Tentang Rindu

Tentang Rindu
Pelukan yang Hangat


__ADS_3

Di dalam lift Sabrina hanya diam, ia mundur kebelakang hingga menempel di dinding lift dengan kepala yang menunduk, saat Bastian masuk ke dalam lift itu juga, entah apa yang di ucapkan Sabrina, mulut Sabrina seolah komat kamit membaca sesuatu tapi tidak terdengar oleh siapapun, Bastian yang melirik dari samping hanya tersenyum simpul menertawakan keanehan Sabrina, seperti perempuan polos yang belum pernah mengenal pacaran dan cinta, Bastian pun semakin penasaran karena beberapa kali bersama Sabrina tidak pernah satu pun mengungkit masalah Jaka, atau pun pacar nya.


Bastian yang penasaran dan super nekat itu, menekan kembali angka 2, lantai yang di tuju oleh Sabrina dan pasti nya lift tidak akan berhenti karena otomatis sudah tercancel, Bastian melanjutkan dan menekan angkat 20 tanpa sepengetahuan Sabrina, Sabrina yang masih berdiri, diam dan menunduk pun merasa canggung dan malu atas perbuatan nya di pantry tadi, ia merasakan suhu yang dingin dan merasa lift sangat lama sekali menuju lantai 2, lantai di mana area Banquet berada.


“Kenapa perasaan ku lama sekali yaa, hanya menuju lantai 2 saja??”


“Ya Tuhan... bantu hentikan detakan jantung ini kenapa makin kencang rasanya??”


“Apa aku pura-pura pingsan aja kali yaa?!”


“Ruangan ini terasa di kutub aja hawa nya, dan laki-laki kutub ini seperti nya dia marah sama aku hufff!!”


Ting


Sabrina mendengar suara lift, menandakan bahwa tujuan nya sampai, ia mengangkat kepala nya dan melirik tombol di depan samping kanan itu.


“Loh... kenapa lantai 20 aku-“


Belum selesai Sabrina mengucapkan sesuatu, ia sudah di tarik keluar oleh Bastian.


“Ikut aku!!”


“Eh... mau kemana kita??”


“Le-pas, Bastian lepas dulu!!”


Bastian yang masih menarik tangan Sabrina itu dengan cuek nya berjalan tanpa mendengarkan ocehan Sabrina, ia pun semakin erat menggenggam tangan Sabrina membawa ke arah keluar gedung tertinggi itu, yang di sana hanya sedikit penerangan, banyak panel listrik dan beberapa profil air berjejer untuk menampung air hotel, ada sebuah ruangan yang lampu nya sangat terang di mana ada tangga yang menuju rooftop, Bastian pun terus menarik Sabrina hingga naik ke atas rooftop.


“Bastian kalo mau bunuh diri gak usah ajak-ajak!! Ihh lepasin tangan aku dulu!!”


“Kamu mau terjatuh di sini kalo tidak ku pegang?? Hemm?!”


“I-ya eh eng-gak aku masih mau hidup!!”


Bastian melepaskan tangan Sabrina begitu saja, dan ia berjalan sendiri menuju pembatas ujung dari rooftop, ia meletak kan kedua tangan nya di kedua sisi pembatas dan menatap pemandangan kota Surabaya.


Lumayan lama Bastian memandang ke arah kota, sedangkan Sabrina tidak bergerak sedikit pun di tempat Bastian melepaskan pegangan tangan nya.


“Kemarilah, aku tidak akan mencelakahi mu!!” ajakan Bastian yang begitu tenang.


Sabrina yang mendengar nya hanya diam saja tidak mau bergerak sedikit pun, Bastian menoleh melihat raut wajah Sabrina yang sedikit ketakutan ia pun mengerti bahwa Sabrina mungkin takut berada di atas ketinggian.


Bastian menghampiri Sabrina, menarik kembali Sabrina dengan lembut tanpa ada penolakan dari sang empu nya.

__ADS_1


“Ikuti aku, percaya lah sama aku?!”


Sabrina hanya menggangguk kan kepala nya pertanda ia mendengar kan.


“Pelan-pelan, pengang kedua besi ini!!”


“Bas-tian a-aku takutt!!”


“Tenanglah ada aku di sisi mu!!”


Bastian mulai modus, ia menikmati malam itu, ia memanfaatkan moment bersama Sabrina saat ini.


Bastian tidak melepaskan tangan Sabrina, ia menuntun Sabrina hingga di ujung pembatas, merentangkan kedua tangan nya untuk berpegangan, Bastian tentu saja ia semakin merapatkan tubuh nya di belakang Sabrina.


“Apa kamu pernah nonton film titanic??”


“Bastian ini tidak lucu, bawa aku kembali ke tempat awal!! aku takut ketinggian?!"


“Ini mengerikan bastian?!”


"Apa kamu pobia ketinggian??"


"Enggak, aku hanya takut saja!!"


“Apa kamu tidak percaya dengan ku Brie??”


“Buka lah mata mu, percaya lah padaku, aku akan selalu memegang mu dan menjaga mu di sini!!” bisik Bastian pas di telinga Sabrina, dan tubuh mereka terlihat sangat intim, terulang kembali seperti saat di pantry karena ulah Bastian, hanya saja sekarang posisi Bastian di belakang Sabrina.


Sabrina pun perlahan membuka mata nya.


“Waowww... ini indah sekalii...aku belum pernah melihat pemandangan dari ketinggian seperti ini!! Bastian ini pertama kali nya aku di tempat tinggi, jangan lepas pegangan ku yaa?!”


“Dengan senang hati Brie.”


Bastian yang awal nya memegang kedua tangan Sabrina kini beralih mendekap pinggang nya, kedua tangan Sabrina masih terlentang di kedua sisi pembatas besi itu.


“Bastian kamu jangan modus, kenapa pegang-pegang pinggang aku??”


“Tenang lah nikmati moment ini, jadikan story di hidup mu!!”


Entah keberanian dari mana Bastian tiba-tiba memeluk Sabrina dengan erat, Sabrina tentu saja kaget, badan nya menegang apalagi dia masih di sisi pembatas rooftop itu.


“Bas-tian ka-mu ngapain??”

__ADS_1


Bastian langsung membalikkan tubuh Sabrina dan kembali mendekap nya, Bastian seolah-olah tidak mau kehilangan orang yang disayangi untuk kedua kali nya, apalagi kepergian kedua Orang tua nya tanpa ada satu kata pun ucapan selamat tinggal, dan terlebih meninggal kan luka yang dalam untuk Bastian, karena telah di bohongi Nenek nya sendiri.


“Tolong Brie jangan lepas kan biarkan seperti ini dulu!!” suara Bastian yang lirih dan sedih membuat Sabrina hanya diam tanpa kata


“Bastian, apa kamu baik-baik saja??” suara Sabrina pelan dan kawatir akan Bastian.


“Diam lah dan pliss jangan bergerak!!” masih terdengar lirih, seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi masih tertahan, Bastian merasa nyaman memeluk Sabrina, ia teringat kedua Orang tua nya, mata nya sudah memerah penuh kerinduan, selama ini Bastian tidak pernah menyandarkan kepala nya ke pundak siapa pun, dan ia tidak mau Sabrina mengetahui kesedihan nya.


“Bas-!!”


“Tolong bantu aku, jangan lepaskan dulu!!” ini lah pertama kali Bastian mengucapkan kata tolong, ia benar-benar kehilangan kendali nya saat itu.


Sabrina yang mengetahui pelukan Bastian semakin erat, dan penuh dengan memendam sesuatu akhir nya menyerah, ia membiarkan Bastian memeluk nya, tanpa membalas pelukan nya, dengan kedua tangan nya yang masih menggantung ke bawah.


Beberapa menit kemudian Bastian perlahan melepas pelukan nya, perlahan ia menatap wajah Sabrina yang teduh, mata nya menyorot penuh tanda tanya, Bastian hanya menatap nya, perlahan ia mendekatkan wajah nya di hadapan Sabrina.


“Oh Tuhan... hentikan detak ini, apakah Bastian akan mencium ku lagi?? apa yang harus ku lakukan?? aku gugup Tuhan, Mamah..."


"Aku lebih baik pejamkan mata aja!!”


Sabrina yang merasa gugup langsung saja menutup mata nya, ia memutus pandangan dari Bastian. Bastian yang melihat nya ingin sekali tertawa dan menggelengkan kepala nya sedikit, niat hati ingin mencium Sabrina tapi melihat reaksi Sabrina seperti itu ia urungkan begitu saja, ia masih ingat hubungan nya dengan Sabrina menjauh setelah ciuman itu.


Bastian hanya meyatukan dahi nya saja ke dahi Sabrina dan memegang kepala nya dengan kedua tangan nya.


“Jangan berfikiran mesum Brie, apa kamu pikir aku akan mencium mu lagi?? hmm... aku tidak akan melakukan sebelum di perbolehkan sama yang punya?!”


Sabrina yang sudah terlanjur memejamkan mata nya, tentu saja sangat malu, ia membuka mata nya perlahan dan melirik Bastian dari arah yang begitu dekat.


Hembusan nafas mereka berdua pun dapat terhirup, dan merasakan kehangatan satu sama lain nya, hawa dingin dari ketinggian gedung di lantai 20 itu sedikit berubah menjadi panas, untuk mengalihkan kecanggungan Sabrina langsung saja berbicara.


“Aku kedinginan Bastian!!”


"Yakin merasa dingin??"


"Eh..... ini??"


...***...


Haiii Readers tayang, maapkan othor belum bisa daily update, masih di sibuk kan dengan kerjaan dan acara keluarga yang beruntun, othor sampe lelah dan daya berimajinasi berkurang.


Ini tebusan minta maaf udah double up yaa??


Kita nantikan kelanjutan Sabrina & Bastian yaaa

__ADS_1


lope yuu


nonaAurora😘


__ADS_2