Tentang Rindu

Tentang Rindu
Awal Sebuah Kisah


__ADS_3

Malam ini langit gelap begitu saja tak ada satupun cahaya yang dapat terlihat di atas sana, padahal semesta tau, selalu ada bintang bertaburan yang ingin terus dipandang dari kolong langit


ini.


“sudah cukup bercandanya mari makan dulu ibu sudah siapkan makanan” ibu datang mengakhiri pertandinganku dengan Appa, “baik bu” jawabku menyetujui ajakan ibu, kami bergegas menghampiri hidangan yang sudah ibu sediakan,


tak ada yang special pada menu yang ibu


buatkan, tapi sudah lebih dari cukup untuk disyukuri sebagai nikmat yang telah Tuhan beri.


“sa selesaikan makannya, setelah itu Appa ingin berbicara” Appa mengakhiri makan malamnya dan beranjak menuju teras depan rumah seperti biasa untuk menyalakan sebatang teman hidupnya.


“baik ppa, Appa ingat cukup ¼ saja yang menjadi abu” aku menjawab dan kembali


mengingatkan Appa, beliau hanya membalasnya dengan senyuman meragukan,


sejujurnya aku bukan perempuan yang anti rokok, karena itu sudah menjadi bagian dari hidup Appa, aku mengerti akan sangat sulit jika memintanya segera berhenti begitu saja, sesekali aku mengingatkan Appa agar tidak terlalu berlebihan.


Selesai makan aku membantu ibu membereskan dan mencuci piringnya “bu piringnya sudah dicuci, aku ke Appa dulu ya”, ibu menganggut sambil menidurkan adekku.


Malam ini hujan turun begitu saja berjatuhan tanpa sempat berfikir akan kemana ia bermuara, tanpa sempat bertanya akan kemana ia mengalir, tanpa sempat peduli jika ia harus hilang dengan sendirinya.

__ADS_1


Kembali kutatap langit gelap malam ini “tak apa langit ungkapkan saja jika memang sudah tak mampu untuk dibendung, aku mengerti, aku memahamimu, tak ada salahnya bersedih luapkan saja jika kamu lelah, tapi maaf aku tak mampu untuk memelukmu” gumamku kembali


bercengkrama dengan alam dan semesta, kebiasaan aneh yang selalu menjadi bahan ledekan Appa.


“sa duduk sini” suara Appa memecah imajinasiku. “iyah Appa, ada apa?”,”Appa hanya ingin ngobrol saja, sudah beberapa minggu inikan Appa pulang saat kamu sudah tidur” aku berjalan menghampiri Appa dan duduk disebelahnya


“saaa, sudah cukup lama Appa perhatikan kamu jadi jarang bersosialisasi dengan orang-orang sekitar sini, kenapa? terakhir kali Appa lihat kamu bisa akrab dengan mereka sebelum kamu masuk SLTP, jangan hanya gara-gara sudah memiliki lingkungan baru kamu jadi meninggalkan orang-orang disekelilingmu, ini sudah cukup lama sa, Appa sering kali mengingatkanmu dengan


candaan tapi kali ini Appa coba berbicara serius denganmu” apa menjatuhkan pertanyaan cukup serius padaku


“Appa, aku tidak bermaksud menjaga jarak dengan siapapun, aku hanya semakin sesak terus mengalah dengan bagaimana cara mereka bersikap, bagaimana mereka berbicara dan bagaimana mereka memperlakukan orang lain, semakin aku mencoba masuk kedalam semakin aku merasa asing, semakin pula aku merasa berbeda dari yang lain Appa, aku bingung harus bersikap bagaimana, ditambah aku semakin tak tertarik saat mengetahui bagaimana mereka menilai keluarga kita, oleh karena itu aku lebih senang bercengkrama dengan alam dan semesta, maaf Appa jika aku salah” aku menunduk dengan sejuta kebingungan terhadap diriku namun lagi-lagi


Appa hanya tersenyum.


”Appa aku boleh bertanya?”, “katakana” Appa menyahutiku,


“Appa, apakah keadaan kita selama ini itu hanya rekayasa Appa, apakah sebenarnya Appa itu konglomerat yang pura-pura menjadi miskin atau sebenarnya itu Appa memiliki warisan dari kakek yang tidak akan habis 7 turunan, coba katakana dengan jujur Appa?” aku menjatuhi pertanyaan bertubi-tubi pada Appa, dan tahukah, Appa hanya tertawa sambil berucap “sa apakah kamu sedang bermimpi? Kenapa kamu bertanya pertanyaan konyol seperti itu?” Appa bertanya sambil tak menghentikan tanwanya.


”lantas jika tidak demikian kenapa ada orang yang mencemooh kita, emang apa hebatnya Appa, apa yg Appa punya hingga mereka merasa iri dan tidak suka pada kita? Kembali kuhujani Appa dengan pertanyaan,


“sa dengar Appa, hak mereka untuk menilai bagaimana kita, tugas kita adalah untuk berbuat baik dan tidak menyakiti siapapun, kita tidak akan mampu jika harus membuat semua orang suka terhadap kita, tapi yang harus kamu pastikan adalah omongan buruk

__ADS_1


tentang kamu jangan coba kamu lakukan, biarkan itu hanya menjadi sebuah komentar dan bukan fakta, paham maksud Appa? dan jika kamu bertanya apa yang Appa miliki, Appa cukup hebat memiliki kalian, terumata kamu putri Appa” beliau menjawab sekaligus berusaha membuatku tenang.


“kamu paham betul bagaimana keluargamu sa, bagaimana ibu dan adikmu, Appa harap mulai saat ini dan untuk nanti kedepannya kamu akan jauh lebih bijaksana dalam bersikap, lebih dewasa dalam mengambil keputusan, karena suatu hari nanti akan ada saatnya kamu yang harus lebih bersabar, kamu yang harus lebih dewasa dari pada saudara-sudaramu yang lain bahkan


ibumu sendiri, bahkan jika boleh Appa mengatakannya, Appa jauh lebih mempercayai kedewasaanmu dari pada ibumu karena kamu putri Appa”


Appa menambahkan pernyataannya


sambil melabuhkan belaiannya dikepalaku, aku terdiam sambil tetap menatap langit dan


memikirkan pesan Appa yang baru saja disampaikan.


Seringkali aku berfikir aku ini siapa? Seorang anak perempuan yang baru menduduki bangku kelas 2 bangku SLTP sudah harus berfikir sejauh itu, sudah harus bersikap sedewasa itu dengan menjadi asisten Appa sebagai pemimpin keluarga kecil dan keluarga besarnya, ragaku mungkin


akan baik-baik saja, coba tengok hati, perasaan dan bagaimana mentalku, aku ini apa? Kenapa aku selalu merasa jika aku berbeda, dan hanya Appa yang mengerti aku, hanya Appa yang dapat membuat aku terbuka dan jujur terhadap diriku, ribuan kali aku mengeluh tentang diriku, kadang aku merasa seperti anak-anak sewajarnya,tapi tak jarang aku merasa jika aku seseorang yang


harus bertanggung jawab atas banyak orang, ibu dari apa yang ada didekatku termasuk alam, seolah pundakku terbebani atas tanggung jawab yang tidak aku mengerti, tapi lagi dan lagi Appa hanya menjawab “karena kamu putri Appa”.


“Appa aku lolos seleksi olimpiade tingkat daerah, dari sains dan matematika aku memilih matematika” aku berbicara mengalihkan pembicaraan dengan Appa “wawahhh hebat putri Appa, jika begitu belajarlah lebih giat lagi, kapan waktunya?” Appa balik bertanya “2 minggu lagi pa,


mulai besok bimbingan khususnya jadi kemungkinan akan selalu pulang terlambat” aku menjawab sekaligus meminta ijin “oke kalau begitu sekarang istirahatlah sudah malam” Appa menuntunku masuk kedalam dan mengarahkanku untuk tidur.

__ADS_1


Malam ini waktu berlalu begitu saja dengan raga dan rasa yang ada bersamaku, walau aku tak pernah tau apa, siapa, kenapa dan bagaimana diriku, mungkinkah aku manunggal dari kehidupan yang berbeda? Imajinasiku melayang menembus awan gelap, gemuruh ombak yang begitu kencang membawaku pada hujan malam itu.


__ADS_2