertawakan apa yang baru saja aku lakukan pada Gia
__ADS_1
“aku tak melihat Gia, kemana dia? Wahhh pasti dia sudah bersiaga mencari mangsa ditengah keramaina seperti ini, ketimbang memberi semangat pada sahabatnya” aku melanjutkan sandiwaraku
“Jiarsaaaaaaa kamu ya, aku dari tadi memanggilmu, kamu saja yang tidak lihat, melewatiku begitu saja, siapa bilang aku lebih memilih mencari mangsa ketimbang menyemangati sahabatku sendiri” dia menghampiriku sambil menggerutu kesal
“HAhhah iyah iyah maaf aku percaya ko, kamu akan lebih mengutamakan aku yakan?” aku melerai kekesalan Gia yang sedari tadi sudah cemberut
“iyalah harus percaya” Gia membela dirinya sendiri
“tapi apakah benar kamu tidak ingin cuci mata, pemandangan hari ini cukup padat loh, rasanya sedikit mustahil jika seorang Gia menyia-nyiakan kesempatan seperti ini” aku kembali menjahilinya
“Hahhah memang bettul apa katamu, tapi itu akan aku lakukan saat kamu masuk kedalam ruangan ya, agar aku bisa lebih focus, kamu tenang saja aku sudah berdoa untukmu, jadi saat kamu masuk kedalam ruangan aku bisa focus pada misiku HAhahah” dengan santai dan percaya diri mudah sekali Gia membuat kalimat yang padat.
“yasudah kalian sama-sama punya misi mari kita lakukan itu, tapi untuk saat ini sambil menunggu Arsa masuk kedalam ruangannya, bagaimana kalau kita mencari tempat untuk menunggunya, ohh tidak tidak, aku sudah tau diamana tempatnya, mari ikuti aku”
Naya menuntun kami menuju suatu ruangan Kanan kiri, disetiap sudut ruangan dan tempat terbuka disekolah sangat banyak orang berlalu lalang, bercengkrama dan melakukan kesibukannya masing-masing.
Hingga kami sampai di area tempat yang ditunjuk Naya, berbeda dari tempat-tempat lain, tempat ini masih cukup lengan, belum terisi banyak orang berlalu lalang.
“Nay kenapa kamu membawa kita ke UKS, memangnya kamu sakit Nay?” tanya Gia keheranan
“tapi kenapa harus UKS?” Gia masih penasaran
“karena sekarang masih pagi UKS ngga mungkin terisi pagi-pagi begini, ditambah ini tempat yang akan jarang dilalui banyak orang, karena posisinya berada di antara ruang guru dan Laboratorium, lagian sebagian besar guru banyak berkumpul di ruang panitia jadi ini adalah pilihan tempat yang aman, bukan begitu Jiarsa” Naya kembali menjelaskan
“iyah Nay, terimakasih ya” aku tersenyum pada Naya
“tidak harus berterimakasih seperti itu sa, kitakan sahabat” Naya balas tersenyum padaku, ditambah Gia yang memeluk kami berdua
“sa kamu kenapa? ko badanmu hangat seperti itu? Kamu sakit?” Gia menanyakan keadaanku setelah menyadari suhu tubuhku pada saat memeluk ku tadi
“tidak ko, aku baik-baik saja hanya semalam aku sempat main hujan, jadi jejaknya belum hilang” aku berusaha mengelak
__ADS_1
“beneran sa? Kamu demam loh sa” Naya kembali merasa khawatir
“aku betul-betul, aku sehat ko, ini buktinya aku baik-baik sajakan” aku berusaha tetap menghibur mereka
“yasudah kalau begitu, mari cepat kita masuk ke UKSnya supaya Arsa bisa rebahan dulu sebentar sekalian kita cari obat untuk meringankan demamnya” Gia mengajak kami agar berjalan lebih cepat
Sebelum sampai ke UKS kami sempat melewati ruang guru, terdengar suara memanggil namaku
“Jiarsa”
“sa ada yang manggil kamu sa”
Gia bergumam, hal itu membuat kami bertiga berbalik badan
“selamat pagi pak” ucap kami bebarengan, ternyata suara yang barusan memanggilku adalah suara Pak Herry
“selamat pagi Naya Gia” beliau menjawab salam kami dengan tersenyum “bagaimana perasaanmu sa” pak Herry melanjtkan bertanya
“perasaan saya baik-baik saja pak” aku tersenyum menjawab pertanyaan Pak Herry
“syukurlah, santai saja sa, kita sudah berusaha menyiapkan bekal sebaik mungkin selama ini, rilex saja tidak usah tegang, anggap saja kamu akan menghadapi ulangan harian dikelas, tidak usah grogi gitu” Pak Herry coba menghibur dan menyemangatiku
“siap pak, saya tidak tegang ko pak” aku menjawab dengan tenang pernyataan pak Herry
“baiklah kalau begitu, tadinya bapak fikir kamu begitu tegang, habis bapak lihat mukamu merah begitu seperti kepiting rebus” pak Herry mencoba mencairkan suasana dengan meledekku
“Arsa tidak tegang ko pak, mukanya merah seperti itu karena sebenarnya dia…….” Aku spontan langsung menggenggam tangan Gia dengan erat khawatir dia akan memberitahu pak Herry jika aku sedang demam
“sebenarnya dia grogi, karena tadi kita lihat daftar lawan-lawannya kebanyak laki-laki pak, jadi dia grogi Hehheh” gia melanjutkan pernyataannya, syukurlah dia mengerti kekhawatiranku
“heheheh iyah pak betul yang dibilang Gia, soalnya siswa di sekolah kitakan jarang yang tertarik kepada matematika seperti Arsa, jadi mungkin juga yang membuat dia merah seperti kepiting rebus karena dia terpukau pak hehheh”
__ADS_1
tambah Naya menyempurnakan sandiwara ini meskipun harus kembali aku yang menjadi objek ledekan mereka, tapi setidaknya itu bisa menutupi kebenaran yang ada.
Aku tidak bermaksud untuk berbohong, hanya saja aku takut jika Pak Herry menjadi khawatir, karena selama sebulan aku bersama Pak Herry, bukan hanya belajar tapi juga Pak Herry banyak membagikan pengalam berharga dalam hidupnya, Beliau memiliki mimpi besar dalam olimpiade ini