
BUGHH
BUGHH
"ACHHH"
Jerry pun tersungkur ke lantai saat pukulan ke dua dari Bastian menghantam wajah nya, Jerry belum sempat menghindar saat menerima pukulan pertama dari Bastian dan di memukul nya lagi tanpa perlawanan, seketika darah segar keluar dari ujung bibir Jerry yang sedikit lebab itu, Jerry menyeka darah di bibir nya dan kembali berdiri lagi.
“Hahahaa.... ternyata pukulan lu masih sama seperti dulu Bastian, cuiihh”
Jerry meludah kan darah yang ada di dalam mulut nya dan membalas pukulan nya kepada Bastian.
“Lu juga harus rasa pukulan gue!!”
BUGHH
BUGHH
"ACHH"
Kembali Bastian yang tersungkur saat Jerry memukul Bastian di bagian perut nya, belum lagi Bastian terbangun Jerry sudah berjongkok menarik kerah baju Bastian, dan mereka pun saling memukul dan membalas satu sama lain, saling menarik kerah baju seolah-olah saling menunjuk kan kekuatan nya.
BRAKK
“BERHENTI!!”
“APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI!!”
“INI BUKAN RING TINJU ATAU ARENA PERTUNJUK KAN!!”
Pak Arif yang tidak pernah berteriak atau pun marah, hari itu di buat naik darah nya melihat kelakuan 2 saudara itu berkelahi di office HRD, meskipun Bastian dan Jerry bukan saudara kandung tapi dari kecil mereka sudah tumbuh bersama, terpisah kan saat Bastian masuk Asrama dan bertemu lagi di Singapore saat mereka melanjutkan kuliah nya dan Jerry bertugas mengawasi Bastian di sana, di mana dari SMA Jerry sudah belajar bekerja menjadi assisten pribadi Nenek Sofi. Mereka masih sama-sama duduk di lantai dan kedua nya memegang kerah baju lawan, yang sama-sama terlihat berantakan dengan wajah lebam, dan rambut sudah tidak terlihat rapi lagi.
“BANGUN!!”
Bastian dan Jerry bangun dari lantai, dan saling berpegangan tangan, saling membantu satu sama lain nya, belum sampai Pak Arif berucap dengan kemarahan nya kini malah di buat tercengang dengan ulah mereka lagi.
“HAHAHAA.....”
“HAHAHAAA...”
“Gila lu Jerry makin kuat aja pukulan lu tadi, cuihhh sakit perut gue hantaman lu bisa juga keras yaa!!”
“Lu pikir pukulan lu di wajah gue gak keras apah??” ucap Jerry yang ikut beraksi sesaat lupa dengan status nya sebagai assisten Pak Arif.
“Lu berapa lama belajar? Hingga akhir nya bisa balas pukulan gue Jerry?!”
__ADS_1
“Dari lu di tangkap waktu itu karena balap liar, akhir nya gue bisa kelahi dan gue lega bisa pukul preman yang sengaja lapor pada polisi setempat waktu itu, gue cincang habis tuh preman!!”
“Hahahaaa... goodboy, gak sia-sia gue sering pukul lu dulu kan?? Dan sekarang lu bisa balas pukulan gue??”
“INI APA-APAAN?? APA KALIAN MENGANGGAP OFFICE INI BENAR-BENAR ARENA PERTANDINGAN, HAA??”
Jerry yang baru sadar masih ada Pak Arif pun akhir nya sedikit malu, karena selama ini, selama dia ikut Nenek, Jerry ber attitude baik, tidak pernah berkelahi ataupun kasar dengan orang lain. Namun nama nya anak muda Jerry juga punya sisi yang berbeda seperti Bastian. Ada saat nya Jerry memposisi kan diri nya menjadi laki-laki yang baik, berprilaku sopan selalu menjaga image nya apalagi Jerry selalu menemani Nenek bertemu dengan kolega-kolega bisnis nya. Dan sifat Jerry lain nya hampir mirip dengan Bastian, Jerry dulu juga pernah ikut balapan liar, hanya sayang nya Jerry tidak bisa berkelahi apalagi melawan Bastian, sehingga Bastian berkuasa saat itu.
“Hmm... Maaf Pak Arif jangan salahkan Jerry, saya yang memulai nya tadi” ucap Bastian jujur.
“Tidak Pak, saya juga memukul nya dan membalas nya, salahkan saya!!”
“No no no, saya yang salah Pak Arif!!”
“Bukan Bastian Pak, saya selaku staff HRD merasa bersalah karena ikut terbawa emosi menanggapi pukulan Bastian”
“Tapi gue yang pukul lu duluan Jerry!!” ucap Bastian di hadapan Jerry.
“Iyaa gue tau, tapii-“
“DIAMMM!!”
“Jika perkelahian kalian ingin di lanjutkan, keluar dari office saya sekarang!! Dan kalian saya skorsing 2 hari tidak usah masuk kerja, liat muka kalian berdua!! Seperti preman pasar saja.”
Entah itu ide siapa, saat mereka berkelahi di office Pak Arif tadi semua nya hanya berjalan mengalir begitu saja, Bastian yang menerima pukulan balasan dari Jerry semakin tertantang saja karena pukulan Jerry terasa keras dan Bastian ingin menguji saja siapa yang menang dari mereka berdua, belum terlihat kemenangan dari siapa Pak Arif tiba-tiba saja datang dan semakin mengejutkan mereka. Ide Bastian pun muncul tiba-tiba, jika ia membuat onar di office itu pasti Pak Arif akan mengusir nya, bahkan menyuruh nya pulang lebih awal, dan benar saja keinginan Bastian terwujud, ia mendapt kan skorsing 2 hari karena membuat onar dan luka lebam nya yang tidak mungkin ia pamerkan di publik area bertemu dengan tamu, begitu pula dengan Jerry seorang staff HRD dengan luka lebam bukan nya contoh yang baik untuk staff yang lain nya.
“Bastian tunggu!!”
Bastian yang mendengar ada yang memanggil nama nya dari arah belakang hanya menoleh sekilas dan dengan cuek nya melanjut kan jalan nya keluar dari pos 2 tempat security berjaga.
“Bastian tunggu, urusan kita belum selesai!!” ucap Jerry berjalan cepat mendekati Bastian.
“Lu mau ngintai gue kan?? Apa Nenek yang nyuruh lu!!”
“Dasar banci lu”
“Kalo cari info langsung tanya gue, gak usah sembunyi-sembunyi!!”
“Gue gak ngurusi pengintaian lu, itu pekerjaan Om Arman dan Nenek!!”
“Gue butuh kerjasama lu soal Alex dan komplotan nya?!”
“Asalkan lu kasih gue acses, gua bantu lu!!” ucap Bastain.
“Oke setuju, lu mau kemana? Ini bukan jalan menuju Apartemen?!”
__ADS_1
“Gue bilang bukan urusan lu, urusin muka lu yang bonyok tuh!!”
“Gue ikut lu, ingat!! Nenek menugaskan gue disini untuk memantau lu!!”
“Terserah.”
Beberapa menit setelah mereka habis kan untuk berjalan menelusuri gang, kini Bastian sudah berada di teras rumah Pak RT tempat kost nya Sabrina dan Dhisa, seperti peraturan sebelum nya bahwa tamu laki-laki hanya sampai di teras untuk berkunjung nya. Ibu RT yang menyambut kedatangan Bastian pun langsung saja memanggil Sabrina untuk segera turun menemuhi Bastian.
“Han- honey, kamu ngapain ke sini bukan nya ini masih jam kerja??”
“ASTAGA wajah kamu kenapa seperti ini??”
“Siapa yang melakukan nya, ihh pasti sakit kan??” Sabrina reflek menyentuh wajah Bastian untuk memastikan kondisi Bastian saat itu, Bastian yang merasa di perhatikan tentu saja memanfaatkan moment saat itu.
“Aduhh... sakit sayang”
“Achh, maaf aku gak sengaja, mana yang sakit??”
“Kenapa bisa lebam begini seh, siapa orang yang mekukan nya??”
“kalo aku ketemu liat saja nanti yaah.”
Bastian hanya melirik kan mata nya ke arah Jerry, tentu saja memamerkan kemesraan nya atas perhatian dari Sabrina, Jerry yang belum di ketahui keberadaan nya oleh Sabrina hanya duduk di posisi nya dengan memegang handphone nya. Karena posisi Jerry berada di kursi sebelah kiri dari pintu, sedangkan Bastian duduk di sebelah kanan pintu utama sehingga saat Sabrina keluar mengarah ke Bastian, ia membelakangi tempat Jerry duduk.
Sabrina pun duduk di sebelah Bastian dan mereka saling berhadapan karena Sabrina masih meneliti wajah Bastian yang penuh dengan lebam
“Jelaskan han kenapa bisa seperti ini??”
“Sebelum ku jawab, kenap kamu pulang lebih awal??”
“Hehehee... semua gara-gara Dhisa tuh, dia naksir sama cowok yang belum di kenal nya saat mau ke Apartemen kemaren tuh, terus pas di hotel Dhisa bertemu lagi, beruntung nya cowok itu ternyata staff baru di bagian HRD, nama nya Kak Jerry. Sangking panik nya Dhisa sampai pingsan loh pas bertemu Kak Jerry”
“APA?? Siapa tadi??” tanya Bastian kaget, dan Jerry memberi kode untuk mendengarkan cerita Sabrina.
“Iyaa nama nya Kak Jerry, orang nya baik, perhatian, dan cakep juga.”
Jerry yang merasa dapat pujian dari Sabrina seketika besar kepala dan sedikit merapikan rambut nya dengan melirik Bastian. Sedangkan Bastian yang mendengar Sabrina memuji laki-laki lain selain diri nya tentu saja emosi apalagi yang di puji berada di belakang nya saat itu.
“Aku gak suka kamu memuji-muji laki-laki lain selain aku, apalagi sampai naksir, mengerti!!” Bastian berucap dengan mencubit pipi Sabrina.
“Aku tidak naksir kok, kan sudah ada kamu”
“Jadi Jerry seperti apa orang nya, apa seperti dia!!” Bastian langsung saja menunjuk ke arah Jerry, yang di tunjuk kaget dan yang di beri tau semakin kaget saja.
“HAA... Kak kak Jer-ry?!”
__ADS_1
...***
...