
Di tempat lain di sebuah rumah yang sangat mewah, dengan bangunan eropa yang masih terjaga perawatan nya, seorang wanita paruh baya yang duduk di ruang kerja nya, dengan umur nya yang sudah hampir tujuh puluhan itu masih terlihat sangat kuat, dengan kekuasaan dan kehebatan nya mampu mempertahan kan perusahaan milik nya di tengah persaingan yang pesat.
Nenek Sofi sedang serius mendengarkan laporan dari Bapak Arman yang bukan lain adalah Ayah dari Marissa, Pak Arman di minta Khusus oleh Nenek Sofi untuk membantu menjalankan perusahaan nya, menjadi orang kepercayaan nya sejak tiga tahun yang lalu, saat Nenek Sofi tiba-tiba jatuh sakit. Bukan penyakit yang bahaya, namun faktor umur mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan otot yang melemah, yang mengharuskan Nenek Sofi harus beristirahat total.
“Jadi Bagaimana perkembangan Bastian di sana, Apa kau yakin Arman anak itu akan bisa berubah dan belajar bertanggung jawab??” Nenek Sofi masih memikirkan masa depan cucu satu-satu nya itu, berharap Bastian sudah siap untuk memimpin perusahan dan bertanggung jawab untuk masa depan dan kesejah teraaan karyawan nya.
“Saya yakin Bu Sofi, Bastian akan berubah!! setidak nya usaha kita yang terakhir ini tidak akan bisa membuat Bastian bergerak bebas. Semua kartu yang di pegang sudah saya beku-kan dan tidak ada fasilitas apapun di sana, hanya apartemen sederhana saja.
Untuk menjadikan Bastian pemimpin yang tangguh dan bisa mengembangkan perusahaan ini, dia harus kuat dalam power bisnis nya, selain itu dia harus sadar bahwa perusahaan membutuhkan dia, oleh karena itu saya gembleng Bastian mulai bekerja dari nol!! saya menjadikan Bastian di sana hanya karyawan biasa, tanpa semua orang tahu bahwa dia adalah cucu dari pemilik hotel. Dengan begitu Bastian akan mengerti perjuangan dan berusaha bangkit di saat dia merasa di perbudak dan merasa posisi nya paling bawah. Dia akan menerima dan merasakan perlakuan yang sama seperti semua staff dan karyawan di sana, dengan begitu dia akan berfikir untuk berubah.”
“Aku paham Arman, dan aku percayakan Bastian dengan mu, tolong didik cucu ku!! selama ini aku terlalu memanjakan dia, memberikan kebebasan untuk memilih masa depan nya adalah keputusan ku yang salah. Anak itu tidak peduli dengan masa depan nya, dia masih belum bisa memaafkan aku yang sudah membohongi nya, dia berontak selama ini, pelarian nya ke balap motor!! dan terakhir dia di tangkap karena balapan liar.” Nenek Sofi sedih memikirkan nasib cucu nya itu.
“Pasti berat Bu Sofi merawat Bastian seorang diri, saya akan berusaha menjadikan Bastian orang yang tanggung jawab dan mau memimpin perusahaan.”
“Terima kasih Arman, kau memilih meninggalkan pekerjaan lama mu hanya demi orang tua ini!!” Tunjuk nenek Sofi pada diri nya sendiri.
“Bu Sofi jangan bicara begitu, saya banyak berhutang budi dengan Almarhum Aditya, sebelum saya sukses almarhum lah yang membantu saya, memberikan saya pinjaman modal dan menjadikan patner kerja nya, setidak nya untuk saat ini saya ingin membalas budi baik nya dengan membantu Bastian, mengarahkan yang terbaik untuk nya, dia harus sadar jalan yang selama ini di ambil salah.”
“Aku cuma takut umur ku tidak bisa lama lagi, sebelum aku melihat Bastian bisa berubah, hiks hiks hkis....!!” nenek Sofi sedih.
“Bu Sofi jangan terlalu memikirkan Bastian, kesehatan Bu Sofi jauh lebih penting, saya mohon Bu Sofi percaya dengan saya!! mungkin Bastian akan sedikit menderita di sana, tapi saya yakin dia bisa mengatasi nya.”
Bastian POV
__ADS_1
Saat itu masih jelas di ingatan ku, saat aku berusia 12 tahun saat masih di Sekolah, ada pengumuman kelulusan yang harus di hadiri wali murid. Aku menunggu Papa dan Mama yang berjanji akan mengambil ijazah kelulusan ku, aku seorang diri di depan Sekolah samping pos Security, karena acara sudah di mulai dan hanya Orang tua ku saat itu yang belum datang.
Hingga 2 jam berlalu mereka belum datang, jujur aku sedih, marah, apa hanya janji semu saja yang di ucapkan Papa dan Mama semalam.
“Nak Bastian Papa dan Mama nya belum datang yaa?? Tumben telat nya lama, acara sudah mau selesai loh!!”
Saat pak security menegurku, hatiku semakin marah!! Ingin saja lari untuk pulang atau pergi ke perusahaan Papa, tiba-tiba saja dari arah pintu gerbang terlihat mobil Nenek memasuki kawasan Sekolah. Aku berlarian ke arah Nenek dan seketika Nenek langsung memeluk ku.
“Nek kenapa papa dan mama belum datang di acara kelulusan Bastian??” pasti nenek mengetahui penyebab nya, karena nenek tiba-tiba datang ke Sekolah ku.
“Bastian, dengerin nenek yaa!! Kamu jangan marah yaa nak, papa dan mama mu harus berangkat ke Malaysia, karena ada masalah besar di hotel cabang.”
Aku masih menjadi anak yang penurut pada saat itu, Nenek meng-gantikan Papa dan Mama untuk mengambil ijazah kelulusan ku. Setelah pengambilan ijazah itu, Nenek langsung membawa ku ke suatu tempat. Sebuah Asrama dengan gedung Sekolah untuk tingkat pertama dan tingkat menengah, lengkap dengan Pesantren. Aah.. mungkin Nenek survey mencari Sekolah yang terbaik untuk ku, dan aku masih merasa senang apalagi Nenek meng-gandeng tangan ku sangat erat!! seolah-olah aku akan di culik saja, aku berfikir masih ada masa libur ku nanti dan aku ingin menagih janji liburan dari Papa dan Mama yang akan membawa ku liburan ke Bali.
DEG...
Seketika jantungku langsung bergetar, apakah benar nenek akan meninggalkan aku disini, dan memasukkan aku ke dalam asrama Sekolah.
Aku masih menunggu jawaban Nenek dari wanita di depan ku yang kemungkinan dia adalah kepala sekolah di sini.
“Benar Bu ini cucu saya Bastian, sesuai dengan pendaftaran tadi saya akan menitipkan Bastian mulai hari ini, barang-barang dan kebutuhan nya sudah saya siapkan semua nya, ada di dalam mobil nanti supir saya yang akan antar!!”
Mendengar kata-kata Nenek membuatku shock dan terdiam, bahkan aku belum percaya dengan apa yang di ucapkan nya, dan benar saja hal itu terjadi, Nenek hanya memberikan ku pengertian, masa libur ku sekarang harus banyak di isi dengan belajar ilmu yang bermanfaat, terutama agama, dan mulai sekarang aku harus belajar mandiri dan bertanggung jawab untuk jadi penerus keluarga Wijaya dan calon pewaris tunggal, karena aku anak satu-satu nya dari Papa , tidak ada lagi main-main seperti anak kecil !!
__ADS_1
Aku ikutin apa yang di perintahkan oleh Nenek, karena itu pesan Papa sebelum berangkat, liburan sementara di tunda dulu. Saat aku bertanya apakah Papa dan Mama nanti membesuk ku, Nenek bilang keputusan kedua Orang tua ku untuk memasuk kan ku ke dalam Asrama pesantren, agar aku menjadi laki-laki kuat dan tidak cengeng!! untuk sementara Papa dan Mama akan tinggal di Malaysia dan mereka akan memantau perkembangan ku.
Aku harus bertahan, aku ingin belajar sungguh-sungguh di Asrama agar Papa dan Mama bisa bangga dengan ku saat nanti pulang dari Luar Negri, namun hingga sampai akhir semester hanya Nenek yang terlihat, kenapa Papa dan Mama tidak pernah datang?? Setiap kali aku bertanya kepada Nenek, ia hanya menjawab Papa sementara masih di Malaysia, belum bisa balik ke Indonesia!!
Saat aku mulai memasuki sekolah menengah, aku sedikit curiga ada yang di sembunyikan oleh Nenek dariku, aku tidak di beri handphone oleh Nenek, saat se-usia ku sudah di perbolehkan dan hanya aku yang tidak memegang handphone di Asrama waktu itu.
Malam itu saat ada acara pekan Seni dan Olah raga peringatan Hari Santri National di asrama, saat semua petugas dan panitia sibuk, aku mencoba melarikan diri dari Asrama, hampir 4 tahun aku tidak menginjak-kan kaki ku di rumah yang dulu ku tempati dari jauh masih terlihat sama , dan saat kaki ku perlahan mendekati rumah, seperti ada pengajian, aku semakin laju untuk menuju rumah dan ingin memberikan suprise kepada Nenek, Papa dan Mama.
Orang-orang semua seperti kaget dan membisu saat melihat aku dari luar berteriak PAPA MAMA!!, ada sebuah bunga yang tertata rapi mengelilingi papan banner, entah apa tulisan nya, aku belum fokus masih mencari orang yang ku kenal, aku mencoba berputar dan aku melihat papan banner itu lagi, seketika aku terdiam. Saat aku ingin membaca Jeeddddrrrrrrr........ Jantung ku bergemuruh, seketika air mata ku menetes, aku mengusap berkali-kali mata ku dan aku mencoba kembali membaca sambil mendekat, aku berjalan lurus tepat di depan papan banner itu.
...Do’a bersama dalam rangka peringatan 4 tahun meninggal nya anak dan menantu kami tercinta ...
... Aditya Bhanu Wijaya & Nilam Rahman Wijaya...
Aku masih berusaha membaca nya lagi, meraba tulisan itu, apa ada yang salah dengan mata ku?? Dan samar-samar ku mendengar suara wanita menangis dan menjerit “BASTIANNN.....MAAFKAN NENEK.... MA-AFKAN NENEK BASTIAN....AAAHHHHH TI-DAK CUCUKU... D-IA DI-A AHHHAA TIDAK BOLEH TAHU,A-KU TIDAK MAU DIA SEDIH AAHHHHHH......HIKS HIKS HIKS HIKS OH!!”
Seolah-olah aku ada dalam dunia lain, aku tidak bisa mendengar siapa-pun, aku merasa sendirian, di tempat yang sepi, gelap, aku mencoba memejamkan mataku, mencoba merasakan dengan perasaan, MATI iyaa aku merasa sudah mati, dunia ku mati seperti kedua nama yang ada di depan ku ini.
Seseorang memegang bahu ku, seperti ingin menarik ku dari kegelapan, aku mulai sadar dan aku mendorong nya dengan keras lalu aku lari keluar dari rumah, aku lari dan terus berlari sekencang-kencang nya, aku ingin kembali ke Asrama, berharap ini mimpi, ini mimpi buruk ku, dan aku tidak akan menginjak kan kaki ku lagi di rumah itu.
Bastiann.....Bastiann... AWAAS!!! BRRUUAAKKKKK!!!!!
AAGGGHHH........
__ADS_1
Aku merasa seperti melayang, badan ku terbang tinggi lalu aku menutup mata.