Tentang Rindu

Tentang Rindu
Doa yang terkabulkan


__ADS_3

Hampir sekitar 2 jam Sabrina menenangkan diri nya di pos pusat informasi yang berada di terminal itu, saat Sabrina usai melaksanakan sholat dhuhur di Mushollah yang di sedikan di terminal itu hati nya sedikit mulai tenang.


Sabrina pun izin kepada Bapak-bapak petugas untuk melanjut kan perjalanan pulang nya ke Malang.


“Bapak-bapak terima kasih bayak sudah banyak membantu saya”


“Saya izin mau balik pulang”


“Loh Adek beneran sudah tenang?”


“Makan dulu yaa, sebentar lagi datang kok makan siang nya”


“Enggak usah Pak, terima kasih banyak”


“Saya sudah di tunggu Adek saya di Malang, saya juga susah berkomunikasi untuk saat ini”


“Saya pamit, Assallamuallaikum”


“Tunggu Dek!!” petugas terminal yang seperti nya pangkat nya lebih tinggi itu menahan langkah Sabrina, beliau mengambil fompet dari kantong celaba nya mengeluarkan beberapa uang kertas berwarna merah.


“Ini Dek bantuan dari saya, di terima yaa anggap ini rezeki”


Sabrina memperhatikan nominal uang yang di sodorkan di hadapan nya lumayan banyak, dan ia tidak mau memanfaat kan moment nya untuk mengambil simpati bapak petugas terminal.


“Maaf Pak, terima kasih banyak Insya Allah uang saya masih cukup untuk pulang”


Bapak petugas yang sudah sedikit berumur itu mengetahui bahwa Sabrina segan mengambil uang pemberian nya, beliau pun menarik tangan Sabrina dan memberikan uang nya di dalam genggaman nya.


“Jangan di tolak ini rezeki, Adek bisa pakai buat tambahan beli handphone yang baru”


“Karena kasus seperti Adek ini meskipun pencuri nya sudah di temukan, sangat sulit untuk mengembalikan barang curian nya”


“Saya punya anak yang masih kuliah juga, bapak melihat adek mengingatkan sama anak saya”


“Jadi di terima yaa, hati-hati di jalan dan jangan mudah kasihan terhadap orang yang adek belum kenal, harus lebih cermat lagi jika ingin membantu sesama yaa jangan terlalu baik!!”


“Ayoo bapak antar cari bus nya” bapak petugas itu menuntun Sabrina berjalan ke arah tempat bus jurusan Malang.


Sabrina di buat terkejut dengan perlakuan bapak petugas terminal yang terbilang pangkat nya lebih tinggi di banding kan dengan petugas yang lain nya itu.


Beliau menenangkan Sabrina, memberikan minum dan sekarang beliau memberi sebagian uang nya dan mengantar langsung ke bus jurusan Malang.


“Bapak terima kasih banyak, semoga Allah memberi bapak kesehatan, panjang umur, dan rezeki yang berlimpah”


“Aaminn...”


MALANG MALANG MALANG


PATAS LEWAT TOL LANGSUNG BERANGKAT


“Cak titip yo ponakan ku”


“Oyii pak, nangdi iki??”


“Moleh mudun terminal Arjosari yo, ojok di tarik!!”


“86 Boss!!”


“Ayo Mbak e masuk”


Sabrina pun tak lupa pamit kepada Bapak petugas terminal itu mengulurkan tangan nya untuk salim dan mencium tangan nya, Bapak petugas itu sedikit terharu melihat Sabrina yang sangat baik dan sangat sopan itu.


“Hati-hati yaa Nak, ingat pesan Bapak!! mengusap sedikit ujung kepala Sabrina seperti anak nya sendiri dan menyuruh naik bus yang sudah di titipkan k3 kenet bus itu.


“Terima kasih sekali lagi pak, Assallamuallaikum.” Sabrina akhir nya naik bus, duduk di kursi penumpang paling depan mengambil kursi yang dekat dengan jendela meletak kan tas ransel nya di pangkuhan nya agar bisa di peluk nya.


Sabrina memperhatikan uang pemberian bapak petugas terminal dan melihat beberapa nominal nya.

__ADS_1


“Astaga 300 ribu, banyak sekali bapak itu kasih”


“Alhamdulillah, terima kasih Yaa Allah masih di beri ujian kehilangan handphone dan mendapat kan rezeki tak terduga”


“Semangat Brie demi Ayah, Mama dan Adek-adek!!” Sabrina yang menyemangati diri nya sendiri sedikit bersyukur dan sudah mengihklas kan jika handphone nya tidak akan kembali lagi.


Saat bus sudah melaju Sabrina mulai berfikir bagaimana ia menghubungi Mama nya, Bastian dan sahabat nya terutama Dhisa dan Agus serta sahabat-sahabat lain nya yang berada di Malang.


Sabrina ingat bahwa ia belum menghubungi Dhisa dan memberi info bahwa ia mendapatkan cuti selama seminggu, mengingat banyak yang di fikirkan nya membuat Sabrina sedikit lupa dan tidak menghubungi Dhisa.


“Entar aja deh pinjem handphone Om Didit saat udah sampai”


berusaha menenangkan diri nya dan sedikit tidak memikirkan beban nya, akhir nya Sabrina memejamkan mata nya karena lelah ia memilih tidur di perjalanan nya agar tubuh kembali vit saat nanti bertemu dengan kedua Adek nya.


*


*


TASPEN TASPEN TASPEN


PERSIAPAN TERMINAL ARJOSARI


TERAKHIR


ARJOSARI ARJOSARI


Sabrina mengerjapkan mata nya dan langsung mengambil posisi duduk tegap, merapikan rambut nya yang sedikit berantakan, merapikan baju nya dan bersiap akan turun saat bus sudah berhenti di terminal.


“Mbak e lanjut naik apa nanti??” petugas kenet mengajak berbicara Sabrina saat melihat Sabrina sudah bangun.


“Saya naik angkutan umum jurusan ABG pak”


“Ohh... nanti turun di sana saja yo sekalian yang mau berangkat”


“Iya Pak terima kasih.”


Hari sudah mulai sore saat Sabrina turun dari bus, ia menuju angkutan umum berwarna biru bertulis kan ABG jurusan yang di ambil Sabrina menuju rumah Om Didit.


Butuh waktu 30 menit untuk bisa sampai di depan perumahan rumah Om Didit, Sabrina pun turun dengan ceria dan segar mengumpul kan kembali semangat nya karena akan bertemu dengan Adek kembar nya serta berkunjung ke rumah Om dan Tante nya itu.


“Banyak penjual jajanan di daerah sini, kalo aku bawa si kembar jalan-jalan nanti dan jajan pasti seru apalagi Zee hihihi...” Sabrina sedikit berjalan cepat menelusuri perumahan tersebut agar segera sampai di rumah Om nya.


Tok.. tok.. tok..


“Assallamuallaikum”


Tok.. tok.. tok..


“Assallamuallaikum Tante Vina, Om Didit....”


TOK...TOK...TOK... Sabrina sedikit kencang mengetuk pintu rumah Om nya itu.


“Kok sepi yaa?!”


Dari dalam rumah terlihat Tante Vina sedang menikmati tidur siang nya dan sedikit terganggu karena mendengar suara ketukan pintu yang sangat keras.


TOK.. TOK.. TOK...


“Ich siapa lagi seh ini”


“Ganggu banget!!”


“Assallamuallaikum....”


Tante Vina pun beranjak dari ranjang nya dan menuju pintu rumah untuk membuka kan pintu mendengar seseorang dari luar mengetok tanpa henti.


“Iyaa sebentar”

__ADS_1


“Assallamuallaikum” dari arah luar rumah Sabrina tak henti nya berteriak, merasa penghuni rumah ada di dalam, karena ada beberapa ember yang masih berantakan dan slang air yang belum di rapikan.


Tante Vina tidak mengira jika tamu nya yang mengganggu tidur siang nya itu adalah keponakan nya sendiri Kakak dari si kembar anak yang di kurung di dalam gudang saat itu.


Ceklek ceklek


“Assallamuallaiku Tante”


“Waal-la-ikum sa-lam... Sa-bri-naaa??”


“Iyaa Tante” Sabrina pun menarik tangan Tante nya untuk salim dan mencium tangan nya.


Tante Vina masih sedikit terkejut karena tidak ada info jika Sabrina akan datang menemuhi Adek-adek nya.


“Matilah aku kalo Sabrina tau Adek-adek nya aku kurung di gudang”


“Sabrina bukan nya magang yaa di Surabaya??” Tante Vina cepat-cepat mengembalikan kesadaran nya dan bersikap seolah semua baik-baik saja.


“Iyaa Tante masih magang tinggal 2 bulan lagi, kemaren Mama telpon suruh jemput si kembar”


“Kebetulan saya dapat izin cuti satu minggu tante”


“Jem-pun si kembar??” Tante mulai panik dan bingung harus berbuat apa, sedangkan si kembar masih di kurung di dalam gudang dan belum mengetahui keadaan nya untuk saat itu.


“Si kembar ada di dalam kan Tante??”


"Tante??"


“Ah... apa??”


“Saya mau ketemu sama si kembar Tante”


“Oh hehehe... tante baru bangun jadi masih setengah sadar, ayo masuk adek-adek mu masih tidur siang seperti nya”


“Sabrina istirahat saja dulu di kamar tamu, nanti kalo si kembar sudah bangun baru di temuin yaa?”


Sabrina pun masuk ke dalam rumah Tante Vina menaruh tas ransel nya di atas sofa dan mengekori Tante nya yang berjalan entah kemana.


“Si kembar tidur di mana Tante biar saya temuin sekarang aja!!”


Tante Vina yang mulai bingung sedikit mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan Sabrina, ia menuju dapur dan hendak menawarkan Sabrina minuman tapi Sabrina terus mengekori nya hingga pembicaraan itu berada di dapur yang dekat dengan gudang tempat di kurung nya si kembar.


*


DI dalam gudang tersebut Zein dan Zee sedang duduk di tumpukan kardus, Zee yang takut ada nya kecoa atau pun tikus terus menangis takut jika salah satu hewan tersebut datang menampak kan diri nya.


Zein saat itu memeluk tubuh Zee, mereka berdua saling berpelukan dan Zein menguatkan Zee agar tidak takut lagi menyakin kan nya bahwa tidak ada kecoa atau pun tikus di dalam gudang tersebut.


Zee yang bersembunyi di balik dada Zein yang sama-sama kecil itu pun menyaman kan diri nya, mengingat postur tubuh mereka sama hanya Zein lebih tinggi beberapa centi dari Zee.


“Zein, hiks hiks hiks Zee takutt”


“Zee jangan menangis terus nanti kamu sakit loh”


“Kita berdoa yaa kepada Allah, bilang Pak uztad bila kita berdoa memohon pertolongan dalam keadaan teraniaya niscaya doa kita akan terkabul”


“Iyaa Zein, Zee mau berdoa biar Allah kasih makan Zee karena perut Zee lapar”


Samar-samar Zein mendengar ada suara obrolan seorang perempuan di balik pintu gudang tersebut.


Zein menajam kan pendengaran nya menyakini bahwa suara yang di dengar nya adalah suara Kakak nya.


“Apa mungkin suara Kak Nana yaa??”


“Tapi Kak Nana kan di Surabaya”


"Yaa Allah semoga benar di luar ada Kak Nana."

__ADS_1


...***


...


__ADS_2