
Setibanya kami disanggar, aku mendengar Liu dan Lan sedang menceritakan peristiwa apa yang baru mereka alami
“dan lalu setelah itu, kepala sekolah blagu itu terdiam melongo dibuatnya, pokoknya aksi ka Arsa itu the best deh, kalo aku sih belum berani kaya gitu, ya walaupun kenyataannya kepala sekolah kita itu rada
blagu”
sepenggal deskripsi yang sempat aku dengar dari Liu
“iyah, pokoknya kita ngga boleh sia-siain kesempatan ini, ka Arsa berbuat seperti itu karena memikirkan masa depan excul kita kedepannya, memikirkan generasi dibawahnya, kita juga harus bisa bersikap
seperti itu”
tambah Lan menyemangati dirinya sendiri dan juga kawan-kawannya
“wahhhh sedang asikk ngomongin apa ini?”
Ibu Ning bertanya menghentikan obrolan mereka
“heheh engga bu” anak-anak menjawab kompak, dan bersikap salah tingkah
Kembali kami dikumpulkan oleh Ibu Ning, memang anggota excul kami tidak banyak bahkan tidak mencapai 100 orang, tapi menurut pandanganku, excul itu dibentuk untuk menyalurkan bakat dan minat siswa dalam mengisi waktu luangnya kepada hal-hal yang lebih positif.
Entah itu terisi banyak anggota atau tidak, selagi masih ada yang meminati sudah menjadi kewajiban sekolah untuk memperlakukan sama dan rata, sekalipun memang ada saatnya dimana sekolah harus mendahulukan mana yang menjadi prioritas dan mana yang tidak, tapi dalam waktu dan keadaan yang normal kenapa tidak dicoba untuk memberi kesempatan.
Itu hanya sebuah opiniku saja, terlepas itu benar atau tidak setidaknya aku telah berupaya untuk mengusahakan sesuatu yang baik.
Tak lama setelah kami berkumpul, Ibu ning kembali memberi arahan kepada kami, memberi motivasi serta sedikit menceritakan banyak kisah.
“anak-anak mungkin sebagian dari kalian sudah mendengar ceritanya dari Liu dan Lan, memang betul seperti itu kenyataannya, dan sebenarnya dari 2 tahun lalu pihak sekolah mengusulkan agar excul kita dibubarkan, dengan alasan sepi peminat dan kurang mengasah kreativitas siswa serta jarang membuat siswa belajar mengukir prestasi, tapi ibu tetap berupaya agar hal itu tidak terjadi, sampai ibu bertemu dengan Arsa dan teman-temannya, dari semua angkatan, angkatan Arsa adalah angkatan pertama yang jumlahnya bisa melebihi 10 orang, dan angkatan pertama yang bisa merekrut banyak siswa, hingga pada akhirnya kita bisa bertemu dan berkumpul seperti ini, jadi ibu harap kalian dan kita semua tidak menyia-
__ADS_1
nyiakan kesempatan yang ada setuju?”
“setuju bu” kami menjawab kompak
Tak sampai 30 menit Ibu Ning mengakhiri pertemuan kali ini, banyak sekali pelajaran yang kami terima dan bisa kami aplikasikan dalam kehidupan yang sebenarnya apabila telah sharing dengan Ibu Ning, Ibu Ning tidak memberikan batasan pada kami, beliau memperlakukan kami layaknya seperti anak sendiri
itu yang membuat beberapa diantara kami selalu bercerita kepada Ibu Ning sekalipun untuk masalah pribadi, Ibu Ning memang seperti orangtua kedua bagi kami
Btw, excul yang aku ikuti itu excul yang jarang terdengar orang, bukan excul besar apalagi popular, tapi dikota ku cukup banyak komunitasnya, berawal dari kegiatan komunitas itu bersosialisasi ke sekolah-sekolah yang ada di kotaku,
jadi ada beberapa sekolah yang ada disini menjadikannya sebagai extra culiculler termasuk sekolahku salah satunya.
Excul yang aku ikuti itu Pecinta Alam, bukan yang sering naik-naik kepuncak gunung atau berenang-renang ketepian, melainkan Pecinta Alam ala anak SLTP dimana kita dikenalkan cara bagaimana untuk menjaga dan mencintai alam, serta bertahan hidup dan berteman dengan alam
konteks bertahan hidup disini lebih kepada apa yang harus kita lakukan apabila sedang terjadi bencana dan apa yang harus kita perbuat setelah bencana itu terjadi.
Tapi jika kita benar-benar mengaplikannya dalam hidup bukan tidak mungkin jika alam bersedia untuk bersahabat baik dengan kita.
Hari ini cukup panjang bagiku dengan segala drama yang ada didalamnya, kadang setelah melakukan sesuatu aku selalu berfikir apakah sikap ku berlebihan ataukah aku terburu-buru mengambil keputusan
cukup membuat lelah tubuh yang tanpa aku dasari beberapa waktu belakangan telah aku abaikan
“Ssa nih minum dulu”
Naya membawa tiga botol minuman serta Gia yang membawa sekantong cemilan menyusulku ke saung ditengah empang belakang sekolah kami, jika sedang mumet aku selalu melarikan diri kesini.
“terimakasih Nay Gi” aku menjawab tawaran Naya dan Gia
“lelah ya? Semangat ya Ssa kita akan slalu dukung kamu” ucap Gia padaku
__ADS_1
“maaf aku tidak sempat memberi tahu kalian terlebih dahulu” aku murung menyesali perbuatanku karena terbawa emosi aku lupa untuk mengatakan pada Naya dan Gia sebelumnya
“ngga apa-apa Ssa, kita paham ko, kita cuman punya waktu satu minggu untuk memperjelas semuanya tidak salah jika kamu langsung segera bertindak, lagipula kalaupun kamu berdiskusi dengan kita dulu sebelumnya belum tentu kami bisa memberi masukan, pada akhirnya akan kamu juga yang bertindak, jadi jangan merasa bersalah seperti itu justru kami yang harusnya berterima kasih” Naya mencoba
menenangkanku
“terimakasih jika kalian memahami” aku tersenyum pada dua sahabatku
Kita lesehan didalam saung sambil menikmati cemilan yang Gia bawa, bercengkrama dengan sesekali meledek Gia atas misinya untuk mencari mangsa, bercanda dengan mereka adalah obat terbaik untuk melepaskan penat yang ada
“Astaga aku lupa sesuatu, jam berapa ini?” aku terkejut teringat Pak Herry, akibat drama yang baru saja terjadi aku sampai lupa jika aku adalah salah satu peserta dalam event ini
“jam 3.45 Ssa, kenapa? ada apa?” Gia ikut panik
“Pak Herry, ya Tuhan ko bisa lupa begini, bagaimana kalau sedari tadi pak Herry mencariku, bagaimana kalau upacara penutupannya sudah dimulai” aku panic terburu-buru mengikatkan kembali sepatuku
“Ssa tenang heyy, Pak Herry tadi aku bertemu dengannya, beliau bilang akan menemuimu setelah mendapatkan hasilnya di UKS, dan upacara penutupan akan dimulai jam 4.15 Ssa tadi aku mendengar pengumumannya” Naya mencoba kembali menenangkanku
Aku menghela nafas “syukurlah, lalu kapan Pak Herry akan menemuiku di UKS?” lanjut bertanya
“tadi sih bilang jam 4 sa” Naya kembali menjawab
“tau nih Arsa emang sekolah kita seluas apa sampe-sampe upacara penutupan gak keliatan atau kedengeran, tapi aku suka ngeliat kamu kalo lagi lupa dan terkejut gitu HHHehe” Gia mulai meledek
Aku melirik dia dengan penuh pertanyaan
“tuh kan liat expresinya beda banget dengan yang tadi, kalau dia lagi terkejut, bingung atau kelupaan tuh ya seketika hilang langsung gelar Ms. Perfect yang ada di Arsa, buyar hahah aku gak salahkan Nay?” tambah Gia meledek sekaligus mencari pembelaan dari Naya
Naya hanya tersenyum menyaksikan tingkah kekanak-kanakan kami, lalu aku bergegas menuju ruang UKS dengan Naya dan Gia yang setia menemani
__ADS_1