Tentang Rindu

Tentang Rindu
kamuflase


__ADS_3

“sebentar deh mau tanya, aku penasan dari awal kenapa sih kalian bisa banget diajak kompromi sama Arsa tapi engga sama yang lain?” tanya Naya dengan polosnya


“ohh iya juga ya, seolah-olah tuh Arsa


pawang dari kalian, haha” tambah Gia sambil bercanda


“dihhhh kepo Haaha.. mmmm mau siapa nih


yang jawab?” ujar Ari sambil balas meledek


“kamu sajalah sekalian” pinta putra pada Ari


“jadi begini, dengar nih dengar, perhatikan baik-baik dan seksama” Ari berbicara dengan gaya blagu dan so taunya


“ihhh Ari serius dongg jan becanda” Naya protes dengan tingkah Ari


“Hahaha Sabar dong Nay, hidup itu jangan terlalu serius nikmati saja pelan-pelan” Ari tetap dengan gaya menyebalkannya, ‘pltukkkk terdengar suara gelas platik bekas air mineral mengenai tubuh Ari


“Arii ahh becanda mulu, kamu ngga tau ya kalo cewek uda kepo itu gimana?” ternyata Gia yang melempar gelas itu pada Ari dan membuat kami menertawakan tingkah mereka,


“ahhh udah kelamaan Ian coba jelasin, sebagai ketua RT harusnya kamu bisa lebih baik dari pada warga mu” pinta Naya pada Ian


“waduhhh Nay, sejak kapan aku bisa

__ADS_1


serius” Ian turut serta meledek Naya


“ishhhh kalian ini, Putra’ Dio kalo gitu kalian saja yang menjelaskan” pinta Naya dengan kesal


“aduhh Nay aku gak pandai berbicara” Dio coba menghindari pertanyaan, “aku juga sama Nay, terbukti kalau diantara kami, aku yang paling gak banyak omong” tambah putra sabil tersenyum.


Aku tau mereka bukannya tak ingin menjawab atau menjelaskan, tapi mereka terlalu asik meledek Naya dan Gia, mereka terlalu senang membuat kesal Naya dan Gia.


“ahhhh kalian terlalu mendiskriminasi, mentang-mentang bukan Arsa yang bertanya dan meminta kalian jadi saling melempar jawaban seperti itu” Gia melontarkan kekecewaannya pada mereka, sekaligus memasang muka bebek pada wajahnya


“cie marah cie, ya senyum dulu dong katanya Gia yang paling cantik tapi mukanya dijelek-jelekin gitu, nanti tambah jelek tau ehhhh” Ian mencoba menghiburnya tapi masih tetap membuatnya kesal


“ya abis kaliannya juga gitu” giliran Naya yang menyambar mereka dengan nada kesalnya


“oke oke aku ceritain nih ya” Ian coba menenangkan mereka.


begitulah Ian sekalipun sedang serius dia akan tetap menyelipkan bahan-bahan candaan didalmnya


“aduhhhhh aku sampai terharu mendengarnya, saaaa terimakasih sudah menjadi sahabatku, aku beruntung” Gia dengan sikap baper dan manjanya memelukku, begitu juga dengan Naya,


“ko aku gak dipeluk kan aku yang cerita” ujar Ian mengusili mereka lagi


“dihhhhhh terlalu inginnn” Naya mematahkan keinginan Ian.

__ADS_1


“tapi tunggu emang apa hukuman yang dibuat sebelumnya dan yang disarankan oleh Arsa waktu itu?” tanya Naya penasaran


“hukuman yang menurut kita sebuah lelucon yang kekanak-kanakan itu, masa iya kita mau diarak ketiap-tiap kelas dengan didandani dan dipasangi atribut memalukan ala-ala anak MOS lalu di jemur ditengah lapangan seharian, dan didokumentasikan untuk papan iklan MOS ditahun-tahun berikutnya, ya sekalipun hukuman yang diusulkan Arsa juga tidak lebih baik haHHaa” ujar Ari menjelaskan


“emang apa yang disarankan Arsa” sahut Gia yang masih penasaran


“dia mengusulkan supaya anak-anak penghuni BP seperti kami agar tidak diijinkan keluar dari sekolah saat jam istirahat, lalu dianjurkan untuk mengikuti semua agenda wajib sekolah, dan mengikuti minimal 1 excul, jika masih ada yang melanggar salah satu dari ketiganya dia menyarankan agar guru BP memanggil orang tua kita untuk dipaserahi surat keterangan skors bagi kita selama 1 bulan sebelum UAS atau UTS, dimana sebulan sebelum UAS dan UTS itu adalah saat-saat dimana guru banyak memberi bocoran dan kisi-kisi mengenai soal UAS/UTS, kurang jahat gimana coba Arsa?”


tutur Putra sambil menggeleng-geleng kepala dan cengengesan, mendengar perkataan itu Naya dan Gia langsung melepaskan pelukannya dari tubuhku


“Saaa, aku fikir kamu sudah berubah menjadi malaikat tapi ternyata kamu masih sama seperti predator yang memiliki insting buas, kamuflasemu sangat baik saa” Gia menatapku lamat-lamat sepertinya dia agak sedikit menyesal karena telah meneteskan air mata saat mendengar ceritaku sebelumnya.


“tapi kami cukup berterimakasih pada Arsa, mungkin jika hukuman pertama yang kami terima kami akan jauh lebih jadi pembangkang, karena jika itu terjadi harga diri kami sudah tidak ada artinya dihadapan


adik kelas, kakak kelas bahkan mungkin teman satu angkatan, itu akan memicu kami untuk lebih membuat onar, tidak ada efek jera yang kami dapatkan, hanya rasa malu yang pada akhirnya itu akan dilupakan seiring bertambahnya waktu, tapi ada satu kalimat dari Arsa yang membuat kami sadar dan


yang kami ingat sampai saat ini cobalah memahami keadaan dan lingkungan dimana kamu berada, sekolah hanyalah sebagian kecil dari kehidupan, jangan sampai sikap arogan dan keras kepalamu menjadikanmu buta saat menghadapi kehidupan yang sebenarnya, apasalahnya menjalani kehidupan disekolah sebagimana mestinya, lagipula itu tidak akan merugikan


hidupmu, itu yang membuat kami sadar untuk belajar lebih memahami dan menghargai lingkungan dan posisi kami, dan kami merasakan perubahan menjadi lebih positif bagi pembentukan karakter kami, thanks ya sa”


tutur kata Dio berhasil menyelamatkanku dari tatapan lamat-lamat Naya dan Gia, aku hanya tersenyum merespon kalimat Dio


“terutama berubah menjadi sangat lebih berari untu kalian” sambar Ari kembali meledek Naya dan Gia sontak itu membuat Naya dan Gia mencubiti Ari dengan gemas.

__ADS_1


Dan lagi aku hanya tersenyum menyaksikan kebahagiaan mereka, setidaknya tugasku untuk membuat mereka bahagia masih dapat aku lakukan, terlepas bagaimanapun caranya mereka tetap teman-temanku.


Tidak butuh pengakuan dari banyak orang untuk membenarkan sesuatu yang salah, cukup dengan kamu merubah dari sudut pandang mana kamu melihat, ketika kamu mengamati lebih dalam, kamu akan menemukan objek yang sesungguhnya.


__ADS_2