Tentang Rindu

Tentang Rindu
All is Well


__ADS_3

“Aagghh.... TOLONG TOLONG!!”


Alex yang mendengar Sabrina berteriak tentu saja tidak akan membiarkan itu terjadi, ia mencoba menyeimbangkan tubuh nya, dengan sedikit sempoyongan Alex berjongkok lalu menarik kedua kaki Sabrina, Sabrina yang masih tersungkur di atas lantai pun tak berdaya saat kedua kaki nya di tarik paksa oleh Alex.


“Lepaskan!! Bajing*an mau apa kamu??”


“HA HA HA HA.... tenang sayang kita kan bersenang-senang di sini!!”


Alex mulai membuka kancing kemeja yang di pakai nya, saat di kancing kedua nya, Sabrina meloloskan dari Alex, ia berdiri mengambil gelas yang masih penuh dengan isi nya itu, ragu-ragu Sabrina ingin melemparkan di kepala Alex.


“Aku harus terbebas dari sini, kalo aku lempar gelas ini dia pasti mati!! Yaa Allah bantu hamba mu ini, tolong datangkan penolong untuk ku!!” doa Sabrina penuh dengan air mata.


Alex pun mulai mendekati Sabrina, dengan panik Sabrina langsung saja melempar air yang berisi minuman alkohol itu ke wajah Alex.


Byyuuurr


“HA HA HA HA... aku suka sekali dengan perempuan yang melawan!!”


Alex langsung saja menarik tangan Sabrina, lalu di hempaskan nya tubuh Sabrina di atas sofa, Sabrina yang terjatuh belum sempat terbangun Alex sudah menindih nya, Sabrina meronta berteriak dan meminta tolong, air mata Sabrina sudah deras membasahi pipi nya ia takut sekali, Sabrina berusaha melepaskan diri, saat Alex menggenggam kedua tangan Sabrina dengan satu tangan nya, dan tangan satu nya berusaha ingin membuka kancing-kancing nya, Sabrina ada kesempatan menendang Alex dengan kaki nya, namun terbaca oleh Alex, tentu saja Alex membetulkan posisi nya, satu kaki nya turun dari sofa untuk mengunci tubuh Sabrina, Alex yang berusaha mendekat kan wajah nya pada Sabrina, tentu saja membuat Sabrina semakin takut, ia menjerit dan terus berontak sambil berteriak meminta tolong, dengan kedua tangan nya yang berusaha ia lepaskan.


“TOLONGG TOLONGG!!”


BRAAAKKKK!!


“BAJING*N!!”


Bastian yang sudah menerobos masuk di privat room itu, langsung saja menarik kerah baju Alex dari belakang dan di layangkan nya pukulan kepada Alex.


BUGH BUGH BUGH


“Sial*n lu, berani sekali lu berbuat asusila haa?!”


Sabrina yang terbebas dari Alex, tentu saja masih menyisahkan ketakutan, ia duduk dengan menekuk kedua kaki nya menangis dengan bergetar, Sabrina menyembunyikan wajah nya dengan menunduk dan terus menangis.


“SABRINAAAA....”


Bastian yang mengetahui Sabrina terpuruk langsung saja merengkuh tubuh nya dan langsung memeluk nya, Alex hanya 3x pukulan sudah tersungkur di lantai karena masih pengaruh minuman hingga tidak bisa melawan saat Bastian memukul nya.


“Brie tenang lah ada aku di sini, kamu akan baik-baik saja!!”

__ADS_1


“Hik... hik... hik... hik... Bas-tian a-ku ta-kut sekali.” Lirih Sabrina dengan sekali sesegukan, tubuh nya masih bergetar dan ketakutan.


“Tenang lah, aku akan menjaga mu dari bajing*n itu!!”


“A-ku takut Bastian di-a mau memperk*sa akuu hik... hik.... hik... hik....!!”


Bastian menarik nafas nya dengan panjang, menenangkan diri nya sendiri agar bisa mengontrol emosi nya, saat ini Sabrina lah yang terpenting!! urusan Alex, Edo dan komplotan nya bisa ia selesaikan nanti.


“Tenang yaa, sudah aman sekarang, All is Well!!” ucap Bastian dengan merengkuh wajah Sabrina dan mencium dahi nya, entah keberanian dari mana Bastian dengan reflek menunjuk kan betapa ia takut sekali jika terjadi sesuatu dengan Sabrina.


Agus dan Dhisa menelpon polisi sesuai instruksi dari Bastian, sedangkan Manda akan menjadi saksi saat melihat Sabrina berjalan dengan Dea cewek Edo yang menjadi komplotan Alex.


“Sabrinaaaa??” Dhisa yang sudah selesai memanggil polisi langsung saja menghampiri Sabrina, Bastian melepaskan rengkuhan nya dari Sabrina dan langsung saja Dhisa memeluk nya erat.


“Brie maafkan gue, gue yang salah udah bawa lu kesini hik.. hik.. hik...!!”


“Dhisa Hih.. hik.. hik.. aku takut sekali!!”


Bastian langsung saja menghampiri Agus yang masih berdiri diam di tengah ruangan itu.


“Gus, lu jaga mereka berdua yaa, gua urus bajing*n itu sebentar!!” pamit Bastian dengan menepuk bahu Agus.


“Thanks Bas, kalo gak ada kamu, entah lah seperti apa nasib Sabrina?!”


“Gua titip ke lu dulu, stay di sini sebelum gue kembali yaa!!”


Agus pun langsung menghampiri Sabrina dan Dhisa, langsung di peluk nya kedua sahabat nya itu.


“Syukurlah Brie, Allah masih sayang sama kamu!! Tenang yaa semua akan di urus oleh Bastian.


"Aku takut sekali Gus." dengan sesegukan Sabrina berbicara.


“Gus, maafkan gue yaa, gue janji gak akan ke tempat ini lagi demi persahabatan kita demi Sabrina juga hik.. hik.. hik...!!” lirih Dhisa merasa bersalah.


“Sudah-sudah Dhis jangan nangis terus, lebih baik carikan air buat Sabrina tubuh nya masih bergetar!!”


Dhisa pun melepaskan pelukan nya dari Sabrina, di lihat nya wajah Sabrina yang masih memerah penuh ketakutan dengan air mata yang membasahi seluruh wajah nya, di usapkan nya air mata Sabrina, di rapikan nya rambut Sabrina yang berantakan, Dhisa mencium pipi Sabrina pertanda sayang dan bersyukur bahwa Sabrina baik-baik saja.


“Gua tinggal sebentar yaa ambil air, lu di sini sama Agus dulu yaa?!”

__ADS_1


*


Beberapa menit kemudian, Bastian datang saat Agus masih merengkuh Sabrina karena masih merasa ketakutan dan badan nya masih tetap bergetar.


“Gus bagaimana keadaan nya??” Bastian yang langsung saja berjongkok di hadapan Sabrina ingin melihat kondisi nya saat ini.


Agus hanya memberi kode kepada Bastian, bahwa Sabrina masih bergetar tubuh nya tapi Sabrina seperti nya tertidur karena kelelahan menangis.


Bastian langsung saja mengambil alih, merengkuh Sabrina, lalu menggendong Sabrina untuk beranjak pergi dari tempat itu.


“Dhis lu cari taxi, kita ke apartemen gue aja yaa lebih dekat dari sini!!”


“Oke Bas, gue cari taxi dulu, ayo Gus temenin gue!!”


***


Bastian sudah merebahkan Sabrina di atas ranjang milik nya, ia pun menarik selimut untuk Sabrina, merapikan rambut Sabrina yang mengganggu di wajah pucat nya, tubuh Sabrina sudah tidak bergetar lagi, selama di dalam taxi Bastian memeluk nya dengan erat, dia tidak peduli dengan pandangan Dhisa maupun Agus. Saat Bastian meminta membawa Sabrina ke Apartemen nya pun, Agus dan Dhisa tidak bisa menolak nya karena mereka tau Bastian yang menolong Sabrina, dan Bastian pasti menjaga nya.


Bastian yang akan beranjak untuk meninggalkan kamar nya, tiba-tiba saja Sabrina memeluk tangan nya dengan erat.


“Jangan pergi aku takutt!!”


Bastian merasakan sakit hati nya mendengar ketakutan Sabrina sampai ke bawa tidur dan mimpi nya itu.


“Gua gak akan biarkan mereka semua bernafas bebas, setelah apa yang di lakukan kepada Sabrina."


“Tenang yaa Brie, kamu aman di sini!!”


Sabrina mulai tenang tidur nya, dan Bastian tidak beranjak dari tempat nya sekarang, karena Sabrina memeluk tangan Bastian dengan erat dan Bastian akhir nya naik ke atas ranjang nya, duduk dan bersandar pada heandboard ranjang untuk menjaga Sabrina.


Dhisa dan Agus sudah tertidur di depan ruang TV, karena Apartemen Bastian hanya ada satu kamar saja.


Hingga sang fajar pun tiba, Bastian yang terlelap dengan tidur nya masih bersandarkan pada headboard ranjang, sedangkan Sabrina masih nyaman memeluk tangan Bastian dengan erat nya, seolah-olah tangan dan tubuh Bastian adalah guling.


*


*


“Sabrinaa??”

__ADS_1


__ADS_2