
Kami bergegas keluar ruang Pembina, diluar masih banyak anak-anak yang sedang ngobrol bercanda dan menunggu kami, setelah berada ditengah kerumunan anak-anak bu Ning memanggil dua nama junior kami
“Liu dan Lan mari ikut ibu” mereka berdua tampak kebingungan, namun tetap menuruti permintaan ibu Ning.
Gia dengan rasa keponya menghampiriku
“Ssa ada apa? Mau kemana?”
“nanti akan aku ceritakan, aku titip anak-anak ya, dan minta tolong Naya agar mengumpulkan anak-anak excul angkatan kita”
aku berpesan pada Gia dan Naya
Mereka berdua menjawab kompak
“baik Ssa”
Kami berempat meninggalkan sanggar excul dan bergegas mengunjungi ruang kepala sekolah, sesampainya disana kebetulan sekali kepala sekolah sedang berada di sana, akupun mengetuk pintu ruangan dari dalam terdengar suara kepala sekolah mempersilahkan kami masuk
“selamat siang pak” ucap kami berempat kompak
“selamat siang, ehh Ibu Ning silahkan duduk bu, kalian juga silahkan duduk” jawab kepala sekolah sambil mempersilahkan kami duduk
“wahhh ramai-ramai sekali ada keperluan apa ini” tambah kepala sekolah bertanya penasaran
“begini pak, saya telah membahas hasil dari proposal yang sebelumnya saya ajukan kepada bapak mengenai perlombaan yang akan diadakan minggu depan, tapi Arsa meminta ijin pada saya untuk berbicara dengan bapak, makanya saya kemari sebagai walinya pak, mohon maaf sebelumnya jika
tindakan saya kurang sopan dan mengganggu waktu bapak”
Ibu Ning membuka pembicaraan
“ohh tidak apa-apa bu, justru itu peran Pembina menjembatani antara murid dan kepala sekolah, tapi ngomong-ngomong ingin bicara soal apa ini, sampai harus langsung bertemu dengan saya”
bapak kepala sekolah kembali bertanya
“kalau itu biar Arsa sendiri yang langsung mengatakannya pak”
Ibu Ning menjawab singkat
“ohhhh begitu, tapi Arsa ini siswi yang mewakili sekolah dalam olimpiade matematika kan?" Kembali kepala sekolah bertanya
__ADS_1
“betul pak” Bu ning menjawab dan aku hanya mengangguk membenarkan jawaban Ibu Ning
“wahhh bagaimana tadi, bisa mengisi soalnya Arsa?” kepala sekolah bertanya kembali
“bisa pak” aku menjawab singkat
“nah anak-anak contoh kakak kelasmu ini, belajar yang rajin, supaya bisa mewakili sekolah mengikuti olimpiade bidang study, aktiv juga di organisasi, bagus ya melakukan aktivitas yang bermanfaat”
Kepala sekolah memberi wejangan kepada Liu dan Lan, mereka hanya tersenyum sambil mengangguk
“ada hal apa Arsa, apa yang ingin disampaikan pada bapak?” kepala sekolah menambahkan kalimatnya
Disebelahku Ibu Ning tersenyum dan mengangguk mengisyaratkan untuk aku memulai pembicaraan
"pertama saya ingin minta maaf pak karena telah mengganggu waktu bapak, dan berterimakasih karena bapak mau merespon kami, mengenai perlombaan yang akan excul kami ikuti minggu depan, boleh saya tau pak kenapa bapak hanya meng-ACC untuk 1 tim saja, padahal jika saya melihat isi proposalnya dana yang kami ajukan tidak melebihi batasan pak?”
“Hhhaha kamu ini ya, saya fikir kamu akan membicarakn soal apa, hanya pertanyaan seperti inipun sampai datang langsung ke saya, saya salut dengan keberanianmu”
entah itu ledekan atau pujian yang dilontarkan kepala sekolah padaku
“begini sa, excul yang kamu ikuti-kan tidak sebesar excul-excul lainnya, dan nilai prestasinya untuk sekolahpun jauh jika dibanding yang lain, bapak sudah mendengar alasannya kenapa kamu ingin mengirim 2 tim untuk mengikuti perlombaan, tapi menurut bapak setiap angkatan itu punya masanya
Kepala sekolah mencoba menjelaskan, entah pandanganku benar atau salah, tapi menurutku kepala sekolah kami ini begitu perhitungan, lebih condong pada sesuatu yang telah besar, terlalu berpihak, mengejar pamor dan ambisi.
Dia akan mengabaikan hal-hal kecil yang menurut dia tidak menguntungkan, padahal seharusnya sikap kepala sekolah ialah mengayomi seluruh yg ada disekolah, memberi kesempatan dan memperlakukan sama tanpa membeda-bedakan
“mohon maaf pak, jika bapak berbicara nilai prestasi yang kami berikan untuk sekolah, apakah selama ini bapak sudah memberikan kesempatan kepada kami seperti bapak memberi kesempatan pada excul-excul yang sudah memberi pamor baik pada sekolah, saya rasa tidak, lalu kenapa bapak mengharapkan sesuatu yang lebih dari hal yang bapak perlakukan kurang”
Bu Ning mulai mengelus-elus tanganku, aku mengerti maksudnya untuk memperingatiku agar tidak tersulut emosi
“mohon maaf pak jika saya lancang, tapi dengan atau tanpa ijin bapak, dengan atau tanpa dana tambahan dari sekolah kami akan tetap mengirim 2 team pak, dan jika usaha kami berhasil membawa pulang juara umum dan memberi pamor baik untuk sekolah saya harap bapak bisa menepati janji bapak,
disaksikan oleh Ibu Ning dan anak kelas 1 ini saya harap bapak bisa memegang ucapan bapak, mungkin waktu saya tidak akan lama lagi pak, hanya tinggal 1 tahun, tapi adik-adik kelas saya, dan angkatan-angkatan setelahnya, mereka memiliki hak yang sama juga pak”
Kepala sekolah hanya diam, menyembunyikan ketegangannya dengan senyuman
“saya kesini hanya untuk memperjelas tentang itu pak, semoga kedepannya excul kami akan diperlakukan sama, terimakasih atas waktu yang sudah bapak luangkan, saya ijin pamit pak”
Aku mengakhiri kalimatku, dan menatap Ibu Ning
__ADS_1
“Bu saya dan adik-adik kembali ke sanggar”
“baik lah Ssa, nanti ibu menyusul kesana”
“baikbu kalau begitu saya permisi”
aku dan junior-juniorku berdiri berpamitan pada Ibu Ning dan Kepala sekolah dengan sedikit membungkukkan badan, dan berlalu keluar dari ruang kepala sekolah.
Saat berada dibalik pintu ruangan kepala sekolah langkahku terhenti sejenak
“ka Arsa kenapa?” tanya Liu saat aku menghentikan langkahku
“tidak apa-apa, kalian kembali ke sanggar duluan ya, nanti kaka menyusul”
aku meminta Liu dan Lan untuk kembali duluan, merekapun menuruti permintaanku lalu bergegas meninggalkanku didepan pintu ruang kepala sekolah
Akhirnya aku bisa menarik nafas dalam-dalam, dan membuangnya sesukaku, setelah semenjak tadi menahan rasa gugup yang coba aku sembunyikan
dari balik pintu terdengar Ibu Ning masih bercengkrama dengan Kepala Sekolah
“saya sebagai walinya Arsa memohon maaf apabila perkataan yang tadi disampaikan Arsa terlalu lancang, dan jika nanti anak-anak berhasil mewujudkan mimpinya saya juga berharap bapak bisa memegang ucapan yang telah bapak sampaikan didepan anak-anak tadi pak, untuk meredam beredarnya berita buruk, dan untuk menjaga nama baik bapak
sendiri, terimakasih atas waktunya pak, saya pamit”
"ohh tentu saja, silahkan kalian membuktikan, yang harus kamu tau tidak mudah membuat ikan untuk terbang, persiapkan saja mental anak-anakmu" kepala sekolah mengakhiri perkataannya
Ibu Ning berpamitan dan meninggalkan ruangan kepala sekolah
“Ssa kamu belum kembali?” ibu Ning tiba-tiba menghampiriku
“ini akan bu, haduhhh bu degdegan, tadi berlebihan ngga ya bu” aku mengeluh sambil tertawa
“hahhah kamu ini sa, tadi aja didalam so keliatan tangguh dan kuat, giliran uda selesai malah gemeteran kaya gitu” Ibu Ning balas meledekku
“heheh biar meyakinkan gitu bu”
“ahahha tapi ibu salut sama kamu sa, kamu berani untuk mengatakan hal benar secara langsung bahkan kepada kepala sekolah sekalipun”
“seperti yang ibu katakan tadi selagi itu baik dan disampaikan dengan cara yang baik, boleh-boleh saja heheh”
__ADS_1
Ibu Ning tersenyum dan mengajakku untuk kembali ke sanggar, kamipun berjalan menuju sanggar, menerobos keramaian yang masih berlangsung disekolah