
Flashback On
Bastian menatap Sabrina saat tertidur di Apartemen nya, Sabrina terlihat ketakutan dan sesekali tidur nya tidak nyenyak, saat Bastian ingin melepaskan pelukan di tangan nya, dengan erat Sabrina semakin memeluk nya, pertanda bahwa Sabrina masih belum seutuh nya pulas dalam tidur, Bastian tidak mau kejadian yang hampir melecehkan Sabrina menjadi trauma sendiri untuk nya.
Bastian mengambil handphone nya di kantong celana nya dan mengirim beberapa pesan kepada Pak Arman.
“Om, aku minta kekuasaan di hotel Surabaya dan beberapa bodyguard om untuk membantu aku”
“Aku butuh secepat nya, ada seseorang yang harus aku tolong”
“Aku tidak punya uang di sini, setidak nya kirimkan bodyguard untuk menangkap seseorang, aku ingin mereka semua di cebloskan ke dalam penjara”
“Pliss om bantu aku, untuk kali ini.”
Bastian pun menunggu jawaban Pak Arman hingga pagi tidak ada notif dari handphone nya, Bastian yang takut dengan kondisi Sabrina saat itu, akhir nya memutuskan untuk mengantar Sabrina pulang ke Malang berharap Sabrina tidak ada gangguan di perjalanan dan selamat sampai di rumah.
Flashback Off
Saat Bastian menikmati makan malam yang di siapkan oleh Mama Sarah, handphone Bastian berbunyi, dan saat Bastian mengecek siapa yang telpon tampak nama Om Arman muncul di layar handphone nya, merasa ini adalah hal yang sangat penting mengingat keselamatan Sabrina dan teman-teman nya, Bastian langsung saja izin untuk mengangkat nya.
Bastian hanya takut jika Edo sang bartender di hotel nya itu merajalela dan sewaktu-waktu bisa saja kembali mencelakahi Sabrina, Dhisa ataupun staff cewek lain nya. Edo dan komplotan preman itu berbahaya dan Bastian sulit untuk mencari info atau pun menyelidiki nya karena acses nya di tutup semua oleh Pak arman.
“Hallo”
“Apa kepentingan mu sampai meminta kekuasaan Bastian”
“Nenek mu jelas tidak akan mengizin kan jika ini menyangkut hukum”
“Kata kan apa yang terjadi”
Bastian hanya mendengarkan alasan Pak Arman tidak menyetujui nya, ia sudah mulai emosi hanya saja Bastian ingat masih di rumah Sabrina dan ia berusaha menahan diri agar tidak marah dan berteriak, mengingat Mama Sabrina orang yang baik dan keluarga nya menerima dengan baik.
“Om dengarkan, aku hanya ingin melindungi orang yang aku sayang, dia dalam bahaya karena dalam incaran bos preman”
“Ada seorang staff yang berkomplot dan aku butuh bukti untuk mngeluarkan dia dari hotel”
“Untuk itu aku butuh kekuasaan untuk pegang kendali, setidak nya aku butuh kekuasaan untuk memberantas mafia di hotel”
“Om sudah menutup semua acses ku kan, pliss tolong untuk saat ini aku memohon.”
Bastian yang dari dulu di kenal dingin dan tidak peduli dengan siapapun entah mengapa saat ini dia merendah kan sedikit diri nya untuk memohon kepada Pak Arman, karena Bastian tau jaringan dan komplotan preman itu besar di Surabaya, bahkan saat Bastian taruhan balapan liar dulu, salah satu komplotan mereka lah yang membuat tipu daya hingga Bastian harus menyerahkan motor sport terakhir nya dan membayar kekalahan nya.
“Om tidak bisa membantu Bastian, jangan ikut campur urusan preman itu, Nenek mu tidak mau kamu kenapa-kenapa”
“Bekerja lah dengan baik, dan tunjukkan keseriusan mu itu”
“Jangan mengganggu preman, jika masalah nya sepele”
__ADS_1
Bastian di buat geram dan emosi nya sudah tidak terkendali lagi, mendengar ucapan Pak Arman yang seperti tidak menyetujui permintaan nya, di tambah lagi Nenek nya seperti tidak peduli lagi kepada nya.
“Ok, jika permintaan ku kali ini di tolak jangan salahkan aku jika berbuat sesuatu di luar jangkauan kalian”
“Bahkan Nenek ku sendiri sudah tidak peduli lagi dengan keselamatan ku bukan??”
“Aku ingin melindungi orang-orang yang peduli dengan ku, dan perempuan yang ku sayang”
“Jika Nenek tidak menyetujui nya, oke aku akan keluar dari keluarga Wijaya dan coret saja nama ku”
“Kalo Om dan Nenek tidak mau membantu ku untuk melindungi orang yang aku sayang, jangan salahkan jika aku meningglkan Nenek, orang yang aku sayang selama ini!!”
Bastian langsung saja menutup telpon nya dan sedikit emosi, ia kemudian berbalik dan mendapati Sabrina yang diam mematung di depan pintu.
“Heii, ngapain melamun di sini, kangen ya?”
“Idih siapa yang kangen, Mama suruh lanjutin tuh makan nya”
“Hehehe... sorry tadi angkat telpon dari Om”
“Dari Om kok pake sayang-sayangan segala!!” Sabrina pun berbalik masuk kedalam sambil menggerutu.
“Apakah perempuan berisik ku ini cemburu hmm?”
“Bastian jangan pegang-pegang masih ada Mama!!” Sabrina melepaskan rangkulan tangan dari bahu nya.
“Sejak kapan laki-laki kutub yang dingin ini mulai bisa merayu yaa”
“Sejak hari di mana ada seorang gadis membuatkan bubur ayam kepada ku, mungkin ada doa-doa mujarab nya hahaha....”
“Udah sana lanjutin makan malam nya, entar Mama marah loh”
“Yaa udah ayoo temenin yaa?”
...***...
Lantunan merdu suara adzan subuh menggema seakan memenuhi ruang udara memecah sunyi berselang seling dengan sahutan suara ayam berkokok.
Asholatu khairum minannaum
Asholatu kharum minannaum
Hayaa ‘alash sholaah
Hayya ‘alal falaah.....
Zein pun yang terdidik disiplin dan berprinsip di banding saudara kembar dan Kakak nya langsung saja terbangun mendengar suara azdan subuh itu, ia terbiasa sholat subuh tepat waktu, biasa nya Zein sering ikut ke Masjid berjama’ah bila Ayah berada di rumah.
__ADS_1
Zein turun dari tangga berniat ingin mengambil wudhu dan sholat di ruangan sholat lantai bawah, setelah melakukan ritual nya saat Zein ingin ke ruang sholat tampak Bastian tertidur lelap di sofa ruang tamu, Zein pun bergegas mendekati Bastian, tangan kecil itu memegang bahu yang bidang dan keras mencoba menggoyang-goyangkan nya agar pemilik bahu terbangun.
“Bangun”
“Bangun”
“Kak bangun!!”
“Emm... ini jam berapa boy kamu bangunin aku”
“Ini sudah subuh, laki-laki dewasa harus menjalankan sholat subuh itu adalah kewajiban!!” ucap Zein yang seperti orang dewasa itu.
Seketika Bastian merasakan dejavu, ucapan Zein dan cara membangun kan nya mengingatkan ia saat masih berada di Asrama dulu, pertama kali nya ia mengikuti pesantren di asrama pernah di bangun kan oleh Uztad untuk melaksanakan sholat subuh, dan ucapan Zein dan kata-kata nya sangat mirip dengan beliau waktu itu.
Bastian pun bangun tersenyum melihat penampilan Zein yang sudah rapi dengan sarung nya menunggu Bastian bangkit, ia pun berdiri mengacak acak rambut Zein dengan gemas nya. Zein seperti replika diri nya waktu masih kecil dulu disiplin, mandiri, cuek dan dingin, ia hanya akan ramah dan tersenyum kepada orang yang di sayangi nya dan orang-orang yang di anggap nya baik. Namun kejadian yang tidak di harapkan itu merubah semua sifat Bastian hingga saat ini, entah sudah berapa lama Bastian meninggalkan kebaikan nya dan kewajiban nya itu.
Zein duduk bersila di mini mushollah di dalam rumah nya menunggu Bastian untuk menyelesaikan ritual nya, Bastian pun datang menghampiri Zein, sebelum Bastian bertanya Zein terlebih dahulu berkata.
“Itu sarung dan baju Ayah Kakak pakai saja untuk sholat!!”
“Anak yang smart” Bastian pun mengambil sarung dan baju koko milik Ayah dan bergegas untuk memakai nya.
Bastian sudah rapi dan terlihat berbeda, baju koko milik Ayah sedikit kekecilan mengingat postur tubuh Bastian yang tinggi tetapi tidak menghilangkan ketampanan nya, justru baju koko yang di pakai Bastian tampak slim dan seperti baju yang press body, Bastian masuk ke dalam Mushollah dan Zein pun bangun dari bersila nya berdiri dan membenahi sajadah nya, memposisikan diri nya sebagai Imam, Bastian pun heran dan langsung saja menghampiri Zein di posisi Imam.
“Heii anak kecil mundur, biar Kakak yang jadi Imam nya!!” titah Bastian sambil menarik lengan Zein dan menyuruh nya mundur sebagi makmum.
“Bagus deh, kirain semua laki-laki dewasa gak ada yang bisa jadi Imam” gumam Zein yang masih terdengar oleh Bastian.
Bastian pun masih bingung dengan ucapan Zein tapi tidak ia hiraukan dan ia menyuruh Zein beriqomah.
“Ayo boy iqomah dulu”
Zein pun mengikuti perintah Bastian untuk iqomah, karena iqomah sendiri jika di laksanan di rumah hukum nya sunnah, Zein biasa nya beriqomah jika saat mengaji sore saat akan melaksanakan sholat ashar berjamaah di Masjid. Bastian saat di asrama sudah terbiasa sholat 5 waktu nya berjama’ah, ia pun tidak pernah melupakan lafalan bacaan sholat dan surat Al qur’an yang pernah di pelajari nya.
Zein satu langkah kedepan dan memposisikan untuk iqomah dengan menutup kedua telingan nya dengan jari
Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Asyhadu allaa illalha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah....
“Suara siapa yaa iqomah?” Mama yang sudah mengambil air wudhu dan akan melaksanakan sholat sendiri di dalam kamar karena tidak ada Ayah langsung saja keluar kamar karena mendengar ada yang iqomah, meskipun suara nya kecil tapi masih terdengar oleh Mama.
"Subhanallah.. "
...***
__ADS_1
...