Tentang Rindu

Tentang Rindu
Cerita Di Terminal


__ADS_3

Tiba-tiba saja ada bapak-bapak tua yang duduk di samping Sabrina dengan membawa kardus berlogo mie instan iru dan tas ransel kecil yang sudah lusuh di bawa nya, bapak itu terlihat gelisah dan seperti nya bingung, Sabrina pun berniat hati bertanya dan apakah butuh bantuan nya.


“Permisi Pak, Bapak mau kemana??”


“Ohh... saya mau pulang Mbak ke Lamongan, tapi saya kecopetan uang saya habis saya bingung ini”


Sabrina yang mendengar cerita bapak tua itu pun merasa kasihan dan ingin membantu nya, tapi ia berfikir bahwa uang nya pun tidak banyak, tabungan yang ia kumpul kan ingin di berikan kepada Mama nya saja, dan sisa uang yang dari Mama nya dulu juga ia gunakan seperlu nya saja karena Sabrina merasa akan butuh kedepan nya.


“Pak maaf, berapa ongkos ke lamongan??”


“Saya masih kuliah tidak punya uang banyak, tapi kalo ongkos nya gak lebih dari 50 ribu sayabisa bantu bapak”


Bapak tua itu melihat Sabrina dengan tatapan yang sulit di artikan, mungkin tidak enak hati juga untuk menerima bantuan dari Sabrina.


“Gak usah Mbak, gak papa saya nanti minta bantuan yang lain nya saja”


Sabrina yang merasa tidak enak hati pun mengeluarkan uang lima puluh ribu nya untuk di berikan kepada bapak tua itu


“Bapak terima uang ini yaa... anggap saja rezeki bapak dari saya, sisa nya bapak bisa beli buat makan, seadanya yaa pak, maaf tidak bisa bantu banyak”


“makasih loh Mbak mudah-mudahan Mbak nya di beri rezeki yang berlimpah dan umur yang panjang, Mbak nya baik sekali, di zaman sekarang jarang ada orang seperti Mbak nya!!”


"Sama-sama Pak"


Bapak tua itu pun terpaksa menerima uang dari Sabrina, karena terlihat ia sangat membutuh kan nya, dan Sabrina merasa sedikit tenang dan berfikir ternyata masih ada orang yang lebih susah dari nya, Sabrina bersyukur selama ini masih di beri makan yang sehat, masih bisa merasakan kenyaman nya di bandingkan orang-orang yang ia lihat sekarang bahkan masih di bawah nya untuk taraf hidup nya.


“Permisi Mbak, kalo boleh saya mau minta tolong, tapi kalo Mbak nya tidak keberatan yaa” Bapak tua itu berbicara dengan Sabrina seperti malu dan merasa segan.


“Apa yang bisa saya bantu pak, bapak bilang saja sebisa mungkin saya usahakan”


Bapak itu menyerahkan kertas bertuliskan nomor handphone seseorang


“Ini nomor telpon anak saya Mbak, saya tidak punya telepon untuk menghubungi anak saya supaya nanti menjemput saya di jalan raya, karena kampung saya jauh dari jalan raya mbak”


“Ohh.... mana pak nomor nya biar saya bantu telpon kan”


Sabrina pun mengambil kertas bertulisan angka itu, di pencet nya tombol angka sesuai tulisan di kertas dari handphone nya dan nada dering pun berbunyi


Drrrtttt.... Drrrttt.... Drrttt...


“Hallo”

__ADS_1


“Ini Pak sudah ada yang angkat”


Sabrina pun menyerah kan handphone milik nya pada Bapak tua itu yang langsung di ambil nya,


“Halloo... halloo....”


Bapak tua itu berbicara di telpon seakan-akan sulit dan tidak ada signal, lalu bapak tua itu berjalan sedikit menjauh dari Sabrian dan keramaian di sekitar nya.


“Sebentar yaa Mbak, saya titip tas dan barang saya”


Sabrina pun mengangguk kan kepala nya, ia di percaya untuk menjaga barang-barang milik bapak tua tadi, hingga 5 menit berlalu Sabrina masih dengan tenang menunggu nya , 10 menit berjalan, hingga15 menit berlalu, Sabrina berputar mencari keberadaan bapak tua tadi.


“Seperti nya sudah lewat 15 menit, kemana bapak tadi yaa??”


Sabrina pun mencari, yang awal nya hanya menoleh kekiri, kekanan dan kebelakang akhir nya ia berdiri mondar mandir di sekitaran kursi penunggu tapi tidak terlihat batang hidung dari bapak tua itu, hingga Sabrina kembali ke tempat awal merasa ada yang aneh, Sabrina pun berinisiatif mencari petugas terminal di pos yang dekat dengan kursi tunggu penumpang.


“Selamat siang pak, maaf mengganggu”


“Siang Mbak ada yang bisa saya bantu??”


“Begini pak tadi ada bapak tua yang kata nya kecopetan tidak punya uang, terus pinjam handphone saya untuk menghubungi keluarga nya agar di jemput di jalan raya, tadi saya kasih uang 50 ribu juga buat ongkos naik bus”


“Ini barang-barang nya di titipkan ke saya pak, tapi bapak nya sudah hampir setengah jam tidak kembali”


Petugas itu langsung mempersilahkan Sabrina untuk masuk ke dalam pos dan mengecek barang-barang yang di titipkan oleh Sabrina.


“Mbak lain kali hati-hati yaa, jangan mudah percaya dengan orang lain”


“Kalo di tas ini ada barang haram nya, seperti narkotika atau senjata tajam”


“Mbak bisa di tuduh dan bisa jadi Mbak nya jadi tersangka”


"Untung Mbak nya segera melapor!!"


“Astagfirullah pak, apa iya seperti itu??”


“Saya check dulu saja yaa barang-barang nya, saya panggil rekan saya sebagai saksi”


“Apa Mbak yakin jika sudah lama bapak nya meninggalkan tempat??”


“Iyaa pak sudah hampir 30an menit”

__ADS_1


Akhir nya petugas terminal yang memakai baju biru muda itu membuka barang-barang milik bapak tua yang di titip kan kepada Sabrina, bersama kedua rekan nya sebagai saksi petugas itu mulai membuka kotak dan tas bapak tua yang di tinggalkan.


“Apaaan ini??” petugas satu yang melihat isi dari tas


“Dan ini?? Hmm... seperti nya Mbak kena jebakan!!”


“Astaga.... ini bukan nya baju bekas pak??”


“Lebih tepat nya ini baju tidak layak pakai Mbak, di kardus dan tas ini semua nya sampah!!”


“Mbak tertipu oleh Bapak tadi!!”


“Astagfirullah... masih ada saja orang yang menipu seperti ini hiks hiks hiks handphone saya pak.....”


“Mbak harta benda apa yang di bawa oleh pencuri itu??”


“Saya hanya pinjemin handphone saya pak dan uang 50 ribu saja!!”


“Mbak tenang dulu yaa, saya akan melacak lewat cctv dan saya butuh saksi untuk pernyataan bahwa Mbak nya telah mengalami pencurian di terminal”


“jujur kami belum bisa mengganti barang yang telah hilang, tapi kami akan menulis identitas Mbak nya, dan nomor yang bisa di hubungi di kemudian waktu jika kami bisa mendapat kan pencuri itu.


Sabrina masih merasakan sesak di dada nya, ia tidak pernah berfikit bahwa bapak tua yang terlihat susah tadi adalah seorang pencuri dan penipu, bahkan handphone satu-satu nya milik nya penghubung Mama nya san Bastian pun lenyap begitu saja.


Sabrina mulai bingung apa yang harus di lakukan nya, meskipun petugas terminal sudah berusaha menenangkan nya, tapi Sabrina masih sedikit shock, ia tidak menyangka di saat ia mengalami kesulitan Tuhan masih menguji nya lagi.


"Rezeki itu luas, seluas baik sangka kita dan selalu bersyukur"


"Manusia laksana buku, ada yang sampul nya menipu kita dan ada pula yang isi nya mengagum kan kita"


"Dengan ujian besar, berarti Allah percaya bahwa kamu sanggup menjalani nya."


...***...


Haii Readers kesayangan, bantu Author dong butuh semangatt ini.


Banyak cerita yang sudah terfikirkan, hanya untuk mengetik kurang semangat


Pembaca mulai menurun, di tambah kesibukan realita yang menyita waktu 😔😔


Terus dukung Tentang Rindu yaa, jangan lupa Vote, Like dan tinggalkan ❤, boleh di beri kopi biar othor bisa bergadang untuk next update nyaa 😁

__ADS_1


Salam tayang


nonaAurora😉


__ADS_2