
Di tempat lain tepat nya di rumah Om Didit, sedikit terjadi percekcok kan antara Om Didit dengan istri nya, Om Didit sendiri adalah Adik kandung dari Mama Sarah, hanya saja istri Om Didit selalu tidak suka dengan keluarga dari suami nya itu.
“Mau sampai kapan Pah kita rawat mereka berdua??”
“Mah, Mbak sarah dan Mas Hari itu saudara kita sendri"
"Mereka banyak membantu kita selama ini saat kita susah dulu”
“Jadi untuk saat ini kita harus membalas budi baik mereka, toh juga cuma merawat si kembar apa salah nya se Mah?”
“Mama jaga rumah jangan keluyuran yaa, Papa ada janji sama klien sekalian jemput Dito di sekolah nya dan jemput si kembar juga.”
“Iyaa Pah hati-hati di jalan."
"Selalu saja bela tuh saudara nyaa huff"
Beberapa saat setelah Om didit meninggal kan rumah, Tante Vina istri dari Om Didit segera bersantai di ruang tengah, dengan memain kan handphone milik nya dan berselancar di dunia maya.
Tante Vina salah satu wanita sosialita, hidup nya selalu mengikuti trend yang ada, berkomunitas dengan ibu-ibu sosialita lain nya, mengikuti arisan, shopping dan menghabis kan uang suami.
Punya anak satu laki-laki seumuran dengan si kembar yaitu 9 tahun, tapi mereka sekolah di tempat berbeda dan jarang berjumpa.
Walaupun Orang tua nya bersaudara, tapi mereka jarang berkumpul bersama, mengingat sibuk nya aktifitas Om Didit sebagai seorang arsitek yang sering keluar kota.
Tin.. Tin..
Mobil Om Didit tiba di depan rumah, si kembar dan Dito pun keluar dari mobil dan beranjak memasuki halaman rumah yang langsung di sambut oleh Tante Vina.
“Dito, papa kamu mana??”
“Papa langsung jalan Mah, sudah ada janji sama teman nya kata nya”
“Ohh... ya udah masuk dulu ganti baju terus makan siang yaa sayang”
“Assallamuallaikum Tante” ucap Zein kepada Tante Vina dan mengulur kan tangan nya ingin bersalim, Zein dan Zee sudah terbiasa terdidik sopan dan santun, selalu mencium tangan saat berhadapan dengan orang yang lebih tua.
“Waallaikum salam, masuk sanaa” dengan sedikit jutek Tante Vina menjawab salam dan cepat-cepat menarik tangan nya.
“Terima kasih Tante”
Tante Vina pun melengos dan berjalan lebih dulu untuk menyusul Dito yang sudah berada di dalam rumah. Sedangkan Zein dan Zee mengikuti dari belakang yang kebetulan mereka di tempat kan di kamar tamu di lantai 1, sedangkan kamar Dito berada di lantai 2.
“Zein, Tante kenapa seh kok galak??” tanya Zee kepada Zein saat mereka akan memasuki kamar nya
“Sssttt... jangan bicara gitu lagi Zee, itu gak sopan!!”
“Apalagi kita sedang menumpang di sini!!”
“Zee gak betah di sini Zein, mau pulang...” rengek Zee kepada Zein.
“Zee, ingat pesan Mama kemaren sebelum Kakak datang atau Mama yang jemput kita harus nurut sama Om Didit dan Tante Vina, ngerti??”
“Iyaa ngerti, kalo Om Didit baik, tapi tante Vina galak ihh Zee sebel?!”
“Ayoo kita ganti baju dulu, setelah itu kita ikut makan siang.”
Setelah beberapa menit Zein dan Zee berada di kamar untuk berganti baju dan membreskan pakaian nya, mereka pun keluar dari kamar dan terlihat di meja makan sudah ada Dito yang duduk makan siang dengan lahap nya.
Zein dan Zee pun menghampiri meja makan dan hendak menyusul Dito yang sedang menikmati makan siang nya itu di temani oleh Tante Vina.
Zein yang akan menarik kursi di meja makan nya di tahan oleh Tante Vina.
“Ehh, siapa yang suruh kalian ikut makan siang di sini??” dengan suara nyaring nya Tante Vina bertanya kepada Zein dan Zee, Zee yang ketakutan bersembunyi di balik tubuh Zein yang sama-sama bertubuh kecil itu.
“Zein dan Zee lapar Tante, apa boleh ikut makan siang??” ucap Zein memohon kepada Tante Vina.
Tante Vina pun tersenyum sinis penuh maksud, melihat Dito makan dengan lahap dan tidak peduli dengan obrolan Mama dan sepupu nya itu.
“Dito sedang makan dan tidak boleh ada yang ganggu!!”
“Kalian boleh makan setelah Dito selesai makan siang nya”
“Dann satu lagi, karena kalian menumpang jadi harus sedikit bekerja biar gak manjah!!”
“Iyaa Tante, Zein akan bekerja semampu Zein” jawab Zein dengan tegas tanpa takut, sedangkan Zee masih bersembunyi di belakang badan Zein.
__ADS_1
“Kalian cuci motor tante, karena hari minggu besok akan tante pakai buat keliling komplek dan senam pagi!!” perintah Tante Vina kepada si kembar
“Mah, sekalian sepeda Dito Mah biar bersih Hahahaa.....” celetuk Dito yang ikut-ikut ingin memerintah sepupu nya itu.
Merasa Zein sok dewasa dan lebih pintar membuat Dito tidak menyukai nya.
“Ohh.... tenang saja Dito, sepeda mu pasti bersih sayang”
“Zein kamu cuci motor tante, dan kamu Zee cuci sepeda Dito!!”
“Sebelum selesai kerjaan, kalian tidak akan dapat makan siang, mengerti!!”
Zein yang mendengar perintah dari Tante nya hanya diam dan menatap tajam, Zein ingin sekali melawan tapi ia selalu ingat nasehat Mama Sarah sebelum pergi, dan Zein tidak mau menambah masalah dengan Tante nya itu.
Akhir nya dengan terpaksa Zein menyetujui perintah dari Tante Vina agar dia dan Zee bisa mendapat kan makan siang.
“Tante, boleh Zein minta agar motor dan sepeda Dito biar Zein semua yang cuci, Zee tidak pernah mencuci sepeda Tante, dia bisa sakit masuk angin karena perut nya kosong belum makan siang?!”
“Terserah kalian, tante terima bersih!!”
“Ayo Dito kita ke runag tengah sambil memantau mereka bekerja”
Zein pun bertekad akan secepat nya menyelesaikan pekerjaan nya agar ia bisa makan siang bersama adek kembar nya Zee.
“Zein, hiks hiks hiks.... Zee kangen Mama, Zee gak suka sama Tante Vina”
“Tante jahat Zein, Zee mau lapor sama Om Didit dan Mama hiks hiks hiks....”
Zein mengerti jika Zee menangis dan mengeluh, sebenar nya Zein juga ingin mengeluh hanya saja ia seorang anak laki-laki harus lebih kuat tidak boleh cengeng dan harus bisa melindungi Zee.
“Zee, tenang jangan menangis yaa...”
“Kamu ambil mainan tembak-tembakan aja di kamar, naanti kita cuci motor sambil main air....”
“Iyaa.. iyaa.. Zee mau Zein, Zee akan bantu Zein cuci motor dan sepeda juga yaa?”
Zee pun berlari menuju kamar untuk mengambil mainan tembakan nya yang bisa di isi dengan air, hadiah dari Jaka beberapa bulan yang lalu.
Zein menuju halaman samping untuk mempersiapkan ember dan sabun, karena motor dan sepeda sudah di siap kan di halaman samping yang biasa nya Om Didit lah yang mencuci atau gak Tante Vina mencuci kan di jasa cuci motor.
“Zein, kita main-main dulu yuk!!”
“Kita main polisi-polisian?!”
“Zee, main sendiri dulu yaa, aku selesaikan kerjaan dulu”
“Sini ku isi kan air biar bisa buat main”
Zein pun mengambil mainan Zee dan membantu nya, terlihat Zein begitu mengalah dan melindungi Zee saat itu, Zein sudah berjanji kepada Mama tidak akan lagi membuat Zee menangis karena kejahilan nya yang suka ngerjain Zee.
“Yee Zee akan tembak semua orang jahat di muka bumi ini!! dor dor dor!!”
Splash... splash... splash....
Zein pun mencucui motor dengan tenang, melihat Zee yang menikmati mainan nya seorang diri membuat hati Zein terenyuh penuh dengan kelegaan, meskipun umur Zein masih 9 tahun tapi pemikiran Zein sudah tidak seperti anak seumuran pada umum nya, Zein lebih dewasa dan pintar.
Dito yang melihat Zee mempunyai mainan dan bersenang-senang di taman pun tidak menyukai nya, di saat Mama Dito sibuk bervidio call dengan teman sosialita nya Dito diam-diam beranjak dari ruang tengah dan menuju tempat Zee bermain.
“Sinii!!”
“Gak mau, ini mainan Zee”
“Tapi ini rumah ku, kamu gak boleh main di sini!!”
“Gak mau, lepasss!!”
“Siniin!!”
Tiba-tiba saja terjadi tarik menarik antara Zee dan Dito yang merebut kan mainan tembak-tembakan itu.
Zee yang merasa milik nya tidak mau memberikan kepada Dito begitu saja, sedangkan Dito berupaya mengambil mainan yang di pegang oleh Zee.
“Siniiii!!”
“Gak mau, Zein tolongin”
__ADS_1
“Dito nakal!!”
“Aku gak takut sama Zein, siniii!!” Dito masih tetap memaksa hingga mainan itu berhasil ia dapat kan.
Zee yang kalah dari tarik-menarik itu jatuh kebelakang dengan berterik karena Dito sedikit mendorong nya untuk merebut mainan nya.
“Achhhh.... sakit hiks hiks hiks Mamahh huaahaahaaa......”
“ZEE....” Zein baru menyadari jika Zee berebut mainan dengan Dito segera berlari untuk menolong Zee.
“Zee, kamu gak papa kan??” Zein membantu Zee untuk berdiri dan melihat keadaan tubuh Zee.
“Zein, hiks hiks hiks... Dito nakal mainan Zee di ambil nyaa huaaaa”
Zein langsung menatap ke arah Dito dengan tajam dan melihat bahwa mainan Zee berada di tangan Dito.
Dito yang di lihat tajam oleh Zein hanya tertawa dan menjulur kan lidah nya
“Weekkk”
“Ini sudah jadi milik ku hahahaaa.....” Dito merasa berkuasa mengingat ia berada di rumah nya dan pasti nya ia akan di lindungi oleh Mama nya.
Zein yang sudah tersulut emosi dengan tingkah Dito dan berani mendorong Zee hingga jatuh pun akhir nya marah.
“Kenapa kamu berani nya dengan perempuan haa??”
“Aku dan Zee adalah sepupu mu sendiri kenapa kamu jahat!!” Zein langsung saja menarik mainan dari tangan Dito dan membalas apa yang sudah di lakukan oleh Dito terhadap Zee.
Dito yang belum seimbang dan memposisikan diri akhir nya terjatuh kebelakang dan terduduk, kebetulan ada genangan air yang seketika membuat baju Dito kotor semua.
“HUAAAA... MAMA HUAAAA... HUAAA....”
“DITO??”
*
*
“Dasar kalian anak nakal yaa dan tidak punya sopan santun, apa orang tua kalian tidak mengajari kalian haa??”
“Apa kalaian mau jadi preman haa?? Berani nya keroyokan memukul Dito di rumah nya sendiri!!”
“Hiks.. hiks... hiks... tante sakittt” lirih Zee menangis saat di bawah oleh Tante Vina dengan di jewer telingan nya.
“Tante jahat, lepasin kami tente!!” Zein pun sudah tidak tahan untuk berteriak.
Si kembar di seret dengan telingan nya di jewer oleh Tante Vina di tangan kiri dan tangan kanan nya.
“Anak nakal berani nya berteriak kepada tante!! Haa??”
“Kami tidak memukul Dito tante”
“DIAM KALIAN!!”
“hiks.. hiks.. hiks.. Zein sakit, tolongin Zee”
“Tante tolong lepasin telingan Zee, Zein siap gantin hukuman Zee”
Zein tidak tega melihat Zee yang menangis dan di seret, Zein yang ingin memberontak pun tidak bisa karena kalah besar dengan tubuh Tante Vina.
Tante Vina sudah berada di depan gudang di rumah bagian belakang dekat dapur dengan membawa Zee dan Zein.
“Kalian Anak nakal Tante hukum di dalam gudang dan tidak akan dapat makan!!”
“Tante tolong lepasin kami tante, kami minta maaf jika salah!!” ucap Zein memohon karena tidak tega dengan Zee yang terus menagis kesakitan”
“Kalian berdua masuk dan akan tante kunci sampai Om kalian datang!!”
“Awas saja kalian mengadu yaa akan tante hukum yang lebih berat!!”
BLAK!!
“Hiks..hiks.. hiks... Zein, Zee mau Mama Zee laparrrr huaaaaa.....”
...***
__ADS_1
...