
“kalian ini bisa saja” Pak Herry tersenyum tanpa curiga
“bapak tidak mewajibkan kamu menjadi nomor 1 sa, bapak cukup melihat kegigihanmu selama sebulan ini, hari ini tergantungg bagaimana kamu mengaplikasikannya” Pak Herry kembali menyemangatiku
Sekalipun tidak diucapkan, tapi aku melihat jika Pak Herry sedikit menyimpan harapan dalam hatinya, aku bisa melihat itu dari matanya. Pak Herry pernah bercerita, beliau hanya ingin membuktikan walaupun sekolah kami bukan sekolah elite, dan tidak berada di kota atau pusat keramaian, tapi kami tidak harus selalu dipandang sebelah mata
Beliau pernah berkata jika di olimpiade-olimpiade sebelumnya sekolah kami selalu diremehkan, karena kami tidak pernah masuk dalam nominasi 10 terbaik, maksimal nilai tertinggi yang sekolah kami dapatkan hanya berakhir di angka 6.
Oleh karena itu di olimpiade kali ini Pak Herry mengajukan diri sebagai guru pembimbing, memang seperti yang diucapkannya barusan, Pak Herry tidak pernah memaksakan agar aku bisa meraih juara pertama, beliau hanya berpesan cukup dengan perolehan nilaiku bisa melebihi standar yaitu 7.8 saja itu sudah cukup membuat beliau puas akan kerja kerasnya selama ini.
“baik pak, saya kan berusaha semampu saya, tolong doakan saya pak” aku berbalik menyemangati Pak Herry
“akan selalu bapak doakan sa, kalau begitu bapak jalan dulu ya” pak Herry tersenyum sambil berjalan pergi meninggalkan kami
“baik pak, terimakasih” ucapku membalasnya
Kami bergegas menuju UKS
“huhhhhh hamper saja”
Naya menghela nafas sambil duduk d kursi yang ada d ruang UKS
Aku menyimpan ranselku, kemudian berbaring d atas ranjang UKS, disusul oleh Gia yang ikut duduk disebelah ku.
“maaf tadi aku hampir keceplosan, habisnya aku khawatir abis badanmu anget gitu sa, kamu yakin tidak apa-apa?” Gia kembali menanyaiku
Aku hanya mengedipkan mata, dan lanjut berbaring sambil memejamkan mata
“tapi aku salut deh sama Pak Herry, beliau tidak menunjukan sikap ambisi yang berlebihan, begitu bersahaja dan apadanya” Naya mulai beropini
“betul banget, andai Tuhan berkenan menyisakan satu saja laki-laki seperti Pak Herry d dunia ini, sudah tampan, berwibawa, berkharisma, baik hati, tidak sombong, penyayang, apa adanya pula, sungguh
sempurna, beruntung sekali istrinya” Gia mulai berimajinasi kembali
“perasaan yang demam Arsa deh koo jadi kamu yang ngigo gi? tapi istri Pak Herry juga baik, cantik pula” Naya berkomentar keberatan sekaligus memuji istri Pak Herry
__ADS_1
‘Tttreeenggggg suara ponsel Naya berbunyi ‘Tttrreeennngg disusul ponsel Gia
“wahhhh lihat ini, banyak poster yang terpasang untuk menyemangati Arsa” ucap Naya takjub
“lihat ini sa, pesan dari anak-anak excul kita mereka berfoto bersama dengan memegang poster bertuliskan semangat Jiarsa kamu pasti bisa” ucap Naya lagi sambil menunjukan ponselnya padaku
“lihat ini juga nih ada dari teman-teman sekelas kita ucapannya Jiarsa Fighting menang gak menang yang penting makan-makan kacau mereka ini” Giapun ikut menunjukan ponselnya padaku sambil tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya
“ehhhh lihat-lihat ini pesan dari anak-anak nih (Ian cs) Jiarsa Jiayou apapun hasilnya pokonya minggu kita temui bapakmu inisih lebih ngaco apa hubungannya dengan Appa coba ahhah” Naya menambahkannya
kami pun tertawa membaca satu persatu poster penyemangat yang retceh hasil karya teman-teman
Tidak terasa waktu menunjukan pukul 08.45 pagi, penguman terdengar dari ruang informasi agar semua peserta olimpiade bidang study diharapkan memasuki ruangannya masing-masing
“sa semangat ya, jangan terlalu memaksakan jika tubuhmu sudah tidak tertahan” Naya kembali menyemangatiku
“iyah sa semangat, apapun hasilnya kita akan slalu support kamu, jangan merasa terbebani, dan jangan lupa berdoa” Gia ikut menambahkan
“baiklah, terimakasih banyak ya, kalau begitu aku masuk keruanganku dulu” aku tersenyum meyakinkan mereka jika aku masih sanggup
“setelah selesai kita ketemu lagi disini ya sa, kami akan tunggu kamu d sini” ucap Naya
Saat memasuki ruangan ternyata peserta lain sudah banyak mendahului, percis seperti yang dikatakan pak Herry, aroma persaingan sangat tercium disini, entah tapi aku tidak berambisi untuk menang, targetku hanya untuk tidak mengecewakan pak Herry dan Appa
Disaat orang lain berseragam meyakinkan, merias diri serapih mungkin, sibuk seolah-olah sedang mengingat, menghapal kembali materi-materi yang telah dipelajari.
Aku hanya diam merasakan panas disekujur tubuhku, Tak berselang lama petugas dan pengawas olimpiade memasuki ruangan, beliau membacakan tata tertib dan peraturan selama olimpiade berlangsung
Akan ada 50 pertanyaan dengan waktu 150 menit untuk kami mencari jawaban dari pertanyaan pertanyaan itu, jawaban yang benar akan ditambah 2 poin, yang salah dikurangi 1 poin dan tidak diisi mendapat 0.
Dalam hatiku bergumam 150 menit dengan 50 soal entah pertanyaan macam apa itu, yang jelas apapun soalnya nanti semoga aku bisa menjawab.
Petugas mulai membagikan kertas berisikan soal-soal kepada kami dalam keadaan terbalik, jadi kami belum memiliki kesempatan untuk melihat soal-soalnya
Dalam hitungan ke-3 kami dipersilahkan membuka soalnya, sebelum mengerjakan soal aku berdoa untuk kelancaranku, juga agar demamku tidak semakin parah dan menyebabkan munculnya gejala-gejala lain.
__ADS_1
Seperti masukan dari Pak Herry aku menjawab soal dari yang termudah terlebih dahulu, Satu jam pertama aku lalui dengan baik baik saja, aku masih penuh dengan konsentrasi dan focus pada materi yang pernah aku pelajari sebelumnya
tapi di jam berikutnya, suhu tubuhku mulai naik, konsentrasiku mulai pecah, sesekali aku terdiam sejenak untuk mengatur nafasku agar kembali berkonsentrasi
Petugas mengumumkan bahwa waktu yang tersisa tinggal 30 menit, aku masih memiliki 9 pertanyaan terumit yang sedang kucoba selesaikan, tapi lagi-lagi badanku tidak bisa kuajak kompromi, dan sekarang bertambah dengan serangan mual yang merepotkan
Ku amati ruangan itu tanpa gerak gerik yang mengundang kecurigaan, tergambar raut wajah panik, keringat yang menetes d kening, raut wajah penuh harapan, raut wajah dengan penuh kepercayaan diri, bahkan raut wajah pasrah tak memiliki harapan, diiringi petugas dan pengawas yang berjalan bolak-balik, berkeliling, mengawasi kami
Kali ini aku melihat mereka dengan karakter aslinya masing-masing, dan menyaksikan diriku dengan suhu tubuh yang mengganggu dan rasa mual yang merepotkan, aku kewalahan mengontrol tubuhku.
Sempat menyesal kenapa tidak mendengarkan ibu untuk mandi dengan air termos malam itu, padahal sudah jelas sekali, tidak jarang jika masuk angin aku selalu demam dan magg seketika menyerang.
Tapi menyesalpun sudah terlambat, apalagi untuk menyerah itu tidak boleh aku lakukan, tinggal beberapa soal lagi sampai waktunya selesai aku pasti bisa, kucoba menguatkan diriku
Dan pada akhirnya 150 menit berlalu, pengawas dan petugas mengumpulkan lembar hasil jawaban kami, serta menyampaikan jika pembimbing kami yang akan menerima pengumuman pertama kali mengenai hasil olimpiade, sedangkan kami akan menerima pengumuman sore nanti saat upacara penutupan, jadi bisa dipastikan kami akan mendapat informasi langsung dari pembimbing kami setelah mereka melakukan evaluasi
Beberapa saat kemudiam kami dipersilahkan meninggalkan ruangan, aku bergegas lari menuju UKS karena tak kuasa menahan mual yang sedari tadi merepotkan ini, disana sudah ada Naya dan Gia menungguku, tapi kulihat UKS tidak terisi banyak orang
aku masuk ke dalam UKS melewati Naya dan Gia, berlalu menuju wastafel yang berada di sudut UKS, aku luapkan rasa mual itu, tapi tak ada yang keluar, sudah kuduga masuk angin yang kerap menghampiriku kini datang kembali menggangguku
“sa kamu sebenarnya kenapa? kalau sakit kita pulang saja yu” Naya kembali khawatir
Aku berjalan dan berbaring di atas ranjang UKS
“aku tidak apa-apa Nay, ini kesalahanku karena tidak menuruti perkataan ibu” aku menyesalinya
“pasti kamu tidak nurut untuk mandi pakai air termos lagi ya sa” Gia menebak, sudah hapal dengan kebiasaan burukku
“lagian kenapa sih kamu gak nurut sa, lagipulakan ibu menyuruhmu mandi pakai air termos itu, karena itu air panas yang bisa cepat kamu dapatkan ketimbang kamu harus merebus dulu, lagipula aku juga sering melakukannya dirumah bahkan walaupun ibuku tak menyuruhku” tambah Gia menjelaskan
“iyah aku salah, maaf jadi merepotkan kalian juga” aku kembali menyesalinya
“aku mengerti niatmu sa, kamu tidak ingin menggunakan air termos itu karena kamu tidak ingin ibumu repot memanaskan air tengah malam jika adikmu bangun minta susu kan, aku juga sudah melihat wajah lelahmu belakangan ini harus memepersiapkan olimpiade, belum lagi membimbing teman-teman excul untuk mempersiapkan perlombaan nanti, tapi sesekali coba fikirkan dirimu sendiri juga sa, jangan terus hanya memikirkan kami, tubuhmu juga berhak atas dirimu” ujar Naya membeberkan semuanya
“iyah kedepannya tidak akan aku ulangi, boleh aku istirahat sebentar?” sambil turun menuju kasur di bawah yang lebih lebar, aku bertanya pada kedua sahabatku itu
__ADS_1
sengaja aku memilih istirahat di kasur yang beralaskan dipan pendek, karena jika aku beristirahat d ranjang ini khawatir ada pengunjung UKS lain yang datang
“yasudah istirahat dulu, aku juga lelah dari tadi nyari mangsa terlalu banyak pilihannya” ujar Gia sambil ikut berbaring disebelahku