Tentang Rindu

Tentang Rindu
Hanya Rasa Yang Bisa Memiliki


__ADS_3

Mendengarkan musik favorit nya dengan sesekali ikut bernyanyi dan bergoyang-goyang, sudah 2 bulan lebih Sabrina berada di Surabaya untuk menjalani OJT nya, saat libur bekerja ia memanfaatkan waktu dengan bersih-bersih kamar kost, mencuci pakaian nya, dan terakhir masak makanan kesukaan nya. Pagi ini Sabrina sudah telpon Orang tua nya yang di Malang, ia memberi tahu bahwa ia tidak bisa pulang ke Malang di karenakan banyak cucian baju nya yang menumpuk dan badan nya sedikit capek karena aktifitas yang mulai normal mengakibatkan kerja bersemangat 2x lipat dan akhir nya over load yang ia rasakan. Sabrina dan Dhisa mulai belajar berhemat, baju mulai di cuci sendiri, makan pun tidak pilih-pilih seperti sebelum nya, dan sudah 2 minggu ini, libur Sabrina dan Dhisa terpisah jadi mereka memutuskan tidak pulang dulu sementara, memilih stay di kost saja saat libur dan membersihkan kamar kost mereka.


🎶 Berdansa sore hariku


Sejiwa alam dan duniamu


Melebur sifat kakuku


Rasanya tak cukup waktu


Terlalu cepat berlalu


Soreku nyaman dengan mu


Menarilah...


Menarilah...


Dengan ku....


Genggam tangan coklatku


Berputar putar denganku


Menarilah.....


Menarilah..... 🎶


Lagu yang tenang dan santai dengan genre anak senja menjadi pilihan Sabrina saat itu, lagu yang di nyanyikan oleh four twenty menjadi lagu favorit nya untuk menemani Sabrina pagi itu hingga ia membereskan semua pekerjaan nya, sampai bunyi nyaring notif terdengar.


Agus calling Drrrtttt.... Drrrrttt


“Hallo Assallamuallaikum...”


“Waallaikum salam...”


“Brie kamu ada di kost kan hari ini ??”


“Iya Gus aku gak pulang, ada apa yaa ??”


“Brie boleh minta tolong gak ??”


“Ada apa neh?? Kamu kayak gugup gitu Gus ?”


“Brie kamu bisa pergi ke Apartemen nya Bastian gak?? Dia kemaren kejatuhan meja, tangan nya luka lumayan parah seh berdarah, tapi Bastian gak mau di bawah ke Rumah sakit.”


“Loh kok bisa seh?? Aku kan gak tau Apartemen nya ??”

__ADS_1


“Aku takut dia kenapa napa Brie, kemaren pas aku ke Apartemen nya dia sedikit demam, ku tawarin antar pergi ke praktek gak mau juga!!”


“Kamu kan libur hari ini, coba kamu liatin dan bawaain makanan!! di Apartemen nya gak ada siapa-siapa, takut nya gak ada yang bantu dia buat makan atau cek kondisi nya Brie.”


“Masa aku pergi ke Apartemen nya sendiri Gus??”


“Aku tau kalian gak rukun seperti nya, tapi kasihan Brie dia sendirian!! Aku kirimin alamat Apartemen nya yaa!!”


“Oke deh aku siap-siap dulu Gus.”


“Thanks Brie.”


TUT


“Permisi, selamat pagi Mbak bisa saya di bantu pake master key untuk Apartemen di lantai 8 nomor 8808??” ucap Sabrina kepada reception di depan.


“Maaf, ada yang bisa di bantu Mbak??” tanya staff reception kepada Sabrina.


“Saya tadi dari atas untuk mengecek teman saya, cuma sudah beberapa kali saya ketuk tidak di buka kan pintu nya!!”


“Sudah di hubungi Mbak pemilik Apartemen nya??” tanya staff reception.


“Mbak kalo di telpon bisa ngapain saya ke sini, teman saya semalam demam saya takut terjadi sesuatu sama dia?!”


“Maaf Mbak, kami hanya melakukan prosedur, kami harus menghubungi pihak pemilik atau keluarga dulu, karena ini standard...


Sabrian mulai emosi terhadap staff receptionis itu, karena ia sangat panik beberapa kali pintu Apartemen Bastian di ketuk-ketuk tidak ada jawaban, di telpon pun tidak di angkat, dan Sabrina yakin Bastian ada di dalam.


“Kalo Mbak nya gak mau kasih dan menunggu izin, saya mau bertemu dengan Manager disini dan saya pastikan jika terjadi apa-apa dengan teman saya, managemen Apartemen harus tanggung jawab karena tidak memberi izin untuk membuka pintu Apartemen nya.” Ucap Sabrina dengan marah, entah kenapa emosi Sabrina tidak bisa ter kontrol siang itu, waktu hampir menunjuk kan pukul 11.00 siang dan Bastian belum ada kabar nya.


“Maaf Mbak, bisa di tunggu sebentar kita masih hubungi pihak keluarga nya??” ucap Security Apartemen yang membantu menjelaskan kepada Sabrina.


“Saya yang akan tanggung jawab kalo ada pihak keluarga nya yang tidak terima, apa ada yang saya tanda tangani?? Ini KTP saya, ini KTM saya, apa ada jaminan lain nya Haa??”


"Tolong master key nya, kenapa Apartemen sebesar ini tapi managemen nya saklek gini seh??”


“Apa perlu saya hubungi Manager nya? mana nomor nya biar saya sendiri yang minta izin!!”


Sabrina semakin marah dan emosi karena beberapa staff dan Security tidak ada bertindak sama sekali, dan mereka takut untuk memberikan master key kepada Sabrina.


“Sabar yaa Mbak di tunggu sebentar!!” ucap Security.


“Begini saja, jika kalian tidak percaya ayo salah satu ikut saya untuk bantu buka pintu, kalian bisa jadi bukti bahwa teman saya sakit!! Ngerti gak??”


“Baik baik di tunggu sebentar yaa!!”


Akhir nya dengan berbagai pertimbangan Security dan staff membantu Sabrina menuju Apartemen Bastian.

__ADS_1


Ting....


Setelah keluar dari pintu liff Sabrina langsung berjalan cepat menuju kamar hunian Bastian dan di ikuti oleh staff dan Security.


“Permisi saya coba dulu yaa Mbak!!”


TOK TOK TOK


“Selamat siang, permisi Mas Bastian apa ada di dalam??”


TOK TOK TOK TOK!!


“Bapak kelamaan cepat di buka aja!!” saran Sabrina


“Baik baik Mbak!!” jawab security.


Krek Krek Krek


“Bastian... Bastian?!”


Kreekkkk


Sabrina pun memutuskan membuka satu-satu nya pintu di dalam ruangan itu yang tertutup dan benar saja Bastian ada di dalam dengan kondisi yang lemah.


“BASTIAN!!”


"ASTAGFIRULLAH....."


“BASTIANN BANGUNN!! BASTIANN!!”


“Kalian liat sendiri kan?? Apa saya berbohong haa??”


“Baik-baik Mbak tenang dulu yaa!! kami akan panggilkan Dokter untuk memeriksa keadaan Mas Bastian??”


“Buruan cepattt!!” titah Sabrina dengan marah.


Setelah kepergian staff reception dan Security itu, Sabrina langsung bergegas mendekati Bastian mengecek suhu badan nya, dengan terpaksa dan ragu-ragu ia mengecek dahi Bastian terasa panas, lalu turun ke leher, lengan dan tangan Bastian yang terbalut dengan perban yang terlihat tidak rapi dan masih ada bekas darah nya.


Sabrina pun mencari ke penjuru sudut melihat ada kotak P3K, ia bengambil nya, dengan pelan-pelan memegang tangan Bastian, membuka perlahan perban pada tangan nya dengan sesekali Sabrina melihat ke arah Bastian, tidak ada pergerakan apapun dari Bastian.


Dengan hari-hati dan teliti Sabrina membersihkan luka Bastian dengan revanol, lalu di olesi dengan obat agar luka nya cepat mengering, terakhir tangan Bastian di balut lagi dengan kain perban, kali ini sangat rapi untuk balutan perban nya. Sabrina berfikir pasti Bastian sendiri yang membalut luka nya kemaren karena terlihat berantakan dan asal saja.


Setelah itu, Sabrina bergegas keluar dari kamar Bastian, ia pergi ke dapur kecil milik Bastian berencana ingin mengompres Bastian dengan air hangat agar demam nya turun sebelum Dokter datang.


Ada senyum di hati Bastian, yang diam-diam sudah bangun dari tidur nya dari awal Sabrina membersihkan luka nya, hingga di balut perban yang sangat hati-hati dan rapi, Bastian memperhatikan punggung Sabrina yang sudah keluar dari kamar nya, ia memperhatikan perban hasil karya Sabrina dan tersenyum puas penuh kemenangan.


“Karena tak ada yang lebih tulus dari semua nya, saat perhatian kecil mu diam-diam sudah menyentuh hati ku, sampai detik ini pun gua baru merasakan kehangatan dari sentuhan seorang wanita.” Suara hati Bastian.

__ADS_1


__ADS_2