
hariku masih sama, menjalani aktivitas seperti biasanya, dengan hiruk pikuk dan kebisingan yang tercipta, meninggalkan jejak pada buih-buih dipesisir pantai,
ia merekam semua proses kehidupan didalam perairan, terbawa arus sampai bertemu ombak yang mengamuk di tengah lautan, hingga ia merasa lelah lalu terdampar dipinggiran, merekam semua gambaran yang coba ia pahami sampai pada akhirnya alam merubahnya menjadi buih pantai yang terhempas oleh angin menuju daratan lalu menghilang sebelum sempat ia mengerti kisah yang telah dilaluinya.
Menyedihkan “aku tak ingin hidup semenyedihkan itu Tuhan” gumamku dalam hati sambil tetap menatap langit dan meniti waktu menunggu kepulangan Appa.
“sa sedang apa kamu” tiba-tiba terdengar suara Appa menghapiriku
"Appa’ Appa sudah pulang? Ko aku tidak melihat lewatnya, aku sedang menunggu Appa disini” jawabku terheran karena tidak menyadari kepulangan Appa
“kamu fikir Appa ke laut naik burung jadi jalannya dari atas? Ya bagaimana kamu akan
melihat Appa wong dari tadi Appa lihat kamu melihat ke atas saja” Appa coba menjelaskan.
“gitu ya pa, heheh iyah Appa maaf aku ngga engeh” aku menjawab penjelasan Appa dengan cengengesan karena malu.
“Appa tidak mandi dan makan dulu?” aku lanjut bertanya pada Appa,
“Appa sudah makan, kalo mandi Appa baru selesai, wong Appa udah nyampe sekitar 30 menit yang lalu, kamu ini mendadak amnesia atau gimana sa?” jawab Appa lagi sambil meledekku,
“hah serius Appa? 30 menit? Ko bisa aku ngga engeh ya, akusih dari tadi ngapain” aku terheran pada diriku sendiri
“dihhhhh Arsa kamu sehatkan sa” sambil memegang dahiku dan tertawa Appa kembali meledekku.
“Appa ihhhh” penyakit ogoanku seketika kumat, Appa merangkul dan menepuk-nepuk pundakku.
“Appa 3 hari lagi olimpiadeku dimulai” aku mengalihkan pembicaraan,
“wahh sebentar lagi dong, lalu gimana
persiapannya?”,
__ADS_1
“persiapannya ya begitu pa” aku menghela nafas sambil menyender pada Appa,
“semangat belajarnya, jika orang lain berusaha memulainya dari nol, maka kamu harus siap memulai semuanya dari keadaan minus, dengan keadaan yang seperti ini wajar jika kamu merasa lebih lelah dibanding dengan orang lain, itu risiko jika kita memiliki mimpi yang lebih besar dari pada keadaan kita saat ini, kita harus berusaha lebih extra”
Appa kembali menyemangatiku.
“iyah Appa, tapi apakah tidak berlebihan jika kita memiliki mimpi yang diluar kemampuan seperti itu?” aku dilema pada tekadku sendiri
“memang kamu mampu mengukur kemampuan yang ada pada dirimu sendiri sa jika bisa coba sebutkan bagaimana rumusnya?” apa menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan yang membingungkan.
“entah” aku menggelengkan kepala sambil menatap Appa.
“sekarang Appa tanya, jika hujan turun dan kemudian kamu mencoba untuk menampung airnya sebanyak 1 ember, kamu akan mengetahui isi ember itu kurang atau berlebih setelah hujannya turun atau sebelum hujannya turun?” lagi-lagi Appa memberiku soal tentang kehidupan
“setelah hujannya turun Appa” aku menjawab dengan mencoba memahami maksud dari pertanyaan Appa
“nah jadi yang bisa diukur itu hasil atau kemampuan Tuhan menurunkan seberapa banyak jumlah hujan?” apa lanjut bertanya
“dengarkan Appa, berlebihan atau tidak,
tercapainya atau tidak mimpimu itu adalah suatu hasil, yang kemudian dari hasil itu kamu bisa menghitung dan mengira-ngira, tapi didalam prosesnya, usahamu, kekuatan dan kemampuanmu itu datangnya dari Tuhan melalui dirimu, tidak bisa serta-merta menilai itu suatu yang berlebih atau tidak, tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali kematian, oleh karena itu tetap jaga keyakinanmu terhadap hal yang kamu yakini, selama itu baik dan tidak merugikan orang lain” Appa kembali menanam point penting dalam hidupku.
“baik Appa aku mengerti” aku mengangguk paham atas nasehat yang Appa sampaikan
“oleh karena itu belajar yang baik, harus lebih hati-hati, teliti, tetap rendah hati, dan ingat
untuk berdoa” Appa menambahkan
“baik Appa” aku tersenyum mengangguk mengiyakan pesan Appa,
keyakinanku bertambah, kepercayaan diriku bangkit, mungkin sebenarnya dari situlah sumber kekuatanku selama ini, percaya diri, yakin dan mau berusaha, hingga aku mampu menorah beberapa prestasi selama ini.
__ADS_1
Dari kecil aku selalu berfikir berlebihan, menganggap semua hal yang baik adalah kewajiban, termasuk dalam pendidikan, sejak masuk Sekolah Dasar aku slalu mendapatkan peringkat pertama di kelas ku, dari mulai kelas 2 Sekolah dasar, disaat teman-temanku yang lain berlomba-lomba untuk mendapatkan peringkat dikelas agar diberi hadiah oleh orang tuanya, supaya dikabulkan semua keinginannyal, mainan baru, sepeda baru, sampai liburan ke tempat jauh.
tapi aku merasa mendapatkan peringkat pertama saat kelas 1 tahun sebelumnya adalah musibah. bagaimana tidak, setiap kali pembagian rapot dan pengumuman peringkat dikelas hatiku serasa gempa, dagdigdug seperti saling bertabrakan, fikiranku melayang membayangkan alasan apa yang akan aku berikan pada Appa dan Ibu jika sampai peringkatku turun, bagaimana aku menghadapi keluargaku jika itu terjadi, dimana aku akan menyimpan wajahku nanti, kacau, semrawut seperti benang yang kusut.
Sampai pada akhirnya ketika aku mendapatkan pengumuman nilaiku bagus, peringkatku tidak turun perasaanku hanya berubah menjadi biasa-biasa saja, tidak menjadi lebih bahagia, atau luar biasa, hanya menjadi lebih bersyukur karena Tuhan masih menyayangiku hingga aku tak harus memikirkan sebuah alasan saat jalan menuju rumah pulang sekolah nanti.
Tidak ada makan-makan, tidak ada hadiah, tidak ada jalan-jalan ataupun liburan, hanya pertanyaan “bagaimana nilainya?”, “dapat peringkat?”, “baguslah kalau begitu”, sikap dan sifat Appa pun tidak selalu ramai dan perhatian seperti yang sering diceritakan selama ini jika hanya itu sifat dan sikap yang dimiliki oleh orang tuaku, lalu darimana aku mewarisi sikap cuek dan jutek ini.
“sa besok Appa akan pergi berlayar selama beberapa hari, tidak apa ya Appa tidak dirumah saat kamu menjalani olimpiade?” Appa bertanya padaku
sebenarnya aku cukup sesak tapi apa mau dikata itu sudah menjadi keharusan bagi Appa sebagai kepala keluarga
“lmmmm iyah Appa, Appa baik-baik ya,
hati-hati, jaga kesehatan, makan jangan telat, dan pulang dengan selamat” aku menggenggam jemari Appa
“siap, saat Appa pulang nanti kamu sudah mendapatkan pengumuman hasil olimpiade bukan? Semoga hasilmu tak mengingkari usahamu ya sa” apa kembali menyemangati ku
“semoga Appa”
jawabku sambil berusaha untuk tetap tersenyum dihadapan Appa.
“oh iyah ngomong-ngomong sebenarnya tadi sedang melakukan apa, nsampai tidak menyadari hal-hal disekelilingmu seperti itu?” Appa penasaran terhadap apa yang aku lakukan sebelumnya
“ohh tadi, tadi itu aku berniat menunggu Appa, duduk d atas bebatuan ini, sambil merasakan angin, melihat langit yang mendung, mengamati alam deh pokonya, setelah itu aku melihat buih pantai yang terbang mendekati
wajahku, lalu imajinasiku seperti terbawa oleh buih itu pada sebuah lorong waktu, setelah itu ngga tau lagi, lupa aku ngapain dan memikirkan apa, kemudian Appa memanggilku udah” aku mencoba
menjelaskan
“sa sa, kamu ini ya, itu yang kadang membuat Appa bingung disaat orang banyak yang menyebutmu pandai pintar atau apalah, wong aslinya begini kelakuanmu, ibumu juga sering mengatakan kalau kamu sering sekali lupa akan hal-hal yang jelas-jelas kamu sendiri yang melakukannya” Appa meragukan kepandaianku, tapi aku tidak bisa membela diri karena yang dikatakan Appa itu benar adanya.
__ADS_1