
Beberapa saat setelah kami memasuki kelas, bell jam pelarajan pertama berbunyi, mata pelajaran pagi ini adalah bahasa, tak lama guru mata pelajaran memasuki kelas “selamat pagi murid-murid”, “selamat
pagi pak” jawab kami kompak,
“baiklah bapak mulai dengan absen dulu ya, abil”, “hadir pak”, pak guru terus mengabsen sesuai urutan abjad, toktoktok,,, suara pintu diketuk, pak guru berhenti “selamat pagi pak
saya Jafran dari 9E diminta pak Herry untuk memanggil Arsa pak” ternyata ada siswa kelas 9.
“ohh Jafran sini masuk dulu, diminta pak Herry atau kamu yang mau sendiri” jawab pak guru menggoda kaka kelas itu, serentak siswa dikelasku tertawa beberapa diantaranya melontarkan candaan pula “modus itu mah pak”, “wah nyium bau asap nih pak”, “jelas menang banyak kakak kelas itu mah”, “lawan tempur ian berat pak hahah”
dalam waktu beberapa menit saja kelasku menjadi ramai. “sudah-sudah biar nanti
Arsa saja yang menentukannya sendiri, sini sa” akupun maju ke depan kelas “jadi bagaimana sa kamu pilih yang mana?” akupun kena ledekan pak guru, “saya pilih matematika pak, karena sains terlalu
banyak menghapal” menjawab lempeng seolah pak guru menanyakan bidang olimpiade apa yang akhirnya aku pilih,
memicu suasana kelas kembali ramai dan membuat teman-temanku melontarkan
celotehan-celotehan konyol, “sa lempeng banget idup lo”, “arsa masih ngelindur itu”, “wah hari patah hati sekolah ini mah” semua orang tertawa.
“sudah-sudah, ya sudah kalau begitu silahkan arsa temui pak Herry” pak guru memberiku ijin, “baik pak” jawabku singkat. Aku beranjak meninggalkan kelas, selangkah menuju keluar pintu siswa paling rame dikelasku menghentikan langkah ku dan ka jafran
“arsa, ka jafran tunggu”, kamipun menoleh “iyah ada apa?” jawab ka jafran, “ka jafran jaga arsa, jangan sakiti, kalau tidak aku akan susul kaka ke kelas Haaha” dia meledek, kelas kembali ramai, penuh dengan sorak seperti lomba 17an whuuuuuu, ciee-ciee, wit-wiwww dan celotehan-celotehan lainnya, ka Jafran hanya tersenyum, dan kamipun segera meninggalkan kelas.
btw, pak guru adalah sebutan istimewa dikelasku bagi guru bahasa, karena hobby beliau yang suka meramaikan suasana, menjodoh-jodohkan siswa, menjahili, membuat orang baper, guru yang seru dan hitss, jadi anak-anak di kelasku memanggilnya pak guru atau bapak yang baik untuk ditiru.
__ADS_1
Jarak kelasku dan kelas pak Herry berada cukup jauh, jam pelajaran yang telah dimulai membuat suasana sekolah menjadi sepi, hanya ada langkah kakiku bersama ka jafran. Aku memang selalu seperti itu, siswa disini menganggap aku terlalu cuek, jutek dan tidak peduli terhadap laki-laki. Siswi yang paling
sulit didekati. Entah karena tidak tertarik atau pura-pura tidak mengerti maksud dari siswa-siswa yang bersikap baik padaku dengan suatu tujuan, mungkin karena hatiku belum terketuk kearah sana.
Tapi aku cukup enjoy dan komunikativ jika untuk berkawan entah dengan laki-laki ataupun perempuan. Bahkan aku bisa jauh lebih perhatian dari apa yang mampu dibayangkan. “sa kelasmu rame juga yah” ucap ka jafran membuka obrolan “lumayan” jawabku singkat,
“aku perhatikan kayanya kamu banyak memiliki penggemar” dia tersenyum mencoba memulai topik pembicaraan “apa itu penggemar” aku jawab seadanya, “oh pantes” dia menjawab singkat dengan mempertahankan senyumannya,
“pantes apa?” aku meneliti, “pantes banyak orang yang penasaran terhadapmu, melihat sikapmu yang seperti ini tak heran jika kamu banyak memiliki penggemar, sampai
teman seangkatankupun banyak yang membicaraknmu” dia coba menjelaskan.
“oh, kenapa cowok-cowok itu tidak menganggap aku sombong saja agar berhenti penasaran terhadapku, lagipula dalam
hidupku tak ada yang menarik, tak ada yang harus dipenasari” jawabku memberi peleraian, lagi-lagi dia hanya tertawa, membuatku sedikit kebingungan
“selamat pagi pak” aku menyapa dan mendekati pak herry, “kemari sa, terimakasih ya jafran”, “sama-sama pak”, keramaian yang baru saja aku tinggalkan dari kelasku kini terulang kembali dikelas pak Herry mengajar, penuh dengan sorak sorai dan kebisingan dari murid-murid “wah jafran menang banyak” “gak solmet jafran gak ajak-ajak” “tau nih jafran gak info-info” “kalah start kita” ramai seperti dipasar aku bergumam dalam hati ada apa dengan manusia-manusia ini, beruntunglah pak Herry segera melerai hingga keadaan kelas kembali kondusif,
aku mengikuti pelajaran siswa kelas 9 dan melakukan beberapa latihan soal olimpiade, setelah cukup lama berhadapan dengan angka-angka pak Herry memberiku ijin untuk kembali ke kelas dan kembali menemuinya saat jam pelajaran terakhir.
Aku bergegas kembali ke kelas, dan mengikuti pelajaran seperti biasanya. Tak lama setelah itu bell istirahatpun berbunyi, seperti biasa aku menghabiskan waktu bersama Naya dan Gia, kadang juga kami berkumpul dengan teman-teman satu excul atau yang lainnya.
“sa siang inikan kita latihan, kamu kasih
pemberitahuan dulu gih ke anak cowok angkatan kita” (yang ikut bergabung dengan excul kami), Gia kembali mengingatkanku “loh bukannya tadi sudah ada pengumuman dari pusat informasi ya kalo excul
__ADS_1
kita siang ini latihan” aku bertanya heran,
“saa, kamu seperti tidak kenal saja, mereka itukan kebanyakan murid kesayangan guru BP yang dititipkan ke kamu, kalo mendengar pawangnya ngga hadir apa mungkin mereka akan datang, lagipula bulan depan kita ada perlombaan dan kali ini angkatan kita
yang dikerahkan, kita harus benar-benar mengarahkan mereka sa” tambah Naya membenarkan ucapan Gia
“oh iyayah ada perlombaan, kali ini angkatan kita? Ko dari awal bergabung aku sudah ditumbalkan? Baiklah kalo begitu ayo kita gabung dengan mereka, tapi mereka kumpul dimana?”. aku menggerutu, “HAhaha itu mungkin antara nasib baik dan nasib burukmu sa, tenang-tenang kalo untuk tempat kumpul mereka jelas aku udah tau dong” tutur Gia
“wawahhh mulai ya mulai, Nay ada yang siap diberi pencerahan lagi nih, yauda tunjukin ayo”, aku sedikit memberi Gia petingatan sambil terus berjalan mengikuti arahan Gia “Giii, kamu gak salah mulai duluan? Siap-siap mati kutu lagi kamu di bully Arsa ahaha” Naya membenarkan ucapanku.
“nah itu mereka” Gia menunjuk tempat di bawah pohon dihalaman sekolah, disana rupanya anak-anaku berkumpul, ada Ian, Ari, Putra dan Dio mereka memang hadiah dari guru BP tapi bukan berarti mereka siswa paling bermasalah, guru BP hanya menitipkan mereka agar mereka menjadi lebih aktif disekolah, mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan yang lebih positif.
“hallo anak-anak” begitu kami menyapa mereka, “hallo madam” mereka balas menyapa kami, “boleh gabung?” aku bertanya, “sini duduklah, kaya sama siapa aja, biasanya juga asal slonong” jawab Ari, “iyah sini sini duduk tapi lesehan aja ya ngga basah ko rumputnya, jadi rok kalian aman” tambah Dio mempersilahkan,
“nanti siang jangan lupa latihan ya” aku berbicara langsung pada tujuanku “emang kamu datang? bukannya kamu ada bimbingan olimpiade dengan pak Herry?” tanya Putra padaku, “aku pasti datang, aku usahakan agar bimbingannya selesai lebih cepat” aku memberi penjelasan pada mereka
“bener ngga nih bisa dateng? Seriusan?” Ian meneliti sambil tetap memainkan gitarnya. “beneran mungkin akan sedikit terlambat tapi aku beneran dateng, please latihan yang baik, bulan depan kita ada perlombaan, aku mengandalkan kalian” aku sedikit memelas dengan harapan mereka bisa diajak bekerja sama.
“wadawww ternyata kita begitu berarti dimata cewek-cewek ini haha” ujar Ari meledek “yehhhh kepedean woyyy hahah” Gia
membantah pernyataan Ari. “oke baiklah kita kondisikan” ujar Ian.
“ehhh iringin aku nyanyi dong, suaruku lumayan bagus tau hahah” ujar Gia “ayo boleh, ingin lagu apa?” tanya Ian “apapun aku bisa yo mulai” jawab Gia antusias dan Ian mulai memainkan Gitarnya, tapi lagilagi Ian menjahili Gia, dia membuat suara Gia kejar-kejaran dengan suara gitar yang dia mainkan,
“ahhh Ian rese nih yang betul dongggg, biar Dio ajalah yang mainin gitarnya” dia menggerutu kekesalan dan meminta Dio untuk mengiringinya bernyanyi, disela Gia dan Naya bernyanyi dan bercanda dengan anak-anak itu, Ian mengajak ku bicara dengan pembahasan lain “sa, sudah makan?”, aku terkejut namun tidak terlalu fokus padanya, perhatianku masih tetap tertuju pada Gia dan Naya “sudah tadi bareng mereka”
__ADS_1
menunjuk ke arah Gia dan Naya,
“baguslah, jaga kesehatanmu sa, jangan terlalu lelah” ucapnya memberi perhatian padaku, “oke” jawabku singkat dan tersenyum padanya sebagai ungkapan terimakasih karena telah mengingatkan “jika kamu butuh bantuan katakana saja” aku tersenyum sambil mengangguk meresponnya.