Tentang Rindu

Tentang Rindu
Segitiga Tanpa Pascal


__ADS_3

Aku tidak tahu ada berapa banyak rahasia yang alam tutupi dari penghuninya, pun tak tahu seberapa banyak kehidupan yang berhasil semesta sembunyikan dari tiap makhluk yang ada.


Yang aku tahu hanya menjalani kehidupan dengan penuh pertanyaan, serayaku mencari sebuah jawaban bahkan sampai pada karang yang tak bersuara.


Malam bersambut fajar yang penuh rasa malu, meniti waktu dari tiap bergulirnya rasa. Penuh dengan rasa curiga dan menerka-nerka, sungguh itu bukan sebuah jawaban dari banyaknya pertanyaan


apa yang sebenarnya aku cari dalam hidup, rasa keingin tahuan yang begitu menggebu hingga kerap menyiksa kalbu.


Malam pertama tanpa Appa, seperti yang sudah-sudah naluriku berubah saat Appa tidak di rumah. Seolah memiliki kepribadian lebih dari ganda


“sa mau kemana?” ibu bertanya saat aku mulai melangkahkan kaki meninggalkan kamar ibu


“mau keteras depan bu sebentar, rasanya diluar masih ramai”


“baiklah tapi jangan terlalu lama diluar cuacanya sedang tidak bagus, kamu dengar? Suara angin dan ombak sampai terdengar keras sekali” ibu kembali mengingatkanku


“baik bu aku tak akan lama, hanya ingin memastikan sumber keramaian ini” aku kembali meyakinkan ibu dan beranjak keluar dari kamar menuju teras depan rumah


Kupandang lingkungan sekitarku, banyak warga yang menyusun gundukan karung berisi pasir di beberapa titik rumahnya seperti sedang membuat bendungan, aku bergumam dalam hati terlena oleh pemandangan gotong royong saling bekerja sama antar ayah dan anak, anak dan ibu, istri dan suami


meskipun tidak sedikit dari orang-orang disini yang sikap dan sifatnya kadang membuatku merasa lebih baik untuk tidak mendekat, tapi lebih banyak pula orang-orang yang masih memiliki kemurnian dan ketulusan dalam hatinya


Entah mengapa hatiku selalu bergetar melihat suatu kebaikan yang sudah jarang orang lakukan, sukmaku selalu tersentuh jika melihat kesederhaan, ketulusan dari orang-orang yang saling menjaga dan menyayangi


pemandangan hangat diantar hembusan angin laut yang dingin hingga membuat aku lupa akan satu hal.


“sa, arsa” terdengar suapa pria paruh baya memanggil namaku, aku sontak terkejut dibuatnya

__ADS_1


“ehhh paman, iyah paman ada apa?” spontan aku menjawab pertanyaan dari paman Moa tetangga rumahku


“walahhhh bisa-bisanya kamu melamun sambil jalan sa, bapak mu ada?” ujar paman Moa


“heheh, iya maaf paman, Appa pergi berlayar tadi pagi paman” aku menjawab pertanyaan paman


“walahhhh cuaca jelek begini ko malah berlayar” paman Moa berucap heran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


“iyah paman, tapi kata ibu Appa bermalam di pulau sebrang paman, tidak berlayar ketengah sana, sekalian ada perlu dengan temannya dipulau sebrang” aku mencoba untuk menjelaskan


“ohhh begitu rupanya, syukurlah jika singgah dipulau sebrang, paman kira bapakmu berlayar ketengah sana” paman Moa mulai mengerti setelah aku jelaskan


“kok ramai sekali ada apa?” sedang mengobrol dengan paman tiba-tiba ibu keluar menghampiri kami


“itu loh bu, tadi pak RT ngasih pengumuman katanya kemungkinan malam ini akan ada hujan lebat, dan sekarang air laut sedang pasang, dikhawatirkan airnya naik sampai kerumah jadi warganya dihimbau untuk membendung rumahnya sebagai antisipasi” ujar paman menjelaskan apa yang sedang dilakukan tetangga pada ibu


Saat kami sedang bercengkrama, satu persatu, sedikit demi sedikit air menetes jatuh dari langit, disertai dengan hembusan angin yang lumayan kencang, membuat ia seolah menari dibawah gelapnya malam, terombang ambing hingga sampai menapak tanah, entah itu akan bertahan atau menghilang begitu saja


“walahhhhh sudah gerimis aja, padahal tadi diumumkannya akan turun tengah malam, kalau begitu saya balik dululah, lupa rumahku belum tak bendung, saya pamit dulu ya ibu, Arsa, jangan lupa rumahnya dibendung juga mumpung belum besar hujannya” paman Moa berpamitan sambil buru-buru meninggalkan kami


“iyah paman, terimakasih informasinya ya” ibuku menjawab dengan sedikit berteriak karena paman Moa sudah berlari kecil meninggalkan kami


“sa kamu masuk gih temani adekmu, ibu mau bendung bagian belakang dulu” ibu memberi perintah padaku, tapi lagi-lagi aku ngeyel, manabisa aku membiarkan ibu membendungnya sendirian, ditambah kalau tiba-tiba adikku bangun bagaimana.


“tidak bu, biar aku saja yang membendungnya, lagipula hanya bagian belakangkan yang rendah? Ibu temani saja adek di dalam, anginnya terlalu kencang suara ombaknya juga terlalu keras khawatirnya dia bangun mencari ibu”


aku menolak permintaan ibu, lagi-lagi karena aku merasa bertanggung jawab pada mereka sudah diberi pilihan enak kadang aku sendiri yang memilih jalan sulit, itu yang terkadang membuat aku sering bertanya-tanya apa yang salah pada diriku.

__ADS_1


“kamu serius sa, karungnya berat loh sa biar ibu saja, kamu tunggu saja di dalam” ibu kembali memimtaku, tak begitu lama terdengar suara adekku merengek dari dalam


“nahh kan ade bangun, sudah ibu masuk saja temani ade, aku bisa ko bu, lagi pula hanya menumpuk karung itu lebih mudah dari pada menghapal rumus segitiga pascal” sambil bercanda aku meyakinkan ibu


“kamu ini ada-ada saja, yasudah kalau begitu hati-hati ya, kalau kesusahan panggil ibu ya, ibu masuk dulu takut adekmu nangis” ibu kemudian meninggalkanku dan masuk kedalam rumah


“siap bu” aku tersenyum tetap meyakinkan ibu, sambil berfikir keras bagaiman cara mengangkat gundukan karung berisi pasir itu, sungguh porsi tubuhku terlalu minimalis, tapi aku harus bisa bertanggung jawab atas ucapanku, selebihnya akan ku fikirkan saat melihat tempatnya langsung


Tanpa berfikir panjang aku berjalan menuju belakang rumah, hujan sedikit demi sedikit berubah menjadi banyak, waktuku tidak akan cukup untuk memikirkan bagaiman cara menyusunnya, akan terlambat karena hujan semakin lebat.


Satu-satunya ide yang muncul difikiranku saat itu adalah segitiga, aku coba membuat bendungannya menyerupai segitiga sama kaki dimana tiap tumpukan karung pasirnya aku urutkan menyerupai anak tangga, dengan begitu aku bisa naik diatasnya lalu menarik karung-karung itu hingga pada bagian yang paling tinggi tanpa harus mengangkat penuh.


‘Gglllgrrrrrrrrr Ccettttarrrr…. Suara gemuruh dan petir bersautan dengan guyuran hujan yang semakin deras, bajuku sudah kuyup oleh air, dan terdengar dengan samar suara tangisan adekku, aku harus segera menyelesaikannya jika tidak ibu akan menjadi lebih khawatir


Tak berlalu berapa lama “saaa, hujannya sangat deras, banyak petir pula, sudah masuk, tak apa jangan dilanjutkan biarkan saja” suara ibu dari pintu belakang memintaku untuk menyudahi pekerjaanku itu


“iyah bu ini sudah selesai ko” segera aku berlari menghampiri ibu


“ya ampun banjir sekali kamu sa, mandi dulu gih pakai air termos saja biar hangat, lalu ganti baju supaya tidak masuk angin, nanti ibu buatkan teh hangat untuk kamu” ibu memintaku untuk segera mandi sambil mengelap-elap badanku yang basah kuyup


“air termos bu, kenapa tidak biarkan aku mandi di atas tungku saja bu hehehe” aku meledek ibu sambil memeras bajuku agar lantai tidak becek saat aku lewati


“kamu ini ada-ada saja sa” ibu tersenyum lalu menengok hasil karyaku dari balik pintu


“saa, ibu baru melihat bendungan yang seperti itu, itu bentuk apa sa?” ibuku Nampak heran melihatnya


“itu bentuk segitiga bu, tapi tanpa pascal” aku menjawab sambil beranjak meninggalkan ibu menuju kamar mandi

__ADS_1


__ADS_2