
Indah sekali, sejumlah elemen kehidupan nampak terjaga disini, udara yang segar, hutan yang teduh dengan kerimbunannya, sungai yang mengalir dengan ceria, gunung-gunung yang menjulang dengan kegagahannya, ombak yang menari dengan keanggunannya, langit biru seakan menunjukan kebahagiaannya padaku, tak lagi sama seperti langit malam itu.
Di dermaga itu, dari sudut pantai terlihat raut wajah anak perempuan yang tengah merenung, aku melihat potretku sendiri dari balik air pantai, ku tersenyum sekaligus terisak karena kebingunan atas keanehan yang ada pada diriku,
“aku tidak ingin berbeda, setidaknya jika memang aku harus berbeda tolong jelaskan alasannya, jangan buat aku bingung, bahkan ragu pada diriku sendiri”
aku merajuk pada semesta, tak bisakah aku hidup sewajarnya saja, aku bingung harus bersikap bagaimana saat alam merajuk padaku, kudengar rintihan langit, tangisan laut, tumbuhan dan binatang yang mendekat bermasud berkeluh kesah padaku, meskipun tak jarang aku kerap dihibur oleh mereka. Aku tak bisa berbicara dengan mereka, tapi kenapa seolah aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan.
“apakah aku benar-benar gila? Setengah mati aku mencoba untuk mengerti terhadap sesamaku, apalagi aku harus memahami mereka semua, aku bisa apa?” kembali ku bertanya pada semesta.
“kamu tidak gila arsa kamu istimewa” terdengar suara lembut yang penuh dengan wibawa, aku tercengang darimana datangnya suara itu, apakah itu suara Appa, tapi aku tak melihat siapa-siapa di sini.
"apakah ada orang? Siapa kamu?” aku bertanya dengan penuh keraguan.
“aku dari tadi disini, apakah kamu tidak menyadarinya?”
perlahan terlihat bayangan yang samar-samar semakin jelas ku pandang, seorang laki-laki mungkin usianya berkisar 2-5 tahun lebih tua dariku, badannya tinggi dan berisi, matanya, hidungnya, aku tak berani untuk menatap lama wajahnya.
“siapa kamu? Kenapa kamu ada disini? Apakah kamu mendengar semua yang aku katakana tadi?”
tanyaku lagi kepada laki-laki itu, dia tersenyum sambil tertawa kecil
“hahHaa mungkin butiran pasirpun menertawakan atas apa yang kamu lakukan tadi hahHa, dengar arsa setiap hidup memiliki kehidupan, dan disetiap kehidupan itu punya misterinya masing-masing, mungkin belum waktunya bagi kamu menyadari semuanya, tapi suatu saat nanti, entah dikehidupan yang mana, kamu akan menyadarinya sendiri, jangan terlalu memikirkan sesuatu yang membebanimu, jalani saja kehidupanmu sebagaimana mestinya, jangan terlalu berusaha mencari jawaban atas semua pertanyaanmu, nanti yang ada kau akan terlihat lebih konyol, menangis terisak-isak, sendirian ditempat seperti ini, berbicara dengan kepiting pantai dan teman-temannya, untung saja tidak ada ingus yang keluar dari hidungmu, hahHHAaa”
puas sekali dia menertawakan ku, tapi jawabannya mengingatkan ku pada Appa, berjuta pertanyaan terlintas difikiranku, darimana dia muncul, sejak kapan dia ada disini, kenapa dia seolah begitu mengenalku, dan apakah penampilanku sekonyol seperti yang dia katakana barusan, akantetapi aku takut untuk bertanya, aku takut melihat wajahnya, tapi aku tidak akan menemukan jawaban jika aku terus-menerus memelihara rasa takutku ini, kucoba mengumpulkan keberanianku, ku angkat kepalaku, bersiap melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu, tapi aku terlambat.
Dia terlanjur pergi berbalik badan membelakangiku dengan meninggalkan jejak diatas pasir pantai,
“tunggu aku belum selesai bertanya, setidaknya kamu harus memberitahuku siapa namamu?”
aku berteriak berupaya menghentikan langkahnya, dia tetap berlalu dengan langkahnya
“belum waktunya, tapi yang jelas aku tau namamu, jiarsa”
dia menjawab pertanyaanku, selangkah dua langkah “jiarsa” dia kembali menyebut namaku “arsa” dilangkah berikutnya dia kembali menyebut namaku dengan tawanya,
“arsa, saa, jiarsa”
aku terkejut, rupanya ibu sedang menepuk-nepuk tubuhku
__ADS_1
“ayo bangun sudah pagi”
tambahnya lagi saat aku mulai membuka mata.
“ahhh ibu bukankah ini masih malam bu? Aku belum menyelesaikan mimpiku bu”
aku menarik selimut dan kembali memejamkan mataku,
“sudah pagi bangun nanti kamu kesiangan berangkat sekolah”
ibu meninggalkan ku dengan membuka jendela dan pintu kamarku, memberi ijin pada mentari pagi untuk menerobos dan menganggu tidurku, yahh,, mungkin aku harus bangun dan mandi, aku tidak boleh terbuai oleh sebuah mimpi.
Selesai mandi dan beres-beres aku segera bergegas “bu, aku berangkat, Appa kemana?” sambil mengikat sepatuku,
“Appa sudah berangkat ke laut sejak subuh tadi” ibuku menyauti pertanyaanku,
“oke baiklah, ali masih tidur?”
lanjut ku bertanya lagi
“iyah, dia bangun dari subuh dan tadi tidur lagi” ibuku mejawabku lagi.
Dalam doaku aku selalu memohon ampun pada Tuhan, aku tidak bermaksud menganggap remeh ibuku, tapi aku juga tidak mengerti kenapa aku merasakan hal seperti itu, anggap saja itu perwujudun kasih sayangku pada ibu, yang tidak ingin menambah beban fikirannya dengan semua permasalahanku, ibu cukup lelah mengurus kami, tak seharusnya aku menambah bebannya, semoga Tuhan mengampuniku dan semoga ibu mengerti.
Tapi selama ini kehidupan kami baik-baik saja, hubunganku dengan ibu juga cukup baik, karena kedekatanku dengan Appa hanya kami yang tau, jadi semuanya terlihat normal, aku dekat dengan keduanya.
“kalau begitu aku berangkat dulu ya bu dan sepertinya akan pulang telat karena ada
bimbingan khusus untuk olimpiade”
aku berpamitan pada ibu
“baiklah hati-hati dijalan”
ibu mengantarku sampai pintu.
Aku memulai hari dengan sambutan mentari yang cukup terik hari ini, menyusuri jalanan desa yang bergelombang, menikmati setiap hembus angin yang menabrak wajahku, sambil sesekali mengingat perkataan laki-laki itu agar menjalani kehidupan sebagaimana mestinya tanpa harus pusing memikirkan apa yang aku bingungkan selama ini.
“selamat pagi sa”
__ADS_1
suara Naya da Gia yang sudah menungguku di gerbang sekolah
“pagi perempuanku” membalas sapaan mereka.
Naya dan Gia adalah teman baikku. Naya gadis lugu, baik hati dan memiliki paras yang anggun, diantara kami bertiga Nayalah yang memiliki sikap yang begitu sabar dalam menghadapi sikap dan sifat sahabat-sahabatnya, Sedangkan Gia adalah sahabat yang penuh dengan kelabilan, namun kesetiaanya pada sahabat tidak diragukan lagi, baik hati dan diantara mereka, dia yang
paling sering kena bully olehku.
“sa hari ini akan gimana?”
Tanya Gia kepadaku, sambil kita tetap melangkah menyusuri gerbang sekolah
menuju kelas,
“hari ini aku mulai bimbingan khusus untuk olimpiade, sepertinya tidak full belajar dikelas karena harus mengikuti jadwal pak Herry mengajar, minggu lalu aku diberitahu jika beliau mengajar di kelas 9, mungkin aku akan diminta mengikuti beliau”,
“baiklah kalau begitu semangat sasa, janlupa salam untuk kakak di kelas B”
tambah Gia menyemangatiku,
“kakak di kelas B? siapa? Baru lagi?”
Tanya Naya kebingungan,
“aku belum tau sih, baru liat 2 kali, tapi kayanya manis heheh”
jawab Gia dengan percaya dirinya,
“ya Tuhan kamu ini gi” Naya menepuk dahinya “hari ini kita ada latihan excul kan?
Kamu bisa hadir sa? Kalo kamu ngga ada aku gak jamin latihan bisa berjalan lancar, yang lain pada dateng juga uda bersyukur banget” tanya Naya dengan penuh kedilemaan karena mengkhawatirkan latihan tapi tidak ingin konsentrasiku terganggu.
“jangan cemas gitu Nay, aku usahain datang, kalopun telat tolong kondisikan dulu tapi aku pasti datang, aku usahakan agar bimbingan khususku selesai bersamaan dengan jam sekolah, senyum Naya senyum, tidak ada yang perlu dikhawatirkan”
aku beusaha menghibur dia.
Kami menyusuri lorong sekolah, bagaikan lorong kehidupan dimana hanya ada satu cahaya yang menerangi setiap ujungnya, sedangkan untuk tujuan kami sendiri yang menentukan, setiap dinding pembatas serta tiang penyanggah adalah bab yang harus kita isi hingga terciptanya sebuah ruang yang
penuh dengan kisah, dan setiap tulisan yang tercatat dipapan tulis bagaikan kehidupan yang hanya akan kita mengerti jika kita melaluinya.
__ADS_1