Tentang Rindu

Tentang Rindu
Aku Harus Kuat


__ADS_3

Dalam perjalanan nya Sabrina banyak melamun dan berfikit bagaimana ia dapat secepat nya membantu perekonomian Orang tua nya, seperti mimpi saja dan Sabrina sedikit shock dengan pernyataan bahwa usaha Ayah nya yang di bangun dari nol habis seketika, harta benda, tanah investasi dan sejumlah tabungan sudah habis semua, bagaimana pun Sabrina sudah dewasa ia tidak bisa hanya berdiam diri saja melihat keluarga nya seperti itu, Sabrina pun sudah berfikir di saat ia harus melanjutkan magang kerja nya yang kurang beberapa bulan itu, di dalam perjalanan nya Sabrina hanya bisa menarik nafas nya menghirup udara sebanyak mungkin sebagai kekuatan nya, sesekali ia pejam kan mata nya sedikit lama dan tak terasa tetesan air mata pun sudah membasahi pipi nya lagi, ia membuka mata nya dan mengusapkan begitu saja air mata yang basah di pipi nya.


Deringan suara telpon pun berkali-kali mencoba mengganggu lamunan Sabrina, entah mengapa Sabrina enggan sekali untuk melihat bahkan mengangkat panggilan telpon itu, ia merasakan sesak di hati nya yang belum juga reda saat bayangan Mama dan kedua Adik nya melambaikan tangan nya saat pengantar naik bus tadi.


“Jangan lah bersedih terus menerus, apapun yang hilang dari diri mu dan dari milik mu, bersabar lah Allah akan menggantikan dalam wujud yang lain jika kita percaya pada Nya.....”


PLAZA BRI... PLAZA BRI...


YANG TURUN TOWER PER SIAAPAN


Sabrina pun sedikit tersentak, ternyata naik bus antar kota turun di terminal melanjutkan naik bus kota tak terasa begitu cepat, karena Sabrina hanya melamun dan bersedih saat itu, di ambil kan nya cermin kecil dari pouch make up nya, untuk berkaca kemudian ia sapu sedikit wajah nya dengan sponge bedak agar terlihat segar dan tidak terlihat kalo ia selama perjalanan hanya menangis saja.


Sabrina pun bersiap-siap untuk turun di halte dekat dengan plaza BRI area di mana dia ngekost.


“TURUN SINI MBAK??”


“AYO MAJU KEDEPAN!!”


Sabrina yang kebetulan duduk di barisan tengah bergegas untuk maju ke depan karena halte sudah terlihat, ia tidak sadar handphone di tas nya dari tadi berbunyi, ia sempat kirim chat pada Agus jika ia balik dari Malang jam 03.00 sore, Agus harus nya bisa estimasi waktu saat akan menjemput Sabrina tidak perlu telpon terus menerus.


Saat Sabrina turun dari bus kota dengan lelah nya dan sedikit melamun, tiba-tiba seseorang menyerobot begitu saja di deretan halte untuk menarik tangan Sabrina.


“Heiii kamu tidak papa kan??”


“Kenapa aku telpon dari tadi berangkat tidak di angkat??”


"Apa ada masalah??"


“Na, kamu baik-baik saja kan??”


Beberapa pertanyaan beruntun dari Bastian yang Sabrina susah untuk menjawab nya, sesaat Sabrina masih terdiam untuk mengembalikan kecerian nya, ia tidak mau Bastian mengetahui masalah yang telah di hadapi oleh Orang tua nya.


Sabrina pun tersenyum menunjuk kan deretan gigi nya yang bersih, tanpa di buat-buat.


“Sory, tadi aku seharian bantuin Mama bersih-bersih rumah, jadi sampai di bus aku tertidur hehehee...”


“Astaga, aku worry tau!!” di peluk nya Sabrina di tempat umum dengan kekawatiran yang cukup besar, Sabrina pun menyandarkan kepala nya pada dada bidang milik Bastian, di dengarkan nya degupan suara jantung yang masih kencang, ia mencium aroma tubuh Bastian untuk mencari kekuatan dan semangat di sana.


Bastian melepaskan rengkuhan nya, dan menatap Sabrina dengan kedua bola mata nya


“Yakin kamu tidak apa-apa??”


“Beneran akau tidak apa-apa, ini cuma habis bangun aja tadi di bus”


“Aku tuh panik, kenapa gak di angkat sama sekali, telpon ku puluhan kali loh tadi”


“Hehehe.... maap aku tertidur beneran kayak nya”


“BASTIANN BURUAN” tiba-tiba saja seseorang berteriak dari dalam mobil yang parkir tidak jauh dari mereka.


Bastian memegang kedua pipi Sabrina dan mulai berkata-kata.


“Dengarkan aku baik-baik yaa”


“Aku sore ini harus berangkat ke Jakarta, karena Nenek ku sedang sakit”


“Harus nya tadi siang aku naik pesawat, tapi aku undur karena menunggu kamu balik dulu dari Malang”


“Aku di tunggu Jerry di dalam mobil yang akan mengantar ku ke Bandara”


“Kamu baik-baik yaa selama aku pergi, pas taon baru kita ketemuan di sana yaa”


Bastian menunjuk hotel tempat mereka bekerja dan jari telunjuk nya ter arah di tempat yang paling tertinggi yaitu rooftop.

__ADS_1


“Nanti kita rayain pesta kembang api di sana yaa di tempat pertama kali aku peluk kamu”


Sabrina seperti terhipnotis hanya bisa menganggukan kepala nya beberapa kali sambil memandang Bastian.


“Yaa Allah padahal aku butuh sekali Bastian saat ini, tapi Nenek nya juga membutuhkan nya”


Jujur saja hati Sabrina terasa sesak sekali, saat ia turun dari bus dan mendapatkan sedikit energi dari Bastian tiba-tiba ia harus di tinggalkan oleh penyemangat nya beberapa hari.


“Heii, jangan menangis!!”


Sabrina tidak bisa membendung kesedihan nya, ia menahan sedari tadi di hadapan Bastian dan ternyata pecah juga, Bastian hanya menganggap tangisan Sabrina hanya untuk nya karena ia akan meninggalkan Sabrina hingga tahun baru tiba, sedangkan Sabrina menangis karena seseorang yang di yakini kuat untuk jadi pelarian dari kesedihan nya justru meninggalkan dia di saat dia benar-benar membutuhkan nya.


Di rengkuh nya lagi tubuh itu, sesaat mereka saling berpelukan, saling menyalurkan energi kekuatan.


“BASTIAN INI TIKET TERAKHIR PENERBANGAN KE JAKARTA WAKTU SUDAH MEPET!!”


Bastian hanya menoleh pada orang yang berteriak, setelah nya ia melepaskan pelukan dari Sabrina, mengusap air mata nya dan Bastian pun pamit karena jam penerbangan mepet, di tambah lagi perjalanan Bastian dari Surabaya menuju Juanda Airport masih membutuhkan waktu yang cukup banyak.


“Aku berangkat yaa??”


“Hati-hati yaa, salam sama Nenek”


“Sampai di Jakarta nanti jangan lupa telpon yaa!!”


Bastian mengangguk pasrah dan setelah nya berlari pada mobil yang sudah menunggu nya dari tadi.


Mereka pun berpisah kembali di halte, hanya sesaat saja mereka bertemu dan kini giliran Bastian yang meninggalkan Sabrina karena suatu hal.


“Ayo Brie kita pulang, kamu capek banget seperti nya” tegur Agus yang melihat Sabrina terus memandang mobil Bastian yang terus melaju kencang untuk mengejar waktu menuju Juanda Airport.


*


*


*


“Waoww harum sekali ini, aroma-aroma makanan dari Malang ini seperti nya”


“Udah cuz ambil piring dan sendok kita makan di teras yaa, telpon Agus kita makan sama-sama”


“Siap 86!!”


“Eh, Brie lu tadi ketemu Bastian kan??”


“Dia tuh sudah seperti kehilangan apa aja, telpon gue tadi sudah melebihi dosis minum obat hahahaaa”


“Iyaa Dhis, Bastian Nenek nya sakit dia harus berangkat ke Jakarta”


“Haa, parah yaa Brie ampe Bastian harus pulang??”


“Huss... mana aku tau, Bastian belum cerita apa-apa”


“Hmm... gue penasaran sama kehidupan asli Bastian itu seperti apa yaa??”


“Kemaren-kemaren sempat kepergok dia ngobrol sama Kak Jerry gitu kelihatan nya akrab Brie, gue yakin mereka sebelum ketemu di hotel pasti sudah kenal satu sama lain”


“Kan Bastian dan Kak Jerry satu kampus dulu nya meskipun beda jurusan”


“Iyaa kalee Kampus sebesar itu mereka cuma say hallo doang??”


“Mungkin saja biar Pak Arif gak mencurigai kale?!”


“Nah kalo itu gue sedikit percaya, mungkin mereka sudah kenal akrab karena satu hotel takut ada apa-apa jadi pura-pura aja gak kenal gitu kan??”

__ADS_1


“Yuupzzz, nanti kita tanyakan aja deh pas ketemu, aku juga penasaran Dhisa”


Mereka pun mengobrol panjang lebar dengan menyiapkan makan malam nya yang masih di prepare oleh Sabrina, hingga lampu magickom mendakan nasi sudah masak akhir nya mereka berhenti bercerita dan turun kebawa membawa masakan nya untuk di makan bersama-sama.


*


Dalam makan malam nya Sabrina ingin mengutarakan sesuatu kepada kedua sahabat nya itu, tetapi ia sudah berjanji tidak akan membeberkan aib keluarga nya kepada siapapun.


“Guys, mumpung ini akhir tahun dan Bastian tidak ada disini, aku kayak nya pengen ikut casual deh lumayan bisa buat tambah-tambah uang jajan heheehee” usul Sabrina kepada Dhisa dan Agus


“Loh Brie aku tadi di tawarin Pak Sigit loh, kata nya kalo fisik kuat, pagi kita training kerja pulang ontime jam 3 sore, terus istirahat bersih-bersih jam 5 kita standby lagi tapi status casual kan lumayan terima gaji”


“Tapi yaa gitu fisik harus kuat, karena pagi nya kita harus training kerja lagi, kesempatan seh ini dari pada ambil anak luar kan??”


“Aku mau Gus, besok aku mau bilang sama Pak Sigit aku mau casual!!”


“Loh loh loh.. kalo kalian casual semua, gue ikut juga dong, dari pada tidur-tiduran mulu nunggu kalian pulang”


“Oke fix, jadi kita ambil casual pas ada event-event rame aja yaa, jangan tiapa hari juga nanti tubuh kita capek, gimana??” saran Agus kepada Sabrina dan Dhisa


“Deal, aku setuju Gus!!”


“Gue juga setuju, lumayan bisa buat tambahan uang jajan kan Brie??”


“Betul Dhisa, kalo perlu bulan depan aku gak minta kiriman duwit deh kalo bisa cari sendiri hehehee....” ucap Sabrina untuk menenangkan diri nya.


“Iyaa Brie lu bener, gue pengen tunjukkin sama Ayah kalo anak nya ini gak minta duwit mulu kerjaan nya!! hahahaaa.....”


“Gayaa mu Dhis, gimana kalo kita taruhan tapi taruhan nya bagus ini!!”


“Taruhan gimana Gus??” tanya Sabrina


“Kita taruhan kumpulin uang casual sebanyak mungkin, dan uang tip dari tamu KALO dapat, bulan depan siapa yang paling banyak berarti menang, yang paling sedikit harus traktir!!”


“Aku setuju Gus!!” ucap Sabrina dengan nyaring


“Gilaa kalian berdua yaa, bilang aja mau meras gue?? Udah tau gue paling boros di sini!!” jawab Dhisa


“HAHAHAAA.... pokok nya Deal yaa??”


“DEAL.....!!”


“Yaa Allah terima kasih Engkau menempatkan orang-orang terbalik di sisi hamba, tanpa mereka tau kesulitan hampa dan cobaan keluarga hamba, mereka bisa kerjasama dengan baik”


“Hamba yakin Engkau akan menguji umat mu tidak melebihi kemampuan nya”


Mereka pun tertawa bersama, bercanda saling menunjuk satu sama lain nya dan tak terasa air mata Sabrina menetes begitu saja itu seperti air mata bahagia yang langsung membasahi pipi nya, tanpa sepengetahuan Dhisa dan Agus, Sabrina dengan cepat menghapus air mata nya dan kembali tertawa ceria.


"HAHAHAHA......."


"Pokok nya DEAL yaaa"


"DEAL"


...***...


Tambahan sedikit untuk readers yaa


Casual itu sama hal nya kerja part time, hitungan per jam atau per shift yang tidak terikat kontrak.


Biasa nya hotel jika membuat acara-acara besar pasti akan memanggil casual dari beberapa sekolah perhotelan ataupun kampus.


Tidak menuntut kemungkinan seseorang yang ikut casual suatu saat akan di kontrak kerja, di nilai dari kinerja nya yang baik dan bagus.

__ADS_1


😁🤭


Cukup sekian penjelasan othor bye bye gudnite 🥱


__ADS_2